| Rektor UII; Yogyakarta Sebagai Kota Pendidikan Mulai Luntur |
|
| Monday, 15 August 2011 | |
|
Lebih lanjut Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. menyampaikan, di Yogyakarta banyak lembaga pendidikan tinggi, sehingga banyak pilihan bagi masyarakat luar Yogyakarta untuk dapat memilih bila dibandingkan dengan beberapa wilayah Indonesia pada waktu lalu yang jumlahnya masih terbatas. Selain itu kualitas lembaga pendidikan di Yogyakarta juga dinilai diatas rata-rata dibandingkan daerah lainnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, Yogyakarta juga dinilai sangat welcome dengan para pelajar mahasiswa dari luar. Budaya Yogya dianggap baik, berbudi pekerti, sopan, tertib, dan penuh pergaulan baik. Dalam hal biaya hidup Yogyakarta juga dinilai relatif rendah bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Selain itu faktor penunjang lainnya adalah fasilitas belajar yang relatif mendukung, ”ada perpustakaan umum yang bisa dimanfaatkan oleh siapapun, demikian juga tempat-tempat belajar yang tenang” paparnya. Menyikapi penurunan ini, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. mengajak bersama-sama untuk dapat mencermatinya secara serius, karena menurutnya kota pendidikan yang disandang selama ini memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pembangunan dan masyarakat kota Yogyakarta. ”Bagi perekonomian Yogyakarta, belanja pendidikan masyarakat ikut secara signifikan menggerakkan perekonomian daerah ini. Oleh karena itu seluruh elemen masyarakat perlu mendukung upaya mengembalikan Yogyakarta sebagai kota pendidikan” tandasnya. Dalam kesempatan yang sama Prof. Suyanto, Ph.D. menyampaikan bawasannya karakter bangsa menjadi pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Fenomena keseharian menunjukkan perilaku masayarakat belum sejalan dengan karakter bangsa yang dijiwai oleh falsafah Pancasila, untuk itu selanjutnya dinilai perlu ada revitalisasi pembangunan karakter bangsa. Tujuan pembangunan karakter bangsa sendiri menurutnya adalah agar memiliki kemampuan dalam mewujudkan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam Pancasila. Adapun ruang lingkupnya meliputi keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, politik, pemerintah, dunia usaha dan media massa. Sedangkan pengembangan karakter bangsa, dapat dilakukan melalui konsep pendidikan yaitu olah hati, olah pikir olah raga serta olah rasa/karsa. |