• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Tantangan Jurnalis di Masa Pandemi
Berita Kegiatan, Covid19

Tantangan Jurnalis di Masa Pandemi

Merebaknya kasus Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi setiap jurnalis dalam menjalankan aktivitas. Pasalnya banyak hal yang tak terduga bisa muncul di tengah medan peliputan. Tidak jarang, situasi ini memaksa jurnalis untuk bermanuver demi mengejar tuntutan deadline. Topik ini mengemuka pada sesi webinar bertajuk Peliputan Media di Masa Pandemi yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), pada Rabu (13/5)

“Tantangan meliput berita bencana adalah dari aspek logistik dan aspek psikologis peliput”, ujar Yulia Supadmo, Pemimpin Redaksi RTV mengawali paparannya. Yulia menyampaikan bahwa tidak banyak yang bisa diharapkan pada aspek logistik pada saat peliputan bencana, seperti saat tsunami Aceh 2004 lalu, melihat kurangnya akses internet pada saat itu.

Bahkan menurut Yulia Supadmo, untuk sampai ke lokasi peliputan saja sudah luar biasa. Banyaknya korban yang ditemui di tenda pengungsian juga menjadi tantangan tersendiri bagi peliput untuk tetap fokus pada peliputan dan tidak terlarut dalam suasana.

Isfan Harun, jurnalis Metro TV, menanggap perlunya seorang jurnalis untuk pandai membaca angle berita sehingga berita yang hadir tidak hanya mengapitalisasi kesedihan korban. “Tidak hanya itu, jurnalis juga perlu mengutip institusi terkait dalam menyampaikan kabar terkini,” ungkap Isfan.

Sejumlah tantangan lain yang kerap muncul bagi jurnalis adalah dalam meliput terorisme atau lokasi rawan konflik. Medan ini tak jarang membahayakan nyawa peliput dan mengundang persekusi kelompok tertentu.

“Tantangan meliput berita terorisme adalah sulitnya menggali informasi. Ini juga menuntut fleksibilitas jurnalis dalam proses peliputan agar tidak menghalangi kerja Densus 88,” tutur Yulia.

“Untuk persekusi, dulu sempat ada beberapa wartawan wanita yang dalam proses peliputan mengalami itu. Pertama masih digoda-goda, namun semakin lama semakin abusive. Untung pada saat itu langsung diamankan pihak berwajib dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Tapi setelah Saya tanya, mereka justru ingin kembali untuk meliput lagi,” jelas Yulia.

Berbeda dengan Isfan, alumni Ilmu Komunikasi UII ini berpendapat perlunya membaca kondisi, terutama pada lokasi rawan atau persekusi massa. “Tentu tidak ada peliputan yang seharga nyawa,” imbuhnya.

Pada masa pandemi Covid-19, Standar Operasional Prosedur (SOP) peliputan juga mengalami perubahan, baik dari komposisi berita dan teknisnya yang mengutamakan kesehatan kru wartawan. “Karena sekarang Work from Home, wartawan tidak harus datang ke kantor. Jatah penempatan juga lebih fleksibel karena teman-teman jurnalis di Indonesia bekerja sama, jadi berita bisa dibagi tanpa kredit,” tutur Yulia.

Ia juga menyampaikan bahwa kalaupun harus ke kantor, ada prosedur yang harus dilalui. “Sebelum masuk, sudah disiapkan tempat untuk wartawan mandi dan berganti baju. Setelah itu membersihkan peralatan seperti kamera dan mikrofon,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Irfan juga mengaku sebelum peliputan pun wartawan dibekali dengan sejumlah peralatan seperti handsanitizer, masker, dan vitamin. “Bahkan yang dulunya wartawan bisa berebut untuk mendapat door stop untuk mewawancarai narasumber, sekarang kita bisa lebih berkompromi untuk menjaga jarak dan membagi jatah liputan karena saling memahami kondisi,” ungkap Isfan.

Namun tuntutan sebagai jurnalis tetap mengharuskan Isfan dan rekan-rekan berjaga di pos tertentu seperti wisma atlet, sejumlah rumah sakit, ataupun istana Presiden untuk siaga dengan kabar terbaru pandemi ini.

“Lalu bagaimana cara menghindari isu Covid-19 agar tidak ditunggangi kepentingan kelompok tertentu?” tanya Narayana Mahendra P, S.Sos., M.A., dosen Ilmu Komunikasi UII selaku moderator. Yulia menanggapi bahwa yang menjadi perhatian pada krisis saat ini adalah isu kesehatan, maka narasumber dengan latar belakang politik tidak perlu dikejar, kecuali mereka adalah regulator di daerah tertentu dalam menangani kasus Covid-19.

Sebagai jurnalis, proses verifikasi berita menjadi krusial dalam menghadirkan berita yang faktual dan menangkal hoax. “Mengingat masyarakat Indonesia sangat ‘hore’ dengan berita yang tersebar di media sosial tanpa sumber yang jelas. “Verifikasi sebenarnya tidak melulu harus dilakukan secara fisik. Karena sekarang kondisinya begini, verifikasi bahkan bisa dilakukan secara daring, melalui whatsApp, telepon dan lainnya,” ujar Yulia.

Pandemi dan regulasi baru adalah pembelajaran besar bagi jurnalis untuk bisa mengolah dan membuat berita yang optimal terlepas dari tantangan teknis yang tidak biasa. Yulia dan Isfan sebagai jurnalis merefleksikan bahwa wabah global ini mengetuk jurnalis Indonesia untuk mengeratkan koordinasi dan kompromi yang berujung pada keutamaan keselamatan para pekerjanya.

Tidak hanya tenaga medis, jurnalis juga adalah elemen yang berada pada garda depan dalam mengabarkan berita aktual juga faktual kepada masyarakat dengan cara yang tidak biasa di tengah pandemi Covid-19. Cara-cara yang tidak biasa ini pada akhirnya mereformulasi apa yang dianggap jurnalistik sebagai new normal di masa mendatang. (IG/RS)

14 Mei 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Kampus-UII-5.jpg 412 598 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII.png humas2020-05-14 16:16:432020-05-14 16:16:43Tantangan Jurnalis di Masa Pandemi

Berita Terakhir

  • UII Terima Kunjungan Universitas Pertahanan RI
  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax
  • UII Hadirkan Light Show di Stasiun Tugu Yogyakarta, Perkenalkan Kampus Melalui Pertunjukan Visual
  • UKM TQFI UII Resmi Buka Grand Final International Quranic Festival 2026
  • DPKA UII Gelar Career Class: Hadirkan Pakar BUMN Bahas Peta Jalan Karier Mahasiswa

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Kuasai Tiga Kemampuan Kunci dengan TRIZ Link to: Kuasai Tiga Kemampuan Kunci dengan TRIZ Kuasai Tiga Kemampuan Kunci dengan TRIZPentingnya Menjaga Sport Performance Link to: Keutamaan Salam Dalam Islam Link to: Keutamaan Salam Dalam Islam Keutamaan Salam Dalam Islam Scroll to top Scroll to top Scroll to top