Kolaborasi PPAr UII dan Pemkot Yogyakarta Bangun Rumah Layak Huni di Kampung Lampion

Program Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai mitra Pemerintah Kota Yogyakarta dalam pembangunan kawasan layak huni di Kota Yogyakarta menghadiri peresmian Pembangunan Baru Rumah Terdampak Penataan Konsolidasi Lahan Pemukiman pada Senin (09/02) di Kampung Lampion RT. 18 RW 04, Terban, Kota Yogyakarta.

Kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion di Kelurahan Kotabaru merupakan salah satu wilayah strategis yang terletak di pusat Kota Yogyakarta yang berada dibantaran Sungai Code. Lokasi ini menjadi fokus perhatian karena menghadapi sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan kondisi permukiman, potensi bencana, serta tantangan dalam penyediaan infrastruktur dasar.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kotabaru, Drs. Soegiarto melaporkan bahwa pembangunan kawasan bantaran sungai Code ini dilakukan dengan skema swakelola yang mengedepankan transparansi dan pengawasan.

“Dalam penataan kawasan bantaran sungai tahap pertama tahun 2025 terbangun 10 rumah yaitu enam rumah melalui mekanisme APBD dan 4 rumah lagi melalui mekanisme CSR SPARC-SPEAK yang difasilitasi jejaring UII,” jelas Soegiarto.

Skema swakelola dipilih agar proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dapat berjalan maksimal sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat. Program ini disambut positif oleh masyarakat karena pemangku kepentingan dinilai mampu mewujudkan hunian yang sehat dan aman.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Prof. Prof. Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI.dalam sambutannya menegaskan keterlibatan perguruan perguruan tinggi dalam program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat sekaligus pembelajaran langsung bagi mahasiswa.

Prof. Ilya menjelaskan bahwa dukungan yang hadir bukan sekadar tanggung jawab sosial kampus, melainkan hibah dari jejaring filantropi internasional SPARC SPEAK. “UII dengan jejaring yang dimiliki mendapatkan hibah dari yayasan internasional yang fokus pada peningkatan kualitas rumah dan permukiman,” jelasnya

Menurutnya, kawasan tersebut menjadi living laboratory bagi mahasiswa lintas disiplin. “Lokasi seperti kampung ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk bekerja langsung bersama masyarakat,” katanya

Ia menambahkan, hibah yang diberikan berfungsi sebagai katalis agar muncul inisiatif lokal serta kolaborasi berkelanjutan antara warga, pemerintah, dan perguruan tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menilai program penataan permukiman di bantaran sungai tidak hanya berdampak pada kualitas hunian, tetapi juga berpotensi memperkuat daya tarik kawasan berbasis kearifan lokal.

Ia menyampaikan bahwa pembangunan rumah layak merupakan bagian dari upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor. “Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup warga,” ujarnya

Ia juga melihat kawasan bantaran yang telah ditata berpotensi dikembangkan sebagai kampung wisata. “Dengan penataan dan keterlibatan warga, kawasan bantaran sungai bisa menjadi destinasi yang menonjolkan kearifan lokal,” tambahnya

Penataan kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion Kelurahan Kotabaru merupakan wujud nyata dari komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengurangi kawasan kumuh sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pendekatan yang menyeluruh dan kolaboratif, kegiatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga merefleksikan semangat global untuk mewujudkan hunian yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, seperti Universitas Islam Indonesia dan SPARC India, memperkuat pelaksanaan kegiatan melalui sinergi yang saling melengkapi. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan sebuah model penanganan permukiman kumuh yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan kota serta pelestarian lingkungan, khususnya di bantaran sungai. (AHR/RS)