| Ust Fadhlan ‘Dai Sabun’ Beri Tausiyah di UII |
|
| Saturday, 28 April 2012 | |
|
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UII Nandang Sutrisno, SH, LLM, M.Hum, Ph.D. menyambut hangat kehadiran Ust. Fadlan di UII. Menurutnya, pengalaman Ustadz Fadhlan berdakwah di wilayah Papua tentunya akan memberikan banyak pencerahan bagi jamaah. “Keberadaan Ustadz Fadlan ini, membuktikan bahwa dakwah itu bisa dilakukan siapapun, di manapun, bahkan dalam kondisi dan situasi sesulit apapun. Semoga semangat dakwahnya dapat tertular kepada kita semua”harap Nandang. Berdakwah dengan Sabun Dalam taushiyahnya, ustadz yang bernama lengkap M. Zaaf Fadzlan Rabbani Al Garamatan ini banyak mengungkapkan pengalamannya saat berdakwah di wilayah Indonesia Timur, Papua. Keadaan masyarakat Papua di daerah pedalaman yang hidup dalam kondisi terbelakang secara tidak langsung menjadi tantangan tersendiri bagi Ustadz Garamatan dalam berdakwah. Dan model dakwah yang digunakan oleh Fadlan berbeda dengan rekan-rekannya. Apabila para ustad selama ini lebih banyak berdakwah dalam bentuk majelis taklim, Fadlan justru memilih menggunakan sabun dan shampoo untuk mengajak masyarakat Papua keluar dari keterbelakangan. Pihaknya sangat tidak setuju jika masyarakat Papua dibiarkan tidak berpendidikan, telanjang, mandi hanya tiga bulan sekali dengan lemak babi, dan tidur bersama babi. Baginya, perilaku tersebut merupakan penghinaan.”Sama saja dengan pembunuhan hak asasi manusia” tegasnya. Untuk itu, saat berdakwah pertama kali di lembah Waliem, Wamena, alumnus Universitas Hasanuddin Makassar di bidang ekonomi ini datang membawa konsep kebersihan sebagian dari iman. Fadlan memulainya dengan mengajarkan mandi besar kepada salah satu kepala suku. Ternyata ajaran itu disambut positif oleh sang kepala suku. ”Baginya mandi dengan air, lalu pakai sabun, dan dibilas lagi dengan air sangat nyaman dan wangi” jelasnya ringan. Selain itu, dirinya menyampaikan kenangannya saat memperkenalkan ibadah sholat bagi masyarakat Wamena. ”Di Irian itu, babi banyak berkeliaran layaknya mobil antri, sehingga untuk mendirikan sholat harus mendirikan panggung dulu. Saat kami melakukan sholat, orang-orang pedalaman langsung mengelilingi dan memperhatikan kami dengan seksama setiap gerakan. Selesai sholat, kami ditanya mengapa mengangkat tangan, mengapa menyium bumi, mengapa berucap – ucap, dan lain hal”terangnya. “Maka kami menjelaskan sedetailnya sesuai pemahaman mereka (masyarakat Wamena)”ujarnya Dakwah seperti ini yang dia gunakan. Mengajarkan kebersihan, dialog dengan apa yang mereka pahami, pergi ke hutan rimba, dan membuka informasi. Di setiap daerah yang dikunjungi, Ust.Fadlan selalu bersikap santun. Shalat di tengah-tengah komunitas `asing' tak pernah ia tinggalkan. Oleh karenanya, dengan dakwah yang sudah dijalankannya selama 19 tahun tersebut banyak orang Papua yang masuk Islam. Tercatat 45% warga asli memeluk agama Islam. Jika ditambah dengan para pendatang, maka pemeluk Islam sebanyak 65% dari seluruh jiwa yang ada di pulau burung tersebut. |