Universitas Islam Indonesia

Seminar Nasional Manajemen Sumber Daya Air E-mail
Monday, 10 August 2009

Gas Rumah Kaca Terus Meningkat, Banjir dan Kekeringan Diperkirakan Meningkat

Komposisi kimiawi dari atmosfer mengalami perubahan sejalan dengan penambahan gas rumah kaca (GRK). GRK adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca, suatu efek yang menimbulkan pemanasan suhu bumi secara global. GRK ini berasal dari sumber alami ataupun karena aktifitas manusia seperti dari emisi gas buang dari bahan bakar fosil (BBM dari transportasi dan industri), peternakan, penggundulan hutan, dan sebagainya.

ImagePengukuran GRK antara tahun 2004 – 2007  di Bukit Kototabang Sumatra Barat atas kerjasama antara BMG dan NOAA mencatat bahwa  konsentrasi CO2, N2O, dan SF2 cenderung mengalami peningkatan yang serius. Data ini ternyata memiliki kemiripan dengan data global yang diamati oleh IPCC.  Menurut analisa BMG, kalau kecenderungan kenaikan konsentrasi GRK seperti sekarang ini, maka suhu muka bumi akan naik antara 1,50– 4,50 C pada tahun 2030.

Data tersebut disampaikan oleh Drs. Suhatno, SE, Kepala Bidang Data dan Informasi BMG Jakarta dalam acara Seminar Nasional Manajemen Sumber Daya Air Partisipatif Guna Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim Global, Sabtu 8 Agustus 2009 yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM), Pusat Studi Lingkungan (PSL), dan Jurusan Teknik Lingkungan UII bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak Departemen Pekerjaan Umum.  Seminar ini mengadirkan Keynote Speaker Menteri Pekerjaan Umum dan Gubernur Provinsi DIY.  Seminar ini juga menghadirkan pembicara Utama Drs. Idham Samawi (Bupati Bantul); Drs. Suhatno (BMG); Dr.-Ing. Ir. Widodo Brontowiyono, MSc (Kepala PSL UII); dan dari Perum Jasa Tirta Malang.

Dalam presentasinya Widodo menjelaskan bahwa kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi tersebut harus disikapi secara serius khususnya pada sisi pengelolaan sumber daya air. Widodo yang juga dosen Jurusan Teknik Lingkungan UII tersebut menjelaskan adanya trend penurunan kualitas air sungai dan air tanah di Yogyakarta yang berhubungan dengan kepadatan penduduk. Semakin padat penduduk di suatu wilayah, maka semakin rendah kualitas air sungai dan air tanahnya. Selanjutnya Widodo juga menjelaskan bahwa ada gejala degradasi sumber daya air yang serius di perkotaan Yogyakarta. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut dikaitkan dengan adanya ancaman kenaikan suhu bumi, Widodo mengusulkan beberapa skenario antara lain adalah memanen air hujan semaksimal mungkin sehingga kehawatiran adanya musim kering yang panjang bisa dikompensasi oleh cadangan air hujan yang dipanen ini. Pemanenan air hujan juga akan mengurangi resiko banjir di musim penghujan, karena banjir dan kekeringan ini sangat erat kaitannya dengan kenaikan suhu muka bumi ini. Selanjutnya dikatakan bahwa Indonesia perlu mereformasi peraturan yang selama ini cenderung exploitatif. Sekitar 60% PERDA di Indonesia cenderung merusak lingkungan. Hal ini perlu direformasi agar lebih pro-lingkungan.

Bantul Terus Menggenjot Kualitas SDM

Idham Samawi menjelaskan bahwa Kabupaten Bantul telah melakukan berbagai  kebijakan guna meningkatkan kesejahteraan warga dan petani di Bantul yang masih banyak tergantung dari pertanian yang berarti sangat tergantung pada ketersediaan air untuk irigasi. Visi yang dicanangkan Bupati Bantul adalah mengurangi ketergantungan Bantul dari sektor pertanian walau sektor ini ini terus dibangun.

ImageMasyarakat Bantul harus lebih cerdas, sehat dan sejahtera. Hal ini sangat berperan dalam mengantisipasi segala kemungkinan buruk akibat pemanasan global. Tidak sedikit guru di Bantul kini sudah bergelar Master dan bahkan ada yang sedang mengambil S3, sesuatu yang membanggakan. Bahkan dijelaskan bahwa kondisi pendidikan guru di Bantul termasuk terbaik di tingkat nasional. Namun demikian, peningkatan kualitas SDM Bantul tidak hanya tergantung dari kualitas pendidikan guru saja, tetapi juga tergantung dari tingkat kualitas siswa. Untuk mengenjot kualitas siswa, maka Bupati Bantul mencanangkan perbaikan gizi siswa dan kesehatan ibu mengandung. ”Insya Allah, dengan meningkatnya pendidikan warga Bantul, maka kondisi kulaitas lingkungan termasuk sumberdaya air di Bantul akan lebih baik,” Idham menjelaskan.

Menuju Manajemen Sumberdaya Air Berbudaya

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa semakin mengemuka konflik antar kelompok masyarakat bahkan antar wilayah atau negara yang disebabkan oleh semakin tidak seimbangnya antara permintaan dan ketersediaan sumber daya air akhir-akhir ini. Guna mengantisipasi kondisi lingkungan dan sumberdaya air yang terasa semakin kurang baik tsb maka Gubernur DIY mengingatkan pada kita agar dalam kita mengelola lingkungan ini kembali ke falsafah dasar para sesepuh kita, yakni Hamemayu Hayuning Bawono.  Ada 3 pokok pikiran dalam konsepsi tersebut yakni, pertama Rahayuning bawono kapurba saka waskitaning manungsa (kelestarian bumi termasuk sumberdaya air ditentukan oleh kearifan manusianya), kedua Darmaning satria mahanani rahayuning negara (Pengabdian para pengelola kebijakan akan menjadi dasar sejahteranya negara dan rakyat), dan ketiga Rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane (kesejahteraan umat manusia ditentukan oelh sifat kemanusiaannya).




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!