| Rektor UII Terpilih Sebagai Ketua BKS-PTIS Baru |
|
| Sunday, 13 December 2009 | |
|
Selain itu, dalam rangka melanjutkan estafet organisasi, hari terakhir Munas ini juga ditandai dengan pemilihan Ketua baru BKS-PTIS. Pemilihan ketua ini diadakan setelah ketua lama memberikan laporan pertanggungjawaban atas kinerja satu periode kepengurusan BKS-PTIS sebelumnya. Secara aklamasi, Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec terpilih sebagai ketua baru BKS-PTIS menggantikan Prof. Dr. E. Saefullah Wiradipradja, SH., LLM, yang menjabat sebelumnya. Prof. Saefullah yang pertama naik ke mimbar, menyambut bahagia atas terselenggaranya acara musyawarah ini dan diakhiri dengan terpilihnya ketua baru sebagai penggantinya. Ia mengungkapkan harapannya agar PTIS ke depan dapat lebih baik dari waktu sebelumnya ketika ia menjabat. Sementara ketua terpilih, Prof. Edy Suandi Hamid yang tampil kemudian mengungkapkan pujiannya atas kinerja BKS PTIS pada periode sebelumnya. “Kepengurusan sebelumnya sudah sangat bagus dan patut kita beri apresiasi’, katanya. Namun begitu, sebagaimana yang diungkapkan Prof. Saefullah, Prof Edy juga bertekad akan lebih mengembangkan organisasi ini untuk kemajuan PTIS ke depan. Menurutnya, PTIS memiliki potensi yang besar untuk ikut berperan dalam mencerdaskan bangsa dan ikut berperan dalam memberikan kontrol terhadap penyelenggaan negara. Ungkapan ini ditandaskan Prof. Edy menandai pengeluaran pernyataan sikap BKS PTIS atas beberapa persoalan nasional yang masih menjadi berita hangat hingga saat ini. Konferensi Pers langsung digelar sesaat setelah Musyawarah Nasional X BKS PTIS resmi ditutup. Ini merupakan salah satu wujud komitmen anggota BKS PTIS yang sempat tercetus ketika musyawarah berlangsung untuk ikut berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Ketua Baru BKS-PTIS, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid mengemukakan pernyataan sikap di depan belasan wartawan media massa, didampingi Ketua Dewan Pembina BKS-PTIS (Prof. Saefullah), Prof. Muhajir Effendi (dari Universitas Muhammadiyah Malang), Ir. Sutarno, M.Sc. (Wakil Rektor III UII dan Ketua Panitia), dan Prof. Jurnalis (salah seorang pendiri BKS-PTIS). Dalam lembaran pernyataan sikap BKS-PTIS itu, tercantum sembilan pernyataan sikap yang dibagi menjadi dua bagian. Pernyataan sikap terkait persoalan yang berskala nasional dipaparkan dalam bagian umum dengan jumlah empat poin. Sementara lima lainnya terkait dengan kondisi PTIS sendiri yang masuk dalam kategori khusus dengan jumlah lima poin. Empat poin pertama yang berkaitan langsung dengan persoalan nasional adalah berkaitan dengan praktik korupsi di Indonesia, tuntutan terhadap demokrasi substantif di parlemen, respon cepat terhadap informasi oleh pejabat negara, dan tindaklanjut atas penyelesaian kasus Bank Century. “Ini merupakan langkah konkrit dari BKS-PTIS untuk memberikan dorongan dan desakan kepada pihak-pihak terkait untuk menanggapi persoalan-persoalan yang sedang melanda negeri ini. Sebagai Perguruan Tinggi Islam, langkah semacam kami pahami bernilai jihad”, ungkap Prof. Edy sebelum mengupas lebih jauh mengenai persoalan-persoalan ini. Adapun pernyataan sikap BKS-PTIS terkait PTIS sendiri, lima poin yang dikemukakan antara lain terkait dengan Ujian Nasional, desakan terhadap pemerintah untuk memperhatikan PTS, penyetaraan PTN dan PTS, UU BHP, dan mendesak Kopertais dalam memaksimalkan peran PTIS. Dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia, kelima poin ini dianggap krusial oleh perwakilan BKS-PTIS ini untuk secepatnya ditanggapi oleh pihak terkait. Oleh karenanya, untuk mendukung pernyataan sikap ini, Prof. Edy menyatakan akan secepatnya mengefektifkan kepengurusan baru pada periodenya ini. |