Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. mewisuda 735 lulusan doktor, magister, sarjana dan diploma, pada upacara wisuda UII periode III TA 2018/2019, di Auditorium Prof. Dr. Abdulkahar Mudzakir, Kampus Terpadu UII, Sabtu (26/1). Terdiri dari 13 ahli madia, 674 sarjana, 47 magister, dan 1 doktor. Sampai saat ini, UII telah meluluskan lebih dari 95.571 alumni.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi pada jenjang magister diraih Toni Hartadi dari Program Studi (Prodi) Magister Akuntansi, lulus dengan IPK 3,92. Sementara pada jenjang sarjana berhasil diraih Nafilatur Rohmah, dari Prodi Ekonomi Islam dengan IPK 3,96. Sedangkan pada jenjang diploma, IPK tertinggi 3,77, diraih Muhammad Indra Septiaji dari Prodi Diploma Tiga Analisis Kimia

Di hadapan wisudawan, Fathul Wahid menegaskan bahwa perkuliahan di perguruan tinggi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan studi. Dalam pandangan Islam, belajar adalah misi sepanjang hayat, selama nyawa masih melekat, selama nafas belum tersendat, tidak ada garis finis dalam belajar.

“Meskipun sudah lulus satu tahapan pendidikan, pada program doktor sekalipun, ilmu yang kita dapatkan masih sangat sedikit. Manusia tidak diberi ilmu oleh Allah, melainkan hanya sedikit (QS 17:85), sedangkan ilmu Allah tidak bertepi, tak berbatas,” tuturnya.

Fathul Wahid berpesan untuk terus belajar, yakni dengan lebih sering membaca, piknik, dan diskusi. Membaca adalah ikhtiar membuka jendela dunia. Dengan membaca bisa menyelami beragam pemikiran, memperluas perspektif, memperkaya inspirasi, dan memperjauh horizon.

“Dengan membaca, bisa ‘lompat pagar’ dan memahami orang lain dengan logika dan argumen yang dikembangkannya. Membaca di sini tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga pada fenomena alam dan social,” imbuhnya.

Menurut Fathul Wahid, banyak hikmah yang bisa dipetik ketika rajin melakukan piknik. Piknik juga merupakan upaya ‘membaca’ ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda keagungan Allah yang menempel di alam semesta. Sementara diskusi adalah ikhtiar lain dalam belajar. Kemampuan pemahaman dan jangkauan bacaan kita terbatas.

“Diskusi akan memantik banyak hal yang selama ini sudah mapan diyakini. Diskusi juga akan membawa perspektif baru yang mungkin belum diakses sebelumnya. Diskusi akan membangun komunitas pembelajaran,” jelasnya.

Disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA., lulusan perguruan tinggi sampai saat ini belum mendominasi SDM di Indonesia. Dimana keberadaannya masih sekitar 15 persen, selebihnya SDM yang ada merupakan lulusan SD sampai SMA.

Selain itu dalam sambutannya, Bambang Supriyadi berharap lulusan perguruan tinggi berani mendukung kebenaran, dan berprilaku kebenaran. Disampaikan, indeks presepsi korupsi Indonesia masih di angka 37. Ia membandingkan dengan Newzealand, yang indeks presepsi korupsinya sudah cukup baik. Hal ini menurutnya juga didukung oleh kualitas lulusan dari perguruan tinggi.

Sementara disampaikan wakil alumni UII, Iqbal Himawan, S.E., untuk mewujudkan mimpi, dibutuhkan komitmen dan konsistensi. Di sisi lain, konsistensi pada satu bidang bisa membuat kita terjebak dalam rutinitas dan Comfort Zone. “Jangan pernah takut dengan tantangan-tantangan baru, dengan resiko yang juga berbeda-beda. Resiko inilah yang akan membuat kita selalu terpacu dan terhindar dari titik jenuh,” tuturnya.

Iqbal Himawan menambahkan, memasuki era industri 4.0 akan ada peralihan teknologi dari tenaga manusia ke robot, dimana empati yang akan membedakannya. “Saat bekerja dalam sebuah team besar, saat harus menjadi leader dan mengambil keputusan yang menyangkut nasib orang banyak dibutuhkan Empati,” ujar Iqbal Himawan yang merupakan anchor di PT. Media Televisi Indonesia.