UII Perkuat Kompetensi AI Tenaga Kependidikan Melalui Workshop Belajar IT
Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat kompetensi digital tenaga kependidikan melalui Workshop Belajar IT (BIT) yang disusun secara berjenjang, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (19/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII merupakan inisiatif dari Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) dan Badan Sistem Informasi (BSI) UII. Program tersebut menjadi bagian dari upaya UII mendukung transformasi digital sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Dalam sambutannya, Direktur Sumber Daya Manusia, Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psikolog pimpinan UII menyampaikan bahwa pembelajaran AI telah mulai diperkenalkan sejak 2024 dan kini dikembangkan melalui kurikulum yang lebih terstruktur. “Dengan semakin masifnya pemanfaatan kecerdasan imitasi, kami melihat tampaknya di UII perlu dilakukan penyusunan kurikulum yang lebih baik,” ujar Ike.
Menurutnya, pemanfaatan AI dapat membantu menyederhanakan berbagai pekerjaan administratif sehingga tenaga kependidikan dapat bekerja lebih efektif dan memiliki lebih banyak waktu untuk berinovasi. “Hari ini ada cukup banyak pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu sangat lama, tetapi sekarang bisa menjadi lebih simpel dan lebih cepat dikerjakan,” katanya.
Selain meningkatkan produktivitas, pelatihan ini juga bertujuan memperkuat kompetensi teknologi informasi lintas generasi agar tercipta proses kerja yang lebih harmonis. “Kita tidak bisa lagi tidak melengkapi diri kita dengan kompetensi IT,” tegasnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai pengenalan AI dan pemanfaatannya untuk menunjang pekerjaan sehari-hari yang disampaikan oleh staff BSI UII, Reyhandri Muhammad Naufal, S.Kom. Dalam sesi tersebut, Reyhandri tidak hanya menjelaskan manfaat AI dalam meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga mengingatkan peserta mengenai risiko penyalahgunaan teknologi tersebut yang dapat menimbulkan dampak serius.
“Oleh sebab itu, AI memang sifatnya membantu pekerjaan, tetapi perlu diperiksa dan divalidasi kembali, jangan sampai kita langsung percaya, jangan langsung copy paste tanpa diperiksa. Kita tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan kita,” ungkap Reyhandri.
Setelah sesi pemaparan materi para peserta diwajibkan untuk melaksanakan praktik dengan contoh kasus yang sudah disiapkan oleh pemateri. Peserta juga mendapat penugasan sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk mengukur pemahaman serta kemampuan dalam menerapkan AI pada pekerjaan sehari-hari.
Melalui program ini, UII berharap seluruh tenaga kependidikan mampu memanfaatkan AI secara optimal dan bijak untuk mendukung peningkatan kualitas kinerja, pelayanan, inovasi di lingkungan kampus. (AHR/RS)





