• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Kekuatan Cendekiawan
Pojok Rektor

Kekuatan Cendekiawan

Publik menggantungkan harapan tinggi kepada para cendekiawan untuk kebaikan bangsa ini. Ketika gagasan bernas untuk penyelesaian beragam masalah riil tidak mungkin, tak jarang, para cendekiawan akhirnya menjadi sasaran kritik.

Sejarah mencatat, cendekiawan selalu hadir di dalam lingkaran utama dan menjadi penggerak, bersama dengan aktor-aktor lain, pada setiap perubahan besar yang terjadi di Indonesia. Mari sejenak kita refleksikan fenomena ini.

Cendekiawan mempunyai posisi penting karena beragam kekuatan yang disandangnya. Berikut tiga di antaranya.

 

Kekuatan moral

Cendekiawan diharapkan dapat mengawal jalannya bangsa dan negara ini sesuai dengan cita-cita luhur dan konstitusi. Cendekiawan sudah seharusnya sensitif terhadap masalah yang muncul.

Karenanya, cendekiawan harus meniup peluit ketika bangsa atau negara terpleset atau tidak berjalan sesuai dengan seharusnya. Tiupan peluit harus dilantangkan, tetapi tetap dengan santun, elegan, dan konstitusional.

Dengan kekuatan ini, sudah seharusnya independensi cendekiawan menjadi terjaga dan tidak bisa terbeli. Jangan sampai cendekiawan tidak membela yang benar, tetapi justru membela yang membayar.  Juga, jangan sampai, cendekiawan dianggap sebagai tukang stempel beragam kebijakan yang tuna sensitivitas terhadap masalah rakyat atau pelestarian alam.

 

Kekuatan gagasan

Selama sebuah bangsa dan negara masih berlangsung, masalah dipastikan menjadi bagian yang inheren. Ada dinamika di sana.

Di sini, cendekiawan harus berperan memberikan kontribusi pemikiran yang jujur dan obyektif. Pemikiran ini harus melampaui kepentingan sesaat, apalagi sesat, karena ada anasir jahat yang menyertai, termasuk kepentingan lain yang menjadikan kepentingan bangsa dan negara menjadi nomor sekian.

Kerja sama lintas disiplin pun menjadi niscaya, ketika masalahnya multidimensi yang tidak bisa diteropong hanya dengan satu lensa. Sekat-sekat imajiner kaku disiplin harus dibongkar. Kosa kata baru harus diperkenalkan, yaitu kepentingan bangsa.

Dari perspektif dimensi temporal, sudah seharusnya cendekiawan tidak hanya bersifat responsif terhadap masalah-masalah mutakhir, tetapi juga proaktif untuk menawarkan gagasan yang melampaui zamannya. Yang pertama cenderung bersifat reaktir sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masa kini, yang kedua merupakan kreativitas pemikiran untuk mendesain masa depan secara kolektif.

 

Kekuatan perekat

Cendekiawan dengan ilmu dan objektivitas yang dimiliki dapat menjadi jembatan penghubung, tali pengikat, keragaman yang ada. Ini fakta sosial. Sejak berdirinya, Indonesia ditenun dari keragaman.

Persatuan yang dibutuhkan tidak lantas menghapuskan fakta sosial tersebut. Saling menghormati dalam kehidupan berbangsa menjadi sangat penting. Ketika bangsa mengidap sindrom keterbelahan, cendekiawan seharusnya hadir menjadi perekat.

Karenanya, di dalam Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) sendiri, kesamaan cita-cita harus dikedepankan, dan perbedaan yang tidak penting harus dikesampingkan. ICMI harus kembali menjelma menjadi rumah besar beragam pemikiran kebangsaan.

Daftar kekuatan ini, tentu, dapat diperpanjang, karena refleksi kolektif sangat mungkin menghasilkan tilikan-tilikan baru. Kita buka ruang itu seluas-luasnya.

Elaborasi ringan dari poin-poin sambutan tuan rumah pada Sarasehan Kebangsaaan dan Pelantikan ICMI Orwil DI Yogyakarta di Universitas Islam Indonesia, pada 23 Mei 2022.

3 Juni 2022
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/06/lampu.jpg 1333 2000 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022022-06-03 08:15:032022-06-07 20:17:58Kekuatan Cendekiawan

Berita Terakhir

  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • BP Inauguration 2026: Momen Selebrasi dan Transformasi Mahasiswa Bridging Program UII
  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Neoliberalisme Perguruan Tinggi Link to: Neoliberalisme Perguruan Tinggi Neoliberalisme Perguruan Tinggi Link to: Mahasiswa FK UII Borong Piala Pada PTBMMKI Cup 2022 Link to: Mahasiswa FK UII Borong Piala Pada PTBMMKI Cup 2022 Mahasiswa FK UII Borong Piala Pada PTBMMKI Cup 2022 Scroll to top Scroll to top Scroll to top