UII Menjadi Tuan Rumah Living Lab Train-the-Trainers Programme untuk Memperkuat Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi tuan rumah Living Lab Train-the-Trainers Programme yang diselenggarakan pada Jumat dan Sabtu (25–26/9), di Ruang Sidang Datar, Gedung Kuliah Umum (GKU), Kampus Terpadu UII, Yogyakarta. Kegiatan ini mempertemukan perwakilan perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat pemahaman dan kapasitas dalam mengembangkan serta menjalankan pendekatan Living Lab.
Program ini merupakan kolaborasi antara NL Knowledge House (NLKH) dan UII. Berdasarkan rancangan kegiatan, program Train-the-Trainers dikembangkan untuk mendukung program Living Lab di Indonesia, khususnya melalui peningkatan kapasitas para calon pelatih yang nantinya dapat menyebarluaskan metode tersebut di berbagai perguruan tinggi. Program ini juga dikembangkan bersama para ahli dari Indonesia dan Belanda serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Living Lab sendiri merupakan pendekatan kolaboratif yang mempertemukan pemilik masalah di tingkat lokal, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor lainnya untuk mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Pendekatan tersebut menekankan kerja sama dalam skala kecil dan praktik langsung di lingkungan nyata.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi forum penting untuk memperkuat keterhubungan antara penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pendidikan, dan berbagai aktivitas akademik lainnya.
“Jangan sampai kegiatan penelitian itu nanti jalan sendiri dengan pengabdian. Kemudian pendidikan ini dirancang sendiri sehingga nanti tidak sinkron,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan Living Lab dapat menjadi salah satu cara untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diteruskan hingga tahap hilirisasi dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Harapannya bukan hanya memikirkan koin dan poin, tetapi bagaimana nilai-nilai hasil riset kita, hasil pengabdian kita itu benar-benar nanti bisa terealisasikan dan bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat,” jelasnya.
Prof. Eko juga menyampaikan bahwa UII sebagai perguruan tinggi memiliki komitmen untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan visi UII sebagai perguruan tinggi yang rahmatan lil ‘alamin.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh peserta dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Dalam sambutannya, perwakilan NLKH Din Wahid, M.A., Ph.D., menyebut terdapat delapan perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, di antaranya Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Hasanuddin, IPB University, dan UII sebagai tuan rumah.
Din menjelaskan, NLKH merupakan platform jejaring yang mempertemukan institusi pengetahuan dari Indonesia dan Belanda untuk membangun kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, serta penyelesaian berbagai tantangan sosial. Saat ini, NLKH memiliki anggota dari sejumlah perguruan tinggi dan institusi di Indonesia dan Belanda.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah anggota, tetapi terutama pada kualitas program yang dapat memberikan manfaat bagi institusi yang terlibat.
“Kita ingin ini bermanfaat bagi kita, bukan sekadar bagi mereka, tapi juga bermanfaat bagi kita,” ungkapnya.
Sementara itu, dalam sesi materi mengenai IPB Bestari Saintek sebagai proposal peraih pendanaan Living Lab, Dr. Eko Purnomo menjelaskan bahwa salah satu kata kunci utama dalam pendekatan Living Lab adalah co-creation atau penciptaan bersama. Menurutnya, pengembangan inovasi tidak cukup dilakukan hanya oleh peneliti, tetapi perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang akan menggunakan atau merasakan manfaat dari inovasi tersebut.
“Di Living Lab itu sebenarnya adalah memberikan ruang kolaborasi antara peneliti dengan stakeholder yang lainnya,” jelasnya.
Ia menjelaskan, Living Lab merupakan ekosistem inovasi terbuka yang mengintegrasikan penelitian, pengembangan, serta pengujian solusi inovatif dalam lingkungan kehidupan nyata. Proses tersebut melibatkan pengguna, masyarakat, akademisi, industri, dan pemerintah untuk memahami kebutuhan serta menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Selain co-creation, Dr. Eko menekankan pentingnya proses iterasi. Menurutnya, sebuah inovasi tidak selalu dapat langsung diterapkan dalam skala luas setelah dikembangkan di laboratorium. Pengujian di lapangan diperlukan untuk mengetahui kebutuhan penyesuaian berdasarkan kondisi nyata.
“Pada saat akan diimplementasikan pasti perlu adjustment,” katanya.
Dr. Eko juga menekankan karakteristik lain, seperti user centricity, real-world experiment, iterative innovation process, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Dengan demikian, inovasi tidak hanya dikembangkan berdasarkan perspektif peneliti, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan pengguna dan pihak-pihak lain yang terlibat.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Muzayyin Nazaruddin, yang juga berperan sebagai reviewer proposal Living Lab. Ia mengingatkan peserta agar pengembangan Living Lab benar-benar berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar menyesuaikan masalah dengan ketersediaan pendanaan.
“Apakah masalahnya, apakah proposalnya berangkat dari masalah nyata atau tidak?” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan Living Lab perlu melibatkan multi-stakeholder participation, co-creation, dan multi-method approach. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan karena persoalan yang hendak diselesaikan umumnya memiliki kompleksitas dan tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja.
Ia juga menjelaskan sejumlah prinsip metodologi Living Lab, yaitu continuity, openness, realism, empowerment, dan flexibility. Prinsip continuity, misalnya, menekankan pentingnya keberlanjutan program setelah pendanaan berakhir. Sementara itu, empowerment menempatkan masyarakat atau komunitas sebagai salah satu aktor penting dalam proses inovasi.
“Yang terpenting adalah masyarakat atau komunitas menjadi aktor inovasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Muzayyin menjelaskan bahwa proses Living Lab dapat dimulai dari pemetaan kondisi awal dan masalah, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi, eksperimen, evaluasi, perbaikan, dan siklus berikutnya. Proses tersebut memungkinkan solusi untuk terus disesuaikan berdasarkan temuan di lapangan.
Program Living Lab Train-the-Trainers di UII menjadi pelaksanaan awal sebelum program Living Lab yang didanai oleh pemerintah dijalankan. Kegiatan ini juga memberikan perhatian khusus pada aspek pengembangan masyarakat dan dampak sosial, dengan mendorong integrasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi dengan lokakarya metodologi Living Lab dan diskusi praktis, sedangkan hari kedua dilanjutkan dengan kunjungan lapangan.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep Living Lab, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengembangkan dan menjalankan pendekatan tersebut sesuai konteks persoalan di wilayah masing-masing. Inisiatif ini ditujukan terutama bagi delegasi perguruan tinggi yang berasal dari unit penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dengan keterwakilan bidang sains dan teknologi serta ilmu sosial dan humaniora.
Dengan mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan, pendekatan Living Lab diarahkan untuk memperkuat hubungan antara pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi dan persoalan nyata di masyarakat. Bagi UII, penyelenggaraan program ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong agar penelitian dan pengabdian tidak berhenti sebagai kegiatan akademik, tetapi dapat menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. (MFPS/AHR/RS)






