• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam dari Perspektif HAM Islam
Berita Kegiatan

Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam dari Perspektif HAM Islam

Peran Pemuda

Melihat dari data jumlah penghasilan perusahaan kelapa sawit di dunia, Indonesia merupakan negara yang memiliki peruhasaan kelapa sawit cukup dominan dengan penghasilan yang cukup besar. Hal ini sebagaimana dalam data yang dipaparkan Direktur PUSHAM UII Eko Riyadi, S.H., M.H. dalam webinar dengan tema “Disekulibrium Relasi Manusia dengan Alam, Bagaimana Perlindungan Pengelolaannya Perspektif HAM Islam” yang diselenggarakan Takmir Masjid FH UII pada Senin (29/3).

Topik tersebut sangat berkaitan dengan adanya kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia setiap tahun, yakni terkait dengan perluasan lahan kelapa sawit. Selain itu, perusahaan-perusahaan ini juga didukung oleh bank-bank ternama, yang mana direksi-direksinya juga merupakan tokoh-tokoh poltik yang sangat dekat dengan masyarakat. Selain perusahaan kelapa sawit, ada juga perusahaan pertanahan.

Eko Riyadi mengatakan kaitan antara perusakan alam dan bagaimana kemudian manusia memandang alam berawal dari adanya ajaran kapitalisme, yang pada waktu itu orang-orang menyebutnya dengan renaissance. Kapitalisme pada awalnya adalah spirit agama dari Kristen Protestan. Dalam bukunya Max Weber yang berjudul “Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme”.

Weber mengatakan bahwa salah satu spirit yang membuat orang Protestan maju adalah karena mereka didorong oleh keyakinan agamanya bahwa kehidupan seseorang di akhirat itu tergantung pada kehidupannya di dunia, jika kehidupan di dunia nya baik, maka kehidupanya di akhiratnya akan baik juga, begitupun sebaliknya. “Itulah etika protestan yang dianut oleh orang protestan pada waktu itu, sehingga mayoritas orang Protestan lebih maju dibandingkan dengan orang Katholik,” ujar Eko Riyadi.

Adapun, seiring berkembangnya zaman, etika protestan ini cenderung hanya difokuskan pada aspek ekonominya saja. Inilah yang kemudian membuat manusia meletakkan alam sebagai objek yang bisa dikuasai dan diolah sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil riset dari Komnas HAM tentang masyarakat adat dari Aceh sampai Papua yang terusir dari tanahnya sendiri yang kemudian tanah-tanah tersebut dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang disokong oleh negara.

Selain itu, adanya kasus kemenyan di Medan, mete di Papua, pembangunan leuser di Jambi dan Riau juga menggambarkan bahwa alam semesta dianggap sebagai hal atau objek yang dapat digunakan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan manusia. “Bahkan di undang-undang sendiri pun dijelaskan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang mengatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” papar Eko Riyadi.

Selain itu, terkait hubungannya dengan ekuilibrium (keseimbangan) sangat dipengaruhi oleh paradigma perekonomian suatu negara, contohnya Indonesia yang menganut ideologi Pancasila, namun dalam perekonomian Indonesia cenderung dekat dengan ideologi kapitalisme dan liberalisme. Meskipun begitu, masih ada negara-negara lain yang tetap mengusahakan ekuilibrium, seperti Swedia, Denmark, Norwegia, dll.

“Contohnya, di Swedia ada kebijakan terkait setiap bayi yang baru lahir di sebuah rumah sakit, maka data bayi tersebut akan langsung dikrimkan ke lembaga, kalo di Indonesia disebut Dukcapil untuk dibuatkan surat keterangan seperti akta kelahiran. Kemudian setelah itu bayi tersebut dibuatkan akun bank untuk diberikan biaya atau subsidi dari pemerintah. Begitulah salah satu cara mereka menjaga ekuilibrium itu,” ucap Eko Riyadi.

“Melihat pada fenomena sosial di Indonesia saat ini, orang-orang masih sangat sibuk mempersoalkan hal-hal yang sangat umum, sedangkan negara lain sudah jauh melangkah untuk melakukan penelitian mutakhir dengan pergi ke bulan misalnya. Dengan ini, sudah saatnya generasi Indonesia memikirkan hal-hal yang lebih penting seperti bagaimana cara menjaga ekuilibrium dan alam semesta untuk kesejahteraan manusia.

“Terkait nilai-nilai ajaran Islam bukan hanya diukur dari berapa banyak orang Islam di suatu negara, melainkan diukur dari bagaimana suatu negara menerapkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan bernegaranya,” tandas Eko Riyadi menutup webinar. (EDN/RS)

30 Maret 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/04/fh-tamsis-uii.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-03-30 16:20:152021-08-12 14:51:17Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam dari Perspektif HAM Islam

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Memulai Investasi Sejak Dini Link to: Memulai Investasi Sejak Dini Memulai Investasi Sejak Dini Link to: Keluarga Besar UII Mendapat Vaksin Covid-19 Link to: Keluarga Besar UII Mendapat Vaksin Covid-19 Keluarga Besar UII Mendapat Vaksin Covid-19 Scroll to top Scroll to top Scroll to top