| UII Kembali Namai Gedungnya Dengan Tokoh Nasional |
|
| Thursday, 18 August 2011 | |
|
Penetapan nama gedung-gedung di lingkungan UII, sebenarnya sudah dilakukan melalui Surat Keputusan pada September 2009 lalu. Dengan memberikan nama tokoh pada gedung-gedungnya, UII berharap bahwa sivitas akademik UII akan mengingat dengan baik untuk kemudian meneladani tokoh-tokoh yang telah mencurahkan jasanya. Selain itu, pemberian nama pada gedung di UII juga menunjukkan bahwa UII tidak pernah melupakan jasa-jasa para pendahulu yang dengan jerih payahnya telah memberikan yang terbaik bagi UII yang sampai hari ini menjadi perguruan tinggi nasional yang membanggakan, ungkap Rektor UII Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam sambutannya. Lebih lanjut Prof. Dr. Edy Suandi memaparkan, hingga saat ini sudah ada enam gedung di UII yang telah resmi dinamai dengan beberapa dari sekian nama para pendiri UII. Pertama, Gedung Auditorium UII dengan nama Gedung KH. Abdul Kahar Mudzakkir; kedua, Gedung Rektorat UII yang bernama Gedung GBPH Prabuningrat; ketiga, Gedung Kuliah Umum dengan nama Gedung Prof. Dr. Sardjito; keempat, Gedung Dr. Mohammad Natsir sebagai nama Gedung Fakultas TSP UII serta dua gedung lagi yang kita resmikan sore ini, yakni gedung gedung K.H. Mas Mansur dan gedung K.H. Wahid Hasyim. Menyinggung sejarah tokoh yang digunakan namanya Prof. Edy Suandi menyampaikan, K.H. Abdul Wahid dan K.H. Mas Mansur merupakan perwakilan dalam rapat Masjoemi yang diselenggarakan pada pada April 1945, yang salah satu tujuannya adalah pembentukan Panitia Perencana Pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI). Rapat yang melibatkan PBNU, PB Muhammadiyah, PB PUI, PB PUII, ulama, intelektual dan perwakilan Departemen Agama tersebut akhirnya menyepakati pembentukan panitia yang terdiri dari sembilan orang yang salah satu anggotanya adalah K.H. Abdul Wahid Hasyim. Panitia inilah yang kemudian melakukan pekerjaan teknis terkait pendirian STI sebagai cikal bakal UII. Selain itu peran dan posisi penting K.H. Wahid Hasyim juga dapat dirujuk pada saat pembukaan STI secara resmi di Kantor Imigrasi Pusat Gindangdia Jakarta pada 8 Juli 1945 atau 27 Rajab 1364 H. K.H. Abdul Wahid Hasyim memberikan sambutan pada kesempatan itu, setelah sambutan yang disampaikan Perdana Menteri Jepang P.J.M. Guiseikan; Kenkoku Gagkuinyitoo, Ika Daigakutyoo, K.H. Kahar Muzakkir, dan Ir. Soekarno. Sementara itu, setelah terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, K.H. Mas Mansur melakukan gebrakan politik dengan mendirikan Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) bersama Ahmad Dahlan dan K.H.Wahab Hasboellah (tokoh NU). Setelah itu K.H. K.H. Mas Mansur juga termasuk dari empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang terkenal dengan empat serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara. Dalam kesempatan yang sama Drs. Safarudin Alwi, MM. mengungkapkan, seperti filsafat mata air yang kecil dihulu dan besar dimuara, yang mana mata air terebut dapat dimakanai sebagai aspirasi dari para pendiri yang terus mengalir, aspirasi yang tidak pernah habis dan akan menjadi amal jariah bagi para pendiri UII. “Sepertia gagasan mulia yang diungkapkan salah satu tokoh pendiri UII M. Natsir, yang ingin UII dapat menghasilkan orang-orang yang cerdas, menjadikan UII sebagai sumber kepemimpinan umat dan bangsa,” tandasnya. Hal senada juga di ungkapkan Pengurus Yayasan Badan Wakaf Dr. Mustaqim, SH., penamaan gedung dengan tokoh nasional merupakan program yang sangat positif, dimana dengan mengabadikan nama para pendiri dapat memberikan inspirasi baik generasi sekarang maupun yang akan datang agar menjadi cendekiawan pemimpin bangsa. Diakhir acara peresmian nama gedung, Aisyah Baidowi mewakili keluarga menyampaikan, ayahnya K.H. Wahid Hasyim bercita-cita menjadikan pendidikan berjalan sesuai dengan tuntutan ajaran islam. Dengan ketekunan, kegigihan dan meneladani kebiasaan bersilaturahmi guna melahirkan kader muslim pemimpin umat di Indonesia. |