Menjaga Jejak Lestari, UII Perkuat Komitmen Keberlanjutan
Universitas Islam Indonesia (UII) menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan institusi melalui penguatan nilai keislaman, kebangsaan, dan kepemimpinan moral di tengah dinamika perubahan global dalam peringatan Milad ke-83 yang diselenggarakan pada Senin (19/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdulkahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII.
Mengusung tema “Harmoni untuk Jejak Lestari”, pesan ini menegaskan keberlanjutan hanya mungkin lahir dari harmoni, dan harmoni menemukan maknanya ketika ia menjelma menjadi jejak yang menjaga kehidupan. Sekaligus, menjadi ajakan untuk bergerak maju tanpa memutus akar, berinovasi tanpa merusak nilai, dan mewariskan institusi dalam keadaan lebih baik kepada generasi berikutnya.
Dalam Rapat Terbuka Senat Milad ke-83 UII ini, Rektor UII, Fathul Wahid mengungkapkan rasa syukurnya, hingga saat ini UII masih terus tumbuh dan berkembang tidak hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga bermanfaat bagi seluruh masyarakat. “Semuanya tidak mungkin tanpa ridho Allah Swt yang diiringi oleh kontribusi para pendahulu dan juga kerja kita yang saat ini mendapat amanah di UII,” tutur Rektor.
Lebih lanjut, Fathul Wahid melaporkan perkembangan UII merangkum capaian dan pelaksanaan program sepanjang tahun 2025 yang dibingkai dalam tiga tujuan strategis, yakni penguatan akar yang bermakna integritas nilai keislaman dan kebangsaan serta peningkatan kapasitas internal. Kedua, penjulangan cabang yang dimaknai sebagai peningkatan inovasi berkelanjutan untuk rekognisi internasional. Ketiga yakni pelebatan buah yang mengacu pada pelebatan manfaat melalui perluasan jangkauan jejaring serta peningkatan dampak.
Di tempat yang sama, Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. mengucapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh sivitas akademika UII atas capaian UII sepanjang tahun 2025. Prof. Suparman Marzuki, menyampaikan bahwa UII sejak awal berdiri dirancang sebagai laboratorium kader bangsa. “UII lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan, bukan sekadar sebagai tempat transfer ilmu, tetapi untuk memadukan kecerdasan intelektual dan keluhuran akhlak Islam,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa capaian akademik dan pengakuan nasional maupun global patut disyukuri, namun bukan tujuan akhir UII. “Prestasi terbesar UII bukan sekadar angka akreditasi, melainkan kemampuannya menjaga independensi akademik di tengah arus politisasi dan komersialisasi pendidikan,” tegas Prof. Suparman.
Menghadapi tantangan global seperti disrupsi teknologi, krisis integritas, dan fragmentasi sosial, Prof. Suparman menekankan bahwa UII harus mengambil peran kepemimpinan. “Kita tidak boleh hanya bertahan, tetapi harus memimpin. Pendidikan UII harus melahirkan manusia yang cerdas sekaligus berani menjaga kebenaran,” katanya.
Pelaksanaan acara Rapat Terbuka Senat Milad ke-83 UII dilanjutkan dengan Pidato Ilmiah ke-82 UII oleh Dosen Dosen Program Studi Hukum Keluarga Program Sarjana (Ahwal Syakhshiyah) UII, Dr. Maulidia Mulyani, S.H., M.H bertajuk Dinamika Kerentanan Perempuan-Anak dan Intervensi Negara dalam Keluarga.
Rangkain acara diakhiri dengan penyampaian penghargaan kesetiaan mengabdi 25 tahun, 30 tahun, 35 tahun, dan 40 tahun bagi dosen tetap dan tenaga kependidikan tetap di lingkungan UII. Selain itu, pada kesempatan ini juga dilaksanakan pemberian penghargaan kinerja terbaik dalam implementasi sistem penjaminan mutu UII. (AHR/RS)





