Universitas Islam Indonesia

Puasa Sebagai Momentum Memperbaiki Diri E-mail
Wednesday, 25 August 2010

ImageSudah sepantasnya kita selalu bersyukur atas rahmat dan hidayah-Nya dimana kita masih senantiasa diberikan nikmat sehat sehingga dapat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan ini. Hal tersebut disampaikan Rektor UII Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec mengawali acara buka bersama yang diselenggarakan unit Rektorat di lingkungan Universitas Islam Indonesia pada Selasa (24/8). Prof. Edy mengungkapkan, acara buka puasa bersama ini merupakan rutinitas yang sudah berlangsung sejak dahulu. Buka puasa bersama tahun ini sendiri merupakan wujud kesyukuran terhadap beberapa perkembangan membanggakan yang diraih UII seperti peningkatan pendaftar yang signifikan tahun 2010, peningkatan peringkat UII dalam versi webometrics, dan sertifikat ISO terhadap Laboraturium Terpadu UII yang dalam waktu dekat akan terwujud. “Semoga di masa yang akan dating, prestasi-prestasi ini dapat ditingkatkan”, ujarnya

Selain itu, Prof. Edy Suandi Hamid juga mengapresiasi kehadiran para pendahulu dalam penyelenggaraan berbagai acara. Menurutnya, kehadiran para sesepuh UII itu menandakan kedekatan UII dengan pendahulunya terjalin dengan baik. “Kami selalu mengharapkan nasehat dan masukan dari para pendahulu kita ini untuk kemajuan UII”, Prof. Edy menambahkan.

Acara yang berlangsung di RM Suharti Jl. Gedung kuning tersebut dihadiri sekitar 100 orang yang terdiri dari pimpinan universitas, pejabat struktural, serta para pegawai unit rektorat. Acara ini juga dihadiri ibu Zanzawi Soejoeti, dan mantan Rektor UII Prof.  Zaini Dahlan yang sekaligus bertindak sebagai pemberi tausiyah sebelum berbuka.

Dalam tausiahnya, Prof. Zaini Dahlan mengharapkan agar momentum puasa dapat dimanfaatkan oleh segenap sivitas akademika di UII. Mengutip pendapat Imam Ghazali, Prof. Zaini mengatakan bahwa bulan Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian. Sepuluh hari pertama disebut dengan Takhally; melepaskan diri dari sikap negative. Sepuluh hari kedua adalah Tahally yakni berias diri dengan sikap-sikap yang positif, dan sepuluh hari ketiga adalah Tajally yaitu memunculkan sifat-sifat ilahi dalam setiap tindakan seorang muslim. Menurut Prof. Zaini, sempurnanya pelaksanaan puasa dengan pemenuhan hal tersebut, akan mengantarkan seseorang itu maraih lailatul qadar. “Jadi untuk mendapat lailatul qodar, tidak dapat dilakukan dengan mencegatnya pada tanggal-tanggal ganjil setelah tanggal ke-20, melainkan harus dipupuk sejak hari pertama puasa”, katanya.

Ditambahkan Prof. Zaini, dengan puasa seseorang juga akan memperolieh kesehatan jasmani dan rohani dengan terciptanya fisik, akal dan batin yang sehat. “Manusia itu terdiri dari tiga hal, yaitu fisik, batin dan akal. Puasa mampu menyehatkan ketiganya sekaligus”, tambahnya.

Sebuah kesuksesan dapat diperoleh bila kita dapat menggandeng rekan yang lemah diantara kita, hal ini tercermin dimana pentingnya peranan bawahan dalam usaha mencapai prestasi dan kemajuan sebuah institusi. Maka dari itu kerjasama merupakan hal yang penting untuk senantisa dibina dan dipelihara. “karunia yang telah diperioleh agar dapat dimaksimalkan salah satunya dengan melestarilan dan meningkatkan kerjasama yang sudah baik”, ungkap beliau.

Prof Zaini Dahlan mengajak agar selalu meningkatkan iman dalam menjalankan rutinitas pekerjaan maupun dalam hal yang lain. Rasa syukur yang kita lakukan tidak hanya dengan sekedar berdo’a, akan tetapi bagaimna kita juga bisa menjalankannya melalui ikhtiar yang penuh dengan kesungguhan. Yang paling baik adalah bagaimana kita dapat memberikan manfaat untuk lingkungan sekitar kita. “Semoga dengan menjalankan hal itu kita menjadi kholifah di bumi ini” pungkas beliau.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map