,

Cerdas Kelola Sampah Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka

Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (FTSP UII) menyelenggarakan Grand Launching Magister Teknik Lingkungan. Acara yang mengangkat tema “Imaji Pengelolaan Lingkungan Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka” ini diadakan pada Rabu (23/11) di Gedung Kuliah Umum Prof. dr. Sardjito, kampus terpadu UII. Beberapa pemateri yang hadir di antaranya Prof. Dr-Ing. Ir. Widodo Brontowiyono, M.Sc.  (Teknik Lingkungan UII), Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.Es., Ph.D. (Teknik Lingkungan ITS), dan Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri (Teknik Lingkungan ITB). Acara ini juga turut dihadiri oleh Ketua Jurusan Teknik Lingkungan (JSTL) UII Dr. Eng. Awaluddin Nurmiyanto, S.T., M.Eng. dan Dekan FTSP UII Dr-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI.

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan/Rumah Gagasan UII, Dr. Raden Bagus Fajriya Hakim, S.Si., M.Si. dalam sambutannya menggarisbawahi manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam semesta. Sehingga segala perbuatan yang menyebabkan kerusakan di bumi merupakan tindakan yang dilarang. 

Selanjutnya, Raden Bagus menyatakan bahwa dengan dibukanya program Magister Teknik Lingkungan UII ini merupakan bentuk pengembangan universitas yang substantif melalui ikhtiar untuk menjalankan catur dharma. “Untuk itu kami mewakili para pimpinan universitas mengucapkan selamat kepada Teknik Lingkungan UII yang telah ikut berkontribusi dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyediaan tenaga profesional yang kompeten di bidang pengelolaan lingkungan melalui pembukaan program Magister Teknik Lingkungan UII,” ucapnya.

Sementara itu, Prof. Endri Damanhuri menyebutkan di Indonesia infrastruktur persampahan kerap kali belum menjadi prioritas pemerintah dalam perencanaan wilayah dan kota. Bahkan, terkadang infrastruktur persampahan ini dianggap bukan menjadi tanggung jawab pemerintah. 

Diprediksi pada tahun 2050 sampah di Indonesia akan meningkat dari 2 juta ton menjadi 3,4 juta ton. Hal ini akan menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang sampah terbesar yang mencapai angka 23% di dunia. Jika melihat pada negara maju, peningkatan jumlah sampah yang disebabkan oleh masifnya kegiatan industri dilakukan dengan menerapkan pelayanan sampah diutamakan sampai 100% dan berlaku untuk semua wilayah di negara tersebut. 

Berbeda dengan Indonesia, pelayanan sampah hanya dapat dilakukan di beberapa daerah tertentu, sehingga beberapa pengelolaan sampah di daerah lainnya tidak dapat terurus dengan baik. Lebih dari itu, pelayanan lebih diutamakan dari pada pengurangan sampah. 

Hal ini menurutnya bukan hal yang tepat, karena seharusnya pelayanan dan pengurangan sampah dilakukan secara seimbang. Sebab apabila pelayanan lebih diutamakan dari pada pengurangan, bukan tidak mungkin pengurangan sampah tidak dapat mencapai targetnya dengan baik dan tenaga pelayanan sampah akan mengalami kesulitan mengatasi persoalan sampah yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Berkaca pada Korea Selatan, pengelolaan sampah diterapkan dengan biaya yang cukup mahal. Hal ini diawali dengan kebijakan pemerintah yang menerapkan harga untuk setiap kantong plastik yang digunakan saat belanja, sehingga semakin besar kantong yang digunakan maka akan semakin mahal juga harga yang harus dibayarkan. Angka penggunaan plastik belanjaan pun menurun drastis. 

Lebih dari itu, Korea Selatan juga menerapkan sistem daur ulang pada tempat sampah yang disediakan di rumah masing-masing warga. Sistem ini menggunakan mesin daur ulang berbayar. Sehingga semakin banyak sampah yang dihasilkan dari suatu rumah maka akan semakin mahal biaya pengelolaan yang harus dilakukan. 

Korea Selatan terus melakukan pengurangan sampah, dan bahkan melakukan upaya daur ulang seperti pengeringan sampah secara konvensional untuk mengurangi biaya pengelolaan sampah. Hasilnya, kebijakan ini berjalan efektif untuk menekan angka sampah di Korea Selatan dan pemerintah dapat dengan mudah melakukan pengelolaan sampah di negaranya. Inilah yang menurut Prof. Endri Damanhuri dapat mulai menjadi bahan percontohan bagi masyarakat Indonesia untuk dapat melakukan pengurangan sampah. (EDN/ESP)