Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
UII Selenggarakan Shalat Idul Fitri 1432 H E-mail
Thursday, 08 September 2011

ImageSeperti halnya tahun-tahun sebelumnya, selepas berakhirnya bulan suci Ramadhan dan berganti bulan Syawal, Universitas Islam Indonesia (UII) kembali meyelenggarakan shalat Idul Fitri bersama di Masjid Ulil Albab Kampus Terpadu Jl. Kaliurang Sleman Yogyakarta. Perbedaan pendapat mengenai penetapan 1 syawal 1432 H nyatanya tidak menjadi persoalan bagi keluarga besar UII, terlihat bagaimana saling memaknai dan saling menghormatinya atas keyakinan masing-masing.

Sebagai universitas berlatar belakang islam yang didirikan oleh para foundhing father dari berbagai latar belakang faham, UII tentunya selalu mengedepankan ukhuwah islmiyah. Pelaksanaan shalat Idul Fitri dikomplek kampus UII-pun berlangsung dua kali, dan keduanya dapat dijalankan dengan baik tanpa hambatan. Kumandang takbir dan tahmid tetap membahana ditengah jamaah yang terdiri dari pimpinan UII, masyarakat sekitar kampus serta mahasiswa yang tidak mudik kekampung halamannya.

Wakil Rektor I UII Nandang Sutrisno, SH., LLM., M.Hum., Ph.D., yang bertindak sebagai khotib pada shalat Idul Fitri 1 Syawal 1432 H bertepatan dengan Selasa, 30 Agustus 2011, mengajak para jamaah untuk dapat melipat gandakan upaya guna melanjutkan karakter-karakter serta kebiasaan-kebiasaan baik yang terbentuk selama bulan Ramadhan. ”Kita harus dapat memaknai kemuliaan-kemuliaan di bulan Ramadhan untuk mentransformasikannya pada bulan-bulan berikutnya,” ungkapnya.

Idul Fitri adalah hari istimewa bagi umat Islam, karena merupakan hari simbol pengejawantahan rasa syukur kepada Allah SWT, atas kesempatan yang diberikan menjalankan ibadah puasa, qiyamul lail, tadarus, dan berbagai ibadah lainnya yang sangat sarat dengan berbagai fasilitas kenikmatan dan pahala yang tak terhingga nilainya.

Idul Fitri juga selayakknya dirayakan dengan kegembiraan sebagai sambutan kemenangan umat Islam dalam jihad melawan hawa nafsu. Selama sebulan, umat Islam berjuang melawan hawa nafsu untuk makan dan minum disiang hari, melawan hawa nafsu syahwat, dan nafsu-nafsu lain yang membawa kepada niat, perkataan dan perbuatan tercela.

Selain itu, Idul Fitri juga membawa harapan yang besar akan ampunan dari Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan, sehingga dikembalikan kepada fitrah kita, laksana bayi yang baru dilahirkan, suci, bersih dari dosa dan noda. Dengan demikian makna Idul Fitri tidak hanya sebatas kembali ke fitrah secara harfiah, yaitu kembali berbuka setelah menjalankan puasa, tetapi lebih memiliki makna yang lebih jauh.

Lenbih lanjut  Nandang Sutrisno, SH., LLM., M.Hum., Ph.D., menyampaikan dalam khutbahnya, berakhirnya Ramadhan dan datangnya Idul Fitri juga menimbulkan rasa sedih bahwa kehadiran Ramadhan terlalu cepat berlalu. Seandainya kita ibaratkan tamu, Ramadhan ini merupakan tamu yang sangat istimewa, terhormat dan pemurah. Datang setahun sekali dengan membawa berbagai kebajikan dan kebahagiaan, membawa kasih sayang dan ampunan Allah, tamu yang membimbing kita untuk lebih dekat dengan Allah dan sorganya.

Pasca Fitrah: Perjalanan Muslim  Dari Takbir ke Tasyakur

Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam UII, Drs. Sidik Tono, M.Hum. yang bertindak sebagai khotib pada shalat Idul Fitri 1 Syawal 1432 H, bertepatan dengan Rabu, 31 Agustus 2011, mengawali khutbahnya dengan mengajak jamaah untuk tetap membesarkan keagungan Allah dan bersyukur kepadaNya seusai menjalankan ibadah puasa ramadhan, yang mana kehidupan seorang muslim hakekatnya berjalan dari takbir ke tasyakur.

Lebih lanjut Drs. Sidik Tono, M.Hum., mengungkapakan, tasyakur pada hakekatnya terdiri dari tiga komponen, yakni ilmu, Hal dan Amal seperti disebutkan oleh Imam al-Ghazali. Ilmu menunjukkan kesadaran kita akan nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita. Kata Hal menggambarkan sikap kita akan nikmat Allah sementara Amal diwujudkan dalam seluruh anggota badan.

Dengan demikian tasyakur yang benar adalah memasukkan takbir dalam menggunakan nikmat-nikmat Allah. Menggunakan nikmat hidup untuk membesarkan nama Allah, menjunjung tinggi syari’atNya, menghidupkan kekuasaan, kekayaan dan pengetahuan untuk sebesar-besarnya dalam mewujudkan kehendak Allah di muka bumi ini.

Selain itu Drs. Sidik Tono, M.Hum., dalam kesempatannya mengajak para jamaah shalat Idul Fitri untuk dapat membagikan nikmat yang diperolehnya kepada orang lain. Makin banyak orang yang ikut merasakan nikmat yang diperoleh, makin bersyukurlah. Menjadi orang kaya yang paling bersyukur apabila kekayaan yang diperoleh juga dapat dinikmati oleh orang banyak. ”Kelebihan rizki yang diperoleh itu hendaknya sebagian diserahkan untuk menolong orang yang membutuhkan, meringankan penderitaan fakir miskin, serta menyantuni anak-anak yatim,” paparnya.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!