,

Buktikan Kualitas Global, Dosen UII Ditunjuk sebagai Juri Ajang Debat Internasional di Oman

Kualitas akademik Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mendapat pengakuan di panggung dunia. Salah satu dosen dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Saiful Aziz, S.H., M.H., berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan ditunjuk sebagai juri internasional dalam ajang bergengsi The 3rd Asian Arabic Debating Championship. Kompetisi ini diselenggarakan di Muscat, Oman, pada 27 Oktober hingga 1 November 2025.

Kejuaraan yang diselenggarakan atas kerja sama QatarDebate (Member of Qatar Foundation), Kementerian Kebudayaan dan Olahraga Oman, dan Oman Debate Center ini merupakan salah satu kompetisi debat Bahasa Arab paling prestisius di Asia. Ajang ini diikuti oleh puluhan universitas terkemuka dari berbagai negara, termasuk Qatar University, Damascus University, Kuwait University, Al-Quds University, dan International Islamic University of Malaysia.

Penunjukan Saiful Aziz sebagai juri didasarkan pada rekam jejak dan keahliannya yang mumpuni. Ia berpengalaman menjadi juri di ajang International Universities Debating Championship (IUDC) di Qatar pada 2019. Rekam jejak Aziz sebagai debater sudah tidak diragukan lagi. Saat masih menjadi mahasiswa UII, ia dikenal sebagai The Best Arabic Debater pada masanya dan telah berhasil mengoleksi total 60 prestasi di tingkat nasional dan internasional.

Penunjukan ini menjadi istimewa karena Aziz merupakan satu dari lima juri internasional yang tidak berasal dari negara Arab (non-native speaker). Ia bersanding dengan sesama akademisi non-Arab lain, yakni para dosen yang mewakili International Islamic University of Indonesia (Indonesia), International Islamic University of Malaysia (Malaysia), Jamia Tur Rasyid (Pakistan), dan Sabeelul Hidaya Islamic College (India). “Kepercayaan ini adalah sebuah kehormatan besar, tidak hanya untuk saya, tetapi juga untuk UII dan Indonesia. Ini membuktikan bahwa kualitas kita diakui secara global,” ujar Aziz.

Penunjukan ini juga selaras dengan keberhasilannya membina tim debat mahasiswa UII, yang belum lama ini sukses meraih Juara 1 Tingkat Nasional dan predikat The Best Arabic Debater di ajang MTQ Mahasiswa Nasional (MTQMN) 2025.

Aziz menjelaskan bahwa kompetisi ini berlangsung sangat ketat. Agenda dimulai pada 28 Oktober 2025 dengan upacara pembukaan dan technical meeting untuk pembekalan juri, dilanjutkan dengan lima babak penyisihan selama dua hari. Babak perempat final dan semi final digelar pada 30 Oktober, dan ditutup dengan babak grand final pada 1 November 2025.

Ia juga memaparkan bahwa ajang ini menggunakan Bahasa Arab Fusha sebagai bahasa utama (80%), dan Bahasa Inggris (20%) sebagai bahasa pendukung untuk peserta non-Arab. Menjadi juri non-Arab di kompetisi penutur asli memiliki tantangan tersendiri. Aziz menceritakan salah satu hambatannya adalah ketika peserta menggunakan dialek ‘Amiyah (bahasa pasaran) alih-alih Fusha (bahasa resmi).

“Saat peserta mulai menggunakan ‘Amiyah, saya sedikit kesulitan mencerna argumen. Solusinya, saya proaktif berdiskusi dengan panelis juri lain yang native speaker sebelum finalisasi skor untuk memastikan keadilan,” paparnya.

Terkait dukungan logistik, Aziz menjelaskan bahwa panitia penyelenggara berfokus pada pembiayaan akomodasi dan transportasi lokal selama di Oman. Untuk itu, ia sangat mengapresiasi langkah proaktif dan dukungan penuh yang diberikan oleh Universitas Islam Indonesia untuk memfasilitasi perjalanan internasionalnya.

“Alhamdulillah, UII memberikan dukungan penuh untuk biaya transportasi dan akomodasi tambahan yang diperlukan, sehingga saya dapat menjalankan amanah ini dengan optimal,” tutupnya. (SA/AHR/RS)