Wisudawan Baru UII Didorong Mengasah Empati dan Integritas

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (14/2) di Yogyakarta di Auditorium Prof.K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII. Pada periode ini, sebanyak 416 lulusan resmi dikukuhkan, terdiri dari 2 ahli madya, 7 sarjana terapan, 327 sarjana, 72 magister, dan 8 doktor. Sehingga, sampai saat ini tercatat lebih dari 132.206 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya mengingatkan para wisudawan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat.

“Izinkan saya menitipkan satu pesan utama hari ini: asahlah empati, jagalah kepekaan sosial,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa ilmu dan keterampilan profesional saja tidak cukup tanpa empati. Menurutnya, setiap keputusan yang kelak diambil para lulusan akan berdampak pada kehidupan banyak orang.

“Ilmu yang Saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin,” ujarnya.

Rektor juga mengingatkan agar para lulusan tidak terjebak pada capaian personal semata, tetapi mampu memberi dampak kemanusiaan dalam setiap peran yang dijalani. “Semakin tinggi ilmu kita, semakin halus pula rasa kita. Semakin luas wawasan kita, semakin dalam pula kepedulian kita,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Alumni UII yang juga Head of Communications Grab Indonesia, Dimas Novriandi, menyampaikan pesan inspiratif dengan gaya yang ringan dan reflektif. Ia mengajak para wisudawan untuk tidak takut menghadapi fase baru kehidupan.

Mengutip pesan motivasional, ia menyampaikan, “Wisuda itu bukan garis finish, itu tanda kamu sanggup menyelesaikan. Bukan karena kamu tidak pernah capek, tapi karena kamu tetap jalan walau lelah.”

Dimas juga mengingatkan bahwa rasa takut memasuki dunia nyata adalah hal yang wajar. Namun, menurutnya, keberanian lahir dari langkah kecil yang konsisten.

“Takut itu manusiawi. Yang penting, kita tidak berhenti di sana,” katanya.

Dalam pesannya kepada para wisudawan, ia menekankan pentingnya integritas dan keandalan di dunia profesional. “Kamu tidak harus jadi yang paling cepat, tapi jadilah yang paling bisa dipercaya. Karena di dunia setelah kampus, banyak yang pintar. Tapi yang dicari adalah yang bisa diandalkan,” ujarnya.

Baik Rektor maupun wakil alumni sama-sama menegaskan bahwa keberhasilan akademik perlu diiringi karakter yang kuat dan kepedulian sosial. Wisuda kali ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga momentum refleksi untuk melahirkan generasi profesional yang cemerlang secara intelektual dan hangat secara kemanusiaan. (AHR/RS)