| Silaturahim Salah Satu Sendi Utama Budaya Bangsa |
|
| Monday, 20 August 2012 | |
|
Mengawali ceramahnya, Prof. H. Edy Suandi Hamid, menyinggung pentingnya memahami tujuan disyari’atkan puasa Ramadhan yang baru saja selesai dijalankan bersama oleh umat Islam, sebagai momentum memperbaiki dan meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan yang tentunya diharapkan juga dapat dilanjutkan pada bulan-bulan pasca bulan Ramadhan berlalu. “Seringkali kita salah memaknai tujuan tersebut, saat Ramadhan kita berlomba-lomba untuk melaksanakan ibadah dan menjauhi perbuatan yang dilarang Agama, namun setelah Ramadhan kita kembali malas beribadah dan melakukan perbuatan terlarang,” papar Prof. H. Edy Suandi Hamid. Prof. H. Edy Suandi Hamid, mencontohkan, tidak jarang pada bulan Ramadhan para pencoleng, penipu, koruptor, penzina, ataupun pembohong, akan berhenti atau berkurang melakukan perbuatan terlarang , namun sehabis bulan Ramadhan berlalu, kembali melakukan tindakan-tindakan yang diharamkan tersebut. Selain itu disampaikan Prof. H. Edy Suandi Hamid, dalam khutbahnya, bulan Ramadhan juga merupkan momentum meningkatkan hubungan silaturahim antar umat Islam. Silaturahim yang tidak saja memperhatikan batas keluarga dan kehidupan bertetangga sebagaimana banyak kita pahami, tetapi juga mencakup silaturahim dalam konteks bernegara. Selama Ramadhan kita melihat tercipta forum-forum yang mempertemukan antara kita dalam suasana rukun, suasana religius, seperti sholat isya/tharaweh berjamaah di masjid-masjid, buka bersama, ataupun forum kajian-kajian keagamaan, yang juga bermuara pada hubungan silaturahim antar umat Islam. Saat ini, silaturahim juga menjadi semakin urgen untuk kita lakukan mengingat di sejumlah wilayah di negara kita, semakin banyak terjadi gesekan sosial yang berujung kerusuhan dan tidak jarang membawa korban nyawa dan harta, seperti halnya anak-anak kita yang merupakan peserta didik, juga tidak jarang terlibat tawuran yang disebabkan masalah-masalah sepele, termasuk terjadi dalam bulan Ramadhan ini. “Hal ini tentu saja berseberangan dengan semangat bangsa yang terkenal memiliki jiwa persatuan seperti negara kita, dan juga bertentangan dengan semangat ukhuwah Islamiyah,” tegas Prof. H. Edy Suandi Hamid. Lebih lanjut disampaikan Prof. H. Edy Suandi Hamid, dalam khutbahnya, silaturahim dalam konteks bernegara juga sudah selayaknya menjadi bagian kehidupan politik kita. Silaturahim ini akan mengurangi ekses negatif dari keinginan untuk mendominasi yang kerap muncul antar elemen negara. Dalam beberapa waktu terakhir ini, misalnya, emosi kita terkuras karena Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kepolisian RI, dua lembaga penegakkan hukum, justru harus bersaing untuk menangani sebuah kasus. Padahal sinergi keduanya tentulah lebih baik dan urgen untuk dilakukan mengingat banyaknya kasus hukum yang membayangi kehidupan bernegara kita. “Ini pasti bisa diselesaikan dengan baik kalau diadakan suatu silaturahim dengan semangat menyesaikan masalah, memerangi penyakit koruptif, bukan hanya untuk menunjukkan ego kekuasaan lembaga,” papar Prof. H. Edy Suandi Hamid. Selain itu, silaturahim yang dilakukan selama bulan Syawal juga merupakan salah satu pendorong berjalannya roda perekonomian, terutama di daerah terpencil, lebih-lebih bagi daerah pelosok, yang kurang memiliki sumber daya alam. Penduduk dari wilayah tersebut banyak yang kemudian mengadu nasib di pusat-pusat perekonomian, untuk kemudian membawa hasilnya kembali ke kampung halaman dalam rangkaian Idul Fitri. Oleh karena itulah, Prof. H. Edy Suandi Hamid, berpesan dalam khutbahnnya, agar umat Islam dapat memaknai silaturahim sebagai salah satu sendi utama budaya bangsa. Menjadikan momen hari raya Idul Fitri, untuk meningkatkan semangat silaturahim dengan bersama membangun ukhuwah dengan saudara, keluarga, tetangga, masyarakat dan umat Islam seluruhnya, agar bangsa Indonesia semakin kokoh dalam menjaga persatuan, sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain di era yang semakin terbuka.
|