Pemimpin Harus Memahami Konteks

Hari ini, kita seluruh sivitas akademika Univeristas Islam Indonesia bersyukur karena satu lagi tahapan pengisian pemegang amanah di lingkungan UII telah berjalan dengan lancar. Kita telah menyaksikan pelantikan dan serah-terima pemegang amanah Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan UII.

Seperti halnya dalam pemilihan Rektor dan Wakil Rektor, prinsip bahwa jabatan adalah amanah juga berlaku. Para dekan yang tadi dilantik tidak pernah mencalonkan diri, tetapi diajukan untuk dipilih karena memenuhi syarat yang telah ditetapkan.

Ketika memberikan kata sambutan perdana sebagai Rektor, saya mengingatkan diri pribadi dan kepada seluruh Wakil Rektor selaku kolega saya untuk bersama-sama memandang jabatan sebagai sebuah kemuliaan yang ditakdirkan Allah untuk dirawat. Bahwa jabatan bukan berkah, tetapi amanah. Bahwa jabatan bukan fasilitas, tetapi pengabdian ikhlas. Bahwa jabatan bukan untuk dilayani, tetapi untuk memberi. Maka pesan yang sama ini pun kembali saya sampaikan kepada seluruh Dekan dan Wakil Dekan yang dilantik pagi tadi.

Seorang pemimpin haruslah memahami konteks dan mengenali warga organisasi yang ia pimpin, karena mereka telah menggantungkan harapannya dan menitipkan masa depannya kepada pemimpin.

Pesan Sahabat Ali bin Abi Thalib karramahu wajhah kepada pejabatnya, yang terekam dalam Kitab Nahjuh Balaghah (Alur Kafasihan), bisa kita jadikan cermin dalam bersikap. Sahabat Ali berpesan:

“Mohonlah pertolongan Allah dalam segala urusan yang memerlukan keprihatinanmu. Campurkan ketegasan dengan kelembutan. Bersikap lembutlah, jika kelunakan lebih memadai, dan bersikap tegaslah ketika diperlukan. Rendahkan sayapmu bagi rakyatmu. Cerahkan wajahmu di hadapan mereka. Lembutkan sikapmu untuk mereka. Jangan membeda-bedakan perlakukan di antara mereka, baik dalam perhatian, tatapan, isyarat maupun ucapan salam; sehingga dengan orang-orang penting tidak mengharapkan penyelewenganmu demi kepentingan mereka, dan rakyat kecil pun tidak berputus asa akan keadilanmu dalam memperhatikan nasib mereka.”

Tidak jarang, masalah muncul karena gagal mengenali ‘budaya setempat, budaya fakultas, atau budaya UII’. Kisah gagalnya Bill Gates, pembesut Microsoft, ketika berkunjung pertama kali ke Tiongkok untuk membangun kerjasama, dapat dijadikan pelajaran. Bill Gates menggunakan gaya Amerika ketika bekunjung ke Tingkok, pada saat itu.

Pada 21 Maret 1994, Bill datang ke Tingkok seorang diri. Penjemputnya di bandara, Jia-Bin Duh, kepala kantor Microsoft berharap menemui Bill dalam balutan jas lengkap. Yang ditemukannya, adalah Bill Gates dengan celana jeans dan tas punggung lengkap dengan komputer di dalamnya. Tidak ada koper. Jeans juga yang dikenakannya ketika bertemu dengan Jiang Zemin. Pertemuan berlangsung sangat singkat. Juru bicara kepresidenan bertutur kepada media, bahwa Presiden mengatakan bahwa Bill Gates harus mempelajari budaya Tiongkok dengan lebih baik. Ungkapan halus untuk sebuah fakta bahwa Presiden merasa tersinggung.

Moral yang kita dapat adalah, Bill Gates, tidak memahami seni membangun hubungan ala Tiongkok, quanxi.

Pada kunjungan keduanya 18 September 1995, Bill Gates datang bersama 10 orang tanpa membocorkannya ke media. Presiden Jiang Zemin pun menyambut baik, ketika Bill Gates dengan fasih mengenali konteks lokal dan memahami budaya Tiongkok dengan lebih baik.

Dalam ajaran Islam, Rasulullah saw. pernah mengatakan bahwa kita diminta mengenali dengan siapa kita berinteraksi, gunakan bahasa yang mudah mereka pahami. Jika tidak, jangan kaget jika ketidakpahamannya dapat mengandung fitnah. Dalam sebuah hadits, yang kalau kita artikan dengan terjemahan bebas, Rasulullah saw. berpesan, “informasi yang kamu sampaikan ke orang yang akalnya tidak dapat menjangkaunya dapat menjadi fitnah bagi sebagiannya”.

Moral ajaran ini dapat kita terapkan, tidak hanya untuk menjalin hubungan dengan yang kita pimpin, tetapi juga untuk memahami ‘generasi milenial’ yang dipercayakan kepada kita. Kita harus mendampinginya untuk siap menjadi warga global.

Tantangan ke depan tidaklah ringan. Perubahan lingkungan yang sangat cepat, perkembangan aplikasi teknologi informasi yang pesat, hadirnya generasi milenial dengan keunikan sifat, memberikan stimulus kepada kita untuk meresponsnya dengan tepat. Tanpanya, bisa jadi yang lain melesat dan kita terlewat.

Dalam konteks UII, seluruh pemimpin, baik di tingkat universitas, fakultas, jurusan, maupun program studi, harus mampu bekerjasama produktif, mengumpulkan energi positif, dan mengorkestrasi ikhtiar kolektif untuk kemajuan UII ke depan: UII yang menghasilkan lulusan berkualitas dan memberikan dampak untuk lingkungannya.

Jika terjadi hubungan yang ‘menghangat’, saya yakin, sangat mungkin karena hanya karena pilihan strategi yang berbeda. Sampai detik ini saya masih percaya, diskusi sehat dan adu argumen bernas adalah ruh perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan. Tanpanya, perguruan tinggi akan kehilangan sukma. Karenanya, ketika ada kondisi yang ‘menghangat’, maka pemimpin perlu membuka hati dan pikirannya untuk mencari solusi disepakati.

Pemimpin yang memahami konteks tentu akan memahami tugasnya. Insya Allah, jika semua yang dihadapi dianggap sebagai tugas, maka Allah memudahkan dirinya untuk menunaikan tugas dengan tuntas. Pemimpin perlu meninggalkan jejak baik. Kata Allah Swt.:

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Attaubah 9:105).

Semoga Allah Swt. selalu meridai dan memudahkan langkah seluruh pemimpin dalam menjalankan amanah yang dibebankan kepadanya dalam melayani umat. Amin.