• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Universitas di Era AI: Masih Perlukah?
Pojok Rektor

Universitas di Era AI: Masih Perlukah?

Ilustrasi pembuka

Bayangkan dua gambar: seorang siswa kelas dua SD yang memegang kalkulator, dan seorang pedagang pasar tradisional yang juga memegang kalkulator. Alatnya sama, tetapi maknanya sangat berbeda.

Bagi siswa sekolah dasar, kalkulator yang digunakan terlalu dini justru dapat merusak proses belajar. Pada tahap itu, anak harus berlatih membangun pemahaman angka, menalar, dan mencari tahu bagaimana jawaban terbentuk. Jika kalkulator masuk terlalu cepat, ia menjadi jalan pintas yang membajak proses belajar.

Namun bagi pedagang pasar, kalkulator justru menjadi penyelamat. Ia mempercepat pelayanan, mengurangi kesalahan hitung, dan membantunya menjalankan usaha dengan lebih efisien. Di sini, kalkulator berperan sebagai alat pemberdayaan. Perbandingan ini menunjukkan satu pelajaran penting: teknologi tidak baik atau buruk dengan sendirinya — nilainya ditentukan oleh tujuan, waktu, dan kesiapan penggunanya.

Sekarang, mari kita mengganti kalkulator itu dengan akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Pertanyaannya kemudian: apa makna kehadiran AI bagi dunia pendidikan tinggi? Selama ini kita terbiasa dengan mantra “semakin cerdas, semakin baik”. Namun para pakar seperti Stuart Russell (2020) mengingatkan, kecerdasan tanpa tujuan yang tepat dapat menjadi bumerang. Mesin dianggap cerdas apabila tindakannya membawa mesin itu pada tujuannya sendiri.

 

Tujuan manusia

Masalahnya, bagaimana jika tujuan mesin tidak sejalan dengan tujuan manusia? Jika itu terjadi, AI berpotensi merusak kemanusiaan alih-alih memajukannya. Karena itu, tugas kita bukan hanya menciptakan mesin yang cerdas, tetapi memastikan mesin itu bermanfaat bagi manusia. AI hanya layak dipakai sejauh ia membantu manusia mencapai tujuan-tujuannya — bukan menggantikannya, apalagi menggeser nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks perguruan tinggi, tujuan itu mencakup tiga ranah utama. Pertama, di ranah pembelajaran: AI seharusnya membantu mahasiswa berpikir kritis dan kreatif, bukan sekadar menyalin jawaban tanpa memahami prosesnya. Kedua, di ranah pengajaran: AI dapat memperkaya desain pembelajaran, tetapi tidak boleh menghilangkan wawasan dan sentuhan personal seorang dosen. Ketiga, di ranah administrasi: AI dapat mempercepat dan memperkuat pengambilan keputusan, tetapi tidak boleh mengabaikan keadilan, konteks, dan empati.

Selama AI membantu kita semakin dekat pada nilai-nilai yang ingin kita perjuangkan sebagai manusia, ia layak dipakai. Sebaliknya, ketika AI menjauhkan kita dari tujuan yang paling autentik — seperti integritas, pemikiran mendalam, dan hubungan manusia — maka penggunaan itu perlu dikritisi.

Kita juga perlu mengakui kenyataan: AI bukan fenomena yang “akan datang suatu hari nanti”. AI sudah hadir dalam kegiatan kita sehari-hari. Mahasiswa menggunakannya untuk belajar, dosen untuk menyiapkan materi, peneliti untuk menganalisis data, dan universitas untuk mengelola layanan. Menolak AI sama saja dengan mengabaikan realitas. Namun menerima AI begitu saja juga bukan pilihan bijak. Tantangan kita bukan memilih “menggunakan atau tidak menggunakan AI”, melainkan “menggunakan AI secara bertanggung jawab”.

 

Peran universitas

Pada titik ini, kita sampai pada pertanyaan penting: apa sebenarnya peran universitas di era AI? Selama puluhan tahun, universitas dibangun atas misi menyampaikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Kini, ilmu tersedia di mana saja dan kapan saja. Dengan bantuan AI, mahasiswa dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Jika pembelajaran hanya tentang menghafal, merangkum, dan mengulang, AI bisa melakukannya lebih baik. Tetapi AI tidak bisa menanamkan empati, karakter, kepemimpinan, makna, atau nurani. Di sinilah peran universitas menjadi tak tergantikan. Perguruan tinggi bukan lagi sekadar ruang penyampaian informasi, melainkan ekosistem pembentukan manusia.

Karena itu, dosen di era AI bukan hanya penyampai materi di depan kelas. Mereka adalah pelatih berpikir kritis, mentor karakter dan profesionalisme, pemandu cara belajar, dan penerjemah informasi menjadi wawasan. AI mampu menjelaskan rumus, tetapi AI tidak mampu membuat mahasiswa percaya pada dirinya sendiri, atau mengambil keputusan etis dalam dilema kehidupan. Yang bisa melakukan itu adalah manusia.

Masa depan terbaik bukan “AI melawan manusia”, tetapi “AI bersama manusia”. Ketika mahasiswa belajar menggunakan AI dengan bimbingan dosen yang memahami kekuatan dan keterbatasannya, banyak hal besar dapat terjadi: pembelajaran menjadi lebih cepat, personal, dan kreatif. Yang lebih penting — mahasiswa belajar menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab: untuk memecahkan masalah, bukan untuk menyontek.

Namun perubahan ini tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan inisiatif individu. Institusi pendidikan tinggi perlu menyediakan kebijakan yang jelas, pelatihan bagi dosen, kolaborasi lintas disiplin, dan budaya yang mendukung eksperimen. Perguruan tinggi yang berhasil nanti bukan yang memiliki anggaran terbesar, melainkan yang memiliki kemauan beradaptasi terbesar.

Dalam percakapan tentang AI, kita memang mudah terbawa sikap ekstrem — terlalu optimis atau terlalu khawatir. Padahal jawaban terbaik ada di tengah: menggunakan AI secara bijaksana dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat membantu kita bergerak maju, selama kita tidak membiarkan AI mengambil alih hal yang paling manusiawi dalam pendidikan: integritas, kebijaksanaan, hubungan tulus, dan pertumbuhan pribadi mahasiswa. Jika kita mampu menjaga keseimbangan itu, masa depan pendidikan tinggi tidak hanya akan menjadi lebih cerdas — tetapi juga lebih bermakna.

Terjemahan dan elaborasi ringan dari pidato kunci bertajuk Transformasi Perguruan Tinggi di Era Kecerdasan Buatan dalam P2A Annual General Meeting di Universitas Islam Indonesia pada 21 November 2025.

 

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

 

25 November 2025
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/11/Kalkulator-scaled.jpg 1085 2560 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022025-11-25 10:04:262025-11-25 10:04:39Universitas di Era AI: Masih Perlukah?

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: UII Sambut Delegasi Universiti Malaya dalam Entrepreneurship & Cultural Program 2025 Link to: UII Sambut Delegasi Universiti Malaya dalam Entrepreneurship & Cultural Program 2025 UII Sambut Delegasi Universiti Malaya dalam Entrepreneurship & Cultural... Link to: Perkuat Kolaborasi, UII dan LLDikti Wilayah XVI Gelar Patok Banding 2025 Link to: Perkuat Kolaborasi, UII dan LLDikti Wilayah XVI Gelar Patok Banding 2025 Perkuat Kolaborasi, UII dan LLDikti Wilayah XVI Gelar Patok Banding 2025 Scroll to top Scroll to top Scroll to top