Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) berkesempatan menjadi co-hostpenyelenggaraan Lokakarya Asia Pacific Association of International Education (APAIE) yang dilaksanakan pada Selasa-Rabu (28–29/10) di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta. Kegiatan ini mengusung tema “Reshaping Education through International Collaborations: Transnational Education, Digital Transformation, and Local Relevance” dan diawali dengan pertemuan advisory board yang dihadiri oleh 11 perwakilan berbagai perguruan tinggi dari 6 negara di kawasan Asia Pasifik.

Lokakarya dibuka oleh Prof. Venky Shankararaman, Presiden APAIE sekaligus Vice Provost Singapore Management University. Dalam sambutannya, Prof. Venky menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya APAIE Workshop untuk ketiga kalinya, serta menekankan pentingnya kegiatan ini dalam memperkuat jejaring internasional antarperguruan tinggi di kawasan Asia Pasifik. Menurutnya, kerja sama lintas negara menjadi kunci dalam peningkatan kualitas serta kapasitas pengelolaan pendidikan tinggi secara global.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada APAIE atas kepercayaannya bekerja sama dengan UII dan UGM dalam penyelenggaraan lokakarya ini. Fathul menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi sarana penguatan kapasitas perguruan tinggi agar semakin adaptif terhadap perkembangan global, namun tetap berfokus pada peningkatan mutu pendidikan.

Sementara itu, Prof. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Ia mengingatkan pentingnya kolaborasi internasional yang mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dan kearifan lokal, sehingga hasilnya dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Kegiatan ini diikuti oleh 32 peserta dari 17 belas perguruan tinggi Indonesia dan 3 perguruan tinggi luar negeri dengan menghadirkan narasumber dari berbagai universitas ternama, antara lain University of Melbourne, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Griffith University, dan Deakin University.

Pada hari pertama, peserta memperoleh wawasan mengenai peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat lokal. Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, Ketua UNESCO Heritage Cities Conservation and Management UGM, memaparkan upaya pengembangan konservasi Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Selanjutnya, Assoc. Prof. Nopraenue Sajjarax Dhirathiti dari Mahidol University menjelaskan bahwa universitas memiliki peran strategis dalam memperkuat kearifan lokal melalui kemitraan global. Sesi ini berlangsung interaktif dan dipandu oleh Lucinda Malgas, Global Engagement Manager APAIE.

Pada hari kedua, peserta diajak mendalami penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan tinggi melalui sesi interaktif bersama Prof. Venky Shankararaman, Prof. Shanton Cheng (APAIE Executive), dan Stuart Martin (pendiri George Angus Consulting). Diskusi berfokus pada strategi pemanfaatan teknologi AI dalam proses pengajaran dosen dan pembelajaran mahasiswa.

Rachmat Fadli, dosen Universitas Negeri Yogyakarta sekaligus kandidat doktor di University of Melbourne, turut berbagi pengalaman terkait proses adaptasi digital mahasiswa internasional di Indonesia. Di sisi lain, Guy Perring, Regional Director Asia Etio, memaparkan upaya peningkatan peran Indonesia sebagai destinasi studi bagi mahasiswa internasional. Sesi dilanjutkan oleh Marnie Watson, APAIE Executive sekaligus Vice President Griffith University, yang mengajak peserta untuk merancang kolaborasi internasional yang berdampak resiprokal dan berkelanjutan.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para peserta mengikuti tur kampus ke UGM dan UII yang diakhiri dengan jamuan makan malam bersama. Penyelenggaraan lokakarya ini didukung oleh Etio, Bank BPD DIY, dan Interest Education sebagai mitra APAIE, UGM, dan UII. (DS/AHR/RS)

Program Studi Profesi Arsitek (PPAr) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII), menyelenggarakan kegiatan Kolokium Masterclass Menoreh di Ruang IRC, Gedung Moh. Natsir, Kampus Terpadu UII, pada Rabu (29/10). Kegiatan ini menjadi ajang refleksi dan presentasi hasil pembelajaran lapangan mahasiswa PPAr UII yang tergabung dalam program Masterclass Menoreh, yakni kegiatan akademik berbasis praktik lapangan di kawasan Nglinggo Barat, Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo.

Program Masterclass Menoreh merupakan rangkaian pembelajaran lapangan yang melibatkan dosen, praktisi, dan ahli arsitektur dalam mendampingi mahasiswa PPAr. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berkesempatan meneliti, berdialog, dan merancang bersama masyarakat untuk memahami hubungan antara ruang, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari di kawasan Menoreh.

Dalam sambutannya, Dr. Yulianto Purwono Prihatmaji, S.T., M.T., selaku Kepala Program Studi PPAr UII, menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai wadah berlatih yang tidak hanya berfokus pada desain estetis, tetapi juga memperhatikan konteks sosial dan ekologis terutama berkontribusi dan berdampak di masyarakat.

“Masterclass ini pertama kali dilakukan PPAr dan mungkin juga pertama kali di Jurusan Arsitektur. Ini sebagai salah satu wahana untuk kita bisa intervensi langsung kepada ruang yang ada di masyarakat, di lingkungan nyata. Dan juga sebagai promosi dari sisi profesi arsitek itu sendiri dan dari pendidikan arsitektur. Harapannya, selain bisa tadabbur alam dan membagikan ilmu kepada mereka, program ini membantu meningkatkan mutu indikator kinerja utama baik di PPAr, jurusan, fakultas, maupun universitas,” ungkapnya.

Hal ini selaras dengan pernyataan yang dikemukakan Dekan FTSP, Prof. Ar. Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI., dimana pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman tersebut mencerminkan arah baru pendidikan profesi khususnya di UII. Model belajar yang melibatkan interaksi lintas disiplin dan kolaborasi dengan masyarakat dinilai mampu menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif, relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus memperkuat posisi UII sebagai pelopor pendidikan tinggi yang berorientasi pada nilai dan kebermanfaatan.

“Pendidikan profesi di UII ini, barangkali bisa dijadikan standar mutu untuk pendidikan profesi di Indonesia. Melihat kegiatan masterclass ini sebagai buah evolusi dari metode belajar yang konvensional. Artinya, kita sudah harus sangat mengkritisi model belajar konvensional dan berusaha membangun trial and error, yakni belajar dari pengalaman sukses perguruan tinggi atau pelaku lain untuk merefomulasi bentuk belajar yang efektif. Saya melihat bahwa model belajar semacam ini, hasilnya bukan hanya untuk mahasiswa, tapi berpotensi membangun ekosistem belajar baru dengan adanya keterlibatan dari masyarakat, maupun stakeholder. Harapan kami dari fakultas, sinergi dari model pendidikan ala global dengan sensitivitas dan kearifan lokal ini bisa diikuti oleh prodi-prodi lain terutama magister sampai doktor. Bahkan, ke level pusat,” tutupnya.

Dalam kolokium kali ini, mahasiswa mempresentasikan hasil rancangan serta refleksi mereka selama proses masterclassberlangsung. Setiap kelompok menampilkan pendekatan desain yang berfokus pada keberlanjutan, adaptasi budaya, serta potensi lokal yang menjadi kekuatan kawasan Menoreh. Selain menampilkan presentasi maupun poster, kolokium juga diisi dengan diskusi antara mahasiswa, dosen, praktisi, masyarakat lokal, pemangku kepentingan, dan tamu undangan. Forum ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan refleksi kritis mengenai praktik arsitektur yang berkelanjutan dan memahami kearifan lokal.

Melalui kegiatan Kolokium Masterclass Menoreh, PPAr UII berupaya memperkuat pendidikan profesi arsitektur yang berorientasi pada masyarakat, berakar pada kearifan lokal, dan berpihak pada keberlanjutan lingkungan turut menegaskan peran Universitas Islam Indonesia sebagai perguruan tinggi yang konsisten dalam mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat melalui pendekatan yang kolaboratif dan transformatif. (DA/AHR/RS)

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan Coffee Morning Lecture (CML) #8 pada Rabu (29/10) di Selasar Hall Gedung Moh. Natsir FTSP, Kampus Terpadu UII. Kegiatan CML kali ini mengangkat tema “Bangun Deso: Melihat Perubahan Wajah Desa untuk Sumber Penghidupan yang Berkelanjutan” dengan menghadirkan para pemangku kepentingan dari pemerintah hingga komunitas untuk merefleksikan arah pembangunan pedesaan di Indonesia yang kini mengalami transformasi besar akibat modernisasi, pembangunan infrastruktur, dan pengaruh budaya urban.

Dekan FTSP, Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI, dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya desa sebagai ruang hidup yang tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek pengetahuan dan inovasi.

“Kita sering memandang desa dari kacamata urban, seolah desa harus meniru kota untuk maju. Padahal, masa depan keberlanjutan Indonesia justru bergantung pada kemampuannya menjaga nilai, kemandirian, dan ekologi pedesaan,” ujar Prof. Ilya.

Prof. Ilya menambahkan CML ini merupakan bentuk nyata keterlibatan universitas dalam menghidupkan kembali semangat triple helix sebagai sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun desa yang tangguh dan berdaya

Sebagai narasumber utama, hadir Dr. Muhammad Roudo, S.T., MPP., Ph.D. sebagai Direktur Perdesaan, Daerah Afirmasi, dan Transmigrasi – Kementerian PPN/Bappenas. Dalam paparannya, Dr. Roudo menekankan pentingnya arah kebijakan pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan.

“Desa bukan hanya ruang administratif, melainkan ruang ekologi dan sosial yang menentukan wajah pembangunan nasional. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mengubah logika pembangunan desa dari sekadar pembangunan infrastruktur menjadi pembangunan kapasitas manusia dan lingkungan hidup desa itu sendiri,” jelas Dr. Roudo.

Ia juga menambahkan bahwa Bappenas terus memperkuat kebijakan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor agar desa dapat menjadi episentrum ekonomi hijau di masa depan. Sementara itu, Vira Maya Permatasari, Ketua Paguyuban Eco Sae Migunani, berbagi pengalaman dari lapangan tentang praktik pembangunan desa berbasis komunitas dan ekologi.

“Kami belajar dari petani, perempuan, dan anak muda desa bahwa perubahan tidak harus datang dari luar. Ketika warga diberi ruang untuk menentukan arah penghidupan mereka, maka muncul inovasi lokal yang luar biasa,” ungkap Vira.

Ia menekankan pentingnya pendekatan eco-social entrepreneurship yang menumbuhkan keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi dan kelestarian lingkungan di desa.

Diskusi semakin kaya dengan kehadiran tiga penanggap dari pusat studi di lingkungan FTSP UII. Ir. Fajriyanto, MT, dari Pusat Studi Desa dan Kota yang menyoroti bahwa pembangunan desa memerlukan pendekatan spasial yang peka terhadap dinamika sosial dan budaya. “Desa memiliki lanskap sosial yang unik. Pembangunan fisik tidak bisa dilepaskan dari konteks sosialnya. Jika tidak, desa bisa kehilangan identitas, bahkan makna kebersamaannya,” ujarnya.

Pradipta Nandi Wardhana, S.T., M.Eng., dari Pusat Studi Banjir dan Kekeringan, menambahkan bahwa aspek tata air dan risiko iklim sering kali terabaikan dalam perencanaan desa. “Desa-desa di dataran tinggi dan hilir menghadapi risiko bencana hidrometeorologi yang berbeda. Konsep pembangunan desa berkelanjutan harus berbasis pada pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan terintegrasi,” kata Pradipta.

Sementara itu, Ir. Luqman Hakim, S.T., M.Si., dari Center for Environmental Technology Study, menekankan pentingnya teknologi tepat guna dan kolaborasi lintas disiplin untuk memperkuat ekonomi hijau pedesaan. “Teknologi tidak selalu berarti mesin besar dan canggih. Inovasi kecil yang relevan dengan konteks desa justru bisa menjadi solusi paling berkelanjutan,” tutur Luqman.

Ketua Pelaksana CML #8, Ikrom Mustofa, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa forum ini dirancang bukan hanya sebagai kegiatan rutin, tetapi sebagai ruang pembelajaran sosial dan kolaboratif. “CML ini kami niatkan sebagai wadah berbagi gagasan lintas generasi dan disiplin. Kami ingin FTSP UII menjadi kampus yang hidup bersama masyarakatnya—tempat bertemunya ide-ide teknis, sosial, dan budaya untuk kemajuan desa,” ungkap Ikrom.

Ia menambahkan bahwa ke depan, hasil diskusi akan dirangkum menjadi rekomendasi kebijakan dan rencana kolaborasi lanjutan antara FTSP UII, pemerintah, dan komunitas desa.

Melalui CML #8 ini, FTSP UII berharap dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata masyarakat. Forum seperti ini menjadi bukti bahwa universitas tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga memelihara dialog sosial tentang masa depan bangsa. Dengan semangat itu, Coffee Morning Lecture FTSP UII akan terus hadir sebagai forum ilmiah terbuka—menyatukan para pemangku kepentingan dalam satu meja kopi, untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. (IM/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar wisuda jenjang Doktor, Sarjana, dan Diploma Periode I Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu-Minggu (25-26/10) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir. Pada periode kali ini, UII mewisuda 1.419 lulusan terdiri dari 12 doktor, 119 magister, 1.221 sarjana, dan 58 sarjana terapan, serta 9 ahli madia. Sehingga, sampai saat ini tercatat lebih dari 134.981 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Fathul Wahid, mengutip buku dari Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, bahwa dunia modern tidak hanya butuh para spesialis, tetapi juga para generalis yaitu orang-orang yang berani menyeberangi batas pengetahuan, yang mampu melihat dunia dari banyak jendela, dan menghubungkan titik-titik yang tampak tak berhubungan menjadi solusi yang bermakna.

We learn who we are in practice, not in theory. Kalimat sederhana itu mengandung pesan mendalam: kita tidak menemukan jati diri hanya dari teori atau rencana hidup yang rapi, melainkan dari keberanian mencoba, bereksperimen, dan kadang-kadang gagal. Karena justru dalam percobaan itulah kita belajar tentang diri kita sendiri,” ungkapnya

Tak lupa, Ia menyoroti pentingnya kemampuan adaptasi dan kolaborasi lintasdisiplin di tengah perubahan teknologi dan sosial yang begitu cepat. “Kita hidup di dunia yang tidak lagi menghargai kepastian tunggal. Masalah hari ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu disiplin ilmu. Karena itu, pendidikan sejati bukanlah soal mencetak ahli sempit, tetapi menumbuhkan manusia yang mampu berpikir luas dan berjejaring lintas disiplin,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Fathul mendorong para lulusan untuk tidak takut menjelajah dan gagal. Menurutnya, keberanian untuk bereksperimen dan belajar dari berbagai pengalaman akan menumbuhkan pribadi yang lentur dan berdaya saing tinggi. “Jangan takut bila arah karier nanti berubah. Kadang kita perlu berkenalan dulu dengan berbagai pengalaman sebelum tahu mana yang benar-benar cocok untuk kita,” pesannya.

Sementara itu, wakil alumni UII, Rendy Ardiansyah, S.E., M.B.A., yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur, mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari kepintaran semata, tetapi dari keteguhan, integritas, dan konsistensi.

“Dunia kerja itu seperti Wi-Fi, kadang sinyalnya kuat, kadang hilang. Tapi jangan menyerah, karena koneksi terbaik sering datang setelah kita sabar mencoba,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Rendy juga menekankan pentingnya membawa nilai-nilai keislaman dan integritas UII dalam kehidupan profesional. Ia berpesan agar para lulusan berani memberi makna melalui karya dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Yang dibutuhkan dunia bukan hanya orang pintar, tapi orang yang bisa dipercaya. Apa pun profesinya nanti, pastikan Anda hidup untuk memberi arti dan meninggalkan legacy,” tambahnya.

Momentum wisuda kali ini menjadi penegasan komitmen UII untuk terus melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat serta kemajuan bangsa. (AHR/RS)

Dalam proses transisi spiritualnya, mualaf seringkali dihadapkan pada tantangan besar yang spesifik dalam mempelajari syariat. Mereka umumnya tidak memiliki basis pengetahuan agama yang memadai, sehingga sering merasa kesulitan dan terbebani saat berhadapan dengan terminologi fiqih yang kompleks. Menyadari hal tersebut, Dakwah Hijrah Mahasiswa, Lembaga Dakwah Kampus yang bernaung dibawah Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI) UII selenggarakan Daurah Fiqhiyyah yang bertajuk “Kajian dan Praktek Fikih Ibadah: Menghidupkan Syariat dalam Kehidupan”. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (25/10) di Masjid Al Furqon, Dusun Tanen, Pakem.

Acara ini menghadirkan Ustadz Fathurrahman Alkatitanji, S.H.I sebagai pemateri yang juga sekaligus staf dari DPPAI UII. Materi berfokus pada praktek fiqih dasar seperti berwudhu, tayammum, dan shalat wajib yang ternyata membutuhkan waktu lebih lama daripada perkiraan panitia. Rasa semangat dan keingintahuan masyarakat yang hadir tentang ilmu keagamaan membuat acara berlangsung dengan sangat interaktif dan hangat. Banyak peserta yang aktif bertanya dan meminta penjelasan langsung mengenai tata cara ibadah yang benar sesuai tuntunan syariat. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kegiatan semacam ini dibutuhkan masyarakat sebagai sarana memperdalam pemahaman agama sekaligus memperbaiki praktik ibadah sehari-hari.

Prilya Isna Putra, Perwakilan Takmir Masjid Al Furqan, dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada mahasiswa UII yang menyelenggarakan acara Daurah Fiqhiyyah ini. Ia juga berharap materi yang diberikan dapat menambah ilmu dan wawasan baru bagi jamaah yang hadir.

Fathurrahman memulai sesi kajian dengan berkata “Sejelek-jeleknya perkara dalam urusan agama ini adalah perkara yang diada-adakan, yang dikreasikan, yang diinovasikan tanpa ada bimbingan Al-Qur’an dan sunnah nabi,” Ia mengatakan bahwa siapapun orang yang melakukan hal tersebut dan menyebarkan ajaran yang sesat maka tempat yang layak baginya adalah neraka. Banyak ilmu-ilmu atau praktek fiqih tentang berwudhu dan sholat yang tidak mempunyai dalil serta dasar yang jelas dan hal ini akan berakibat fatal bagi orang-orang yang tingkatan ilmu agamanya masih rendah. Sebab ketika mereka mengajarkan sesuatu yang sesat kepada orang lain maka dosa baginya.

Allah menciptakan makhluk di muka bumi ini untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan dalil Q.S Az-Zariyat ayat 56 yang mengatakan bahwa ibadah adalah tujuan utama penciptaan manusia di bumi ini. Bukan harta benda yang kita cari selama di dunia ini yang akan menjadi bekal kita di akhirat. Salah satunya adalah mempelajari syariat agama dan tata cara beribadah.

Selama sesi kajian berlangsung, Fathurrahman mendemonstrasikan praktik berwudhu, tayamum, mandi wajib dan sholat dengan jelas dan runtut. Ia tidak hanya menjelaskan gerakan demi gerakan saja, namun juga memberikan wawasan dari berbagai perbedaan pendapat ulama madzhab. Seperti contohnya dalam mandi wajib ada dua riwayat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Riwayat oleh Aisyah dan Maimunah. Kedua riwayat itu dipaparkan dengan sangat jelas sehingga jamaah dapat memahami riwayat mana yang biasanya mereka pakai sehari-hari.

Menjelang akhir acara, para jamaah menyampaikan permintaan agar kegiatan Daurah Fiqhiyyah dapat diadakan kembali dengan pembahasan latihan tentang shalat jenazah dan tata cara memandikan jenazah. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk terus memperdalam ilmu fiqih, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah dan praktik keagamaan di kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, Fathurrahman mewakili DHM UII memberikan santunan kepada mualaf yang hadir berupa sembako dan kebutuhan rumah tangga. Ia juga memberikan bingkisan kepada penanya yang telah aktif terlibat dalam kegiatan tersebut. (NKA/AHR/RS)

Di kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak Saudara untuk memandang wisuda ini bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai awal petualangan baru. Dunia di luar sana tengah bergerak cepat. Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Pekerjaan yang hari ini ada, mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama akan lenyap. Karena itu, keberhasilan sejati tidak lagi diukur dari seberapa ahli Saudara di satu bidang, tetapi dari seberapa luwes Saudara beradaptasi, seberapa berani Saudara menjelajah, dan seberapa terbuka Saudara untuk terus belajar hal-hal baru.

Dalam bukunya Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, David Epstein (2021) mengingatkan kita bahwa dunia modern tidak hanya butuh para spesialis, tetapi juga para generalis — orang-orang yang berani menyeberangi batas pengetahuan, yang mampu melihat dunia dari banyak jendela, dan menghubungkan titik-titik yang tampak tak berhubungan menjadi solusi yang bermakna. Range merupakan salah satu buku yang direkomendasikan oleh McKinsey pada tahun ini, 2025[1].

 

Berani bereksperimen

Epstein menulis, “We learn who we are in practice, not in theory.” Kalimat sederhana itu mengandung pesan mendalam: kita tidak menemukan jati diri hanya dari teori atau rencana hidup yang rapi, melainkan dari keberanian mencoba, bereksperimen, dan kadang-kadang gagal. Karena justru dalam percobaan itulah kita belajar tentang diri kita sendiri.

Banyak dari kita dibesarkan dengan pandangan bahwa kesuksesan ditentukan oleh spesialisasi yang tajam — semakin cepat memilih jurusan, semakin cepat menentukan karier, maka semakin baik. Namun, Epstein justru menunjukkan hal sebaliknya. Bahwa mereka yang memberi ruang untuk menjelajah, yang berani “menyimpang sedikit” dari jalur, sering kali justru menemukan jalan yang lebih bermakna.

Lihatlah Roger Federer, pemegang 20 gelar Grand Slam tunggal dan menjadi petenis nomor satu dunia dalam waktu yang sangat lama, 310 pekan. Ia tidak tumbuh sebagai atlet tenis sejak bayi. Federer mencoba berbagai olahraga lebih dulu — sepak bola, bola basket, bahkan skateboard — sebelum akhirnya memilih tenis di usia remaja. Ia tidak terburu-buru “menetap”. Dan justru karena pengalaman yang beragam itulah ia tumbuh menjadi pemain yang lentur, kreatif, dan tahan banting.

Atau, pikirkan Steve Jobs. Ia bukan desainer, bukan insinyur, bukan pemrogram murni. Tapi ia adalah seseorang yang tahu bagaimana menghubungkan hal-hal yang kelihatannya tak terkait. Dari kelas kaligrafi yang ia ikuti secara iseng, lahirlah ide tentang tipografi indah di komputer Apple. Dari ketertarikannya pada desain, lahirlah filosofi sederhana: “Technology alone is not enough.”

Dalam sejarah peradaban Islam, banyak ilmuwan besar yang berpikir lintas batas disiplin—para generalis sejati yang melihat ilmu pengetahuan sebagai satu kesatuan.

Ibnu Sina, misalnya, tidak hanya dikenal sebagai peletak dasar ilmu kedokteran, tetapi juga seorang filsuf dan astronom. Ia menulis ratusan karya yang menjembatani ilmu kedokteran, metafisika, logika, dan bahkan musik, menunjukkan bahwa bagi dirinya, ilmu adalah jalan menuju pemahaman yang utuh tentang manusia dan alam semesta.

Al-Farabi pun serupa. Ia adalah filsuf yang juga menekuni politik, linguistik, dan musik, dan melalui karyanya Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah ia menggambarkan masyarakat ideal yang dibangun atas dasar harmoni akal dan moral.

Dari keduanya kita belajar bahwa keunggulan tidak lahir dari spesialisasi sempit, melainkan dari keluasan pandangan, keberanian menjelajah banyak bidang, dan kemampuan menghubungkan ilmu untuk kemaslahatan.

 

Kemampuan berimajinasi

Itulah kekuatan seorang generalis — kemampuan melihat yang tak dilihat orang lain. Gagasan ini serupa dengan yang diungkap oleh Malcolm Gladwell (2009) dalam What the Dog Saw. Epstein berbicara tentang pentingnya memiliki range — kemampuan untuk melihat pola di antara hal-hal yang tampaknya tidak berhubungan. Sementara Gladwell, mengajak kita untuk memandang dunia dari mata yang lain, dari sudut pandang yang sering diabaikan. Kedua gagasan ini sama-sama menegaskan: keunggulan masa depan tidak datang dari mereka yang hanya tahu banyak, tetapi dari mereka yang tahu cara melihat — melihat apa yang luput dari pandangan orang lain.

Kita hidup di dunia yang tidak lagi menghargai kepastian tunggal. Masalah-masalah hari ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu disiplin ilmu. Krisis iklim, ketimpangan ekonomi, etika kecerdasan buatan — semuanya menuntut kolaborasi lintasbidang, lintasbahasa, lintas-cara berpikir. Karena itu, pendidikan sejati bukanlah soal mencetak ahli sempit, tetapi menumbuhkan manusia yang mampu berpikir luas, berjejaring lintas disiplin, dan menghargai keragaman pengetahuan.

Epstein juga mengingatkan bahwa dunia kerja modern menuntut knowledge transfer — kemampuan memindahkan pengetahuan dari satu konteks ke konteks lain. Mereka yang hanya bisa belajar dari pengalaman lama akan tertinggal. Tetapi mereka yang bisa belajar tanpa pengalaman langsung — yang bisa berimajinasi, mensintesis, dan menghubungkan — merekalah pemimpin masa depan.

Karena itu jangan Saudara takut untuk belum menemukan “tujuan hidup” hari ini. Jangan khawatir bila arah karier Saudara nanti berubah. Kadang kita perlu berkenalan dulu dengan berbagai pengalaman sebelum tahu mana yang benar-benar cocok untuk kita. Ambillah waktu untuk menjelajah, karena menjelajah bukan membuang waktu — ia adalah cara terbaik untuk menemukan makna, jalur yang paling pas menurut kita.

Dan, yang tak kalah penting, jangan takut untuk gagal, bahkan untuk berhenti. Kadang berhenti justru langkah paling berani — karena ia memberi ruang untuk hal yang lebih sesuai. Dunia ini terlalu luas untuk dijalani dengan pikiran yang sempit.

 

Tetaplah menjadi amatir

Hari ini Saudara semua resmi diwisuda. Tapi gelar yang Saudara dapatkan bukanlah titik akhir, melainkan undangan untuk terus belajar, untuk terus menjadi “pembelajar seumur hidup”. Di dunia yang berubah cepat, yang paling berharga bukan lagi “apa yang Saudara tahu”, tapi “seberapa cepat Saudara mau belajar ulang.”

Jadilah pribadi yang deliberate amateur — orang yang tidak berhenti ingin tahu, yang berani keluar dari zona nyaman, yang membaca di luar bidangnya, dan yang belajar dari pertemuan antaride. Di sanalah tumbuh inovasi dan kebijaksanaan yang sesungguhnya.

 

Referensi

Epstein, D. (2021). Range: Why generalists triumph in a specialized world. Penguin.

Gladwell, M. (2009). What the dog saw: And other adventures. Little, Brown and Company.

 

Sambutan pada acara wisuda Universitas Islam Indonesia, 25 dan 26 Oktober 2025

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

[1] https://www.mckinsey.com/featured-insights/annual-book-recommendations

Ikatan Ibu-Ibu (IKI) Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Fakultas Teknologi Industri (FTI) menggelar Workshop Seni Ecoprint di tas jinjing (totebag) dan Workshop Literasi Produk Halal pada Jumat, (24/10) . Kegiatan ini berlangsung di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII dan diikuti oleh keluarga besar Ibu-Ibu di lingkungan UII.

Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan FTI UII, Ulin Agus Mansur yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan IKI UII, Ibu Zaenal, yang mengapresiasi antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan bertema keberlanjutan dan pelestarian lingkungan ini. Ia juga berharap acara ini dapat memberikan manfaat bagi peserta yang hadir.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi workshop bertema literasi produk halal yang disampaikan oleh Dr. Harwati, S.T.,M.T, dosen jurusan Teknik Industri FTI UII dan dibersamai oleh Sayyidah Maulidatul S.T.,M.T. sebagai moderator. Dalam pemaparannya, Harwati menekankan pentingnya memastikan kehalalan produk yang digunakan sehari-hari dan memahami bagaimana cara mengetahui kehalalan suatu produk.

“Kita harus memperhatikan logo halal dari Kementerian Agama. Jangan sampai bahan yang kita konsumsi mengandung unsur haram, seperti darah atau babi, yang telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an,” ujarnya.

Memasuki sesi kedua, workshop Ecoprint dipandu oleh Diyah Dwi Nugraheni S.T., M.T. dosen program studi Rekayasa Tekstil FTI UII. Ia menyebutkan bahwa ecoprint bukan hanya sekedar seni tetapi juga wujud cinta terhadap bumi.

“Filosofi ecoprint sendiri yaitu ia bukan hanya sekedar seni kain melainkan cara hidup yang menghormati bumi dan waktu. Ecoprint memandang alam bukan hanya sekedar sumber bahan tetapi rekan berkarya setiap daun dan bunga berkontribusi secara alami”. jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa proses pembuatan ecoprint terdiri dari tiga tahap, yakni mordanting (pencelupan kain dengan bahan pengikat warna), transfer warna yang dapat dilakukan dengan cara dikukus atau dipukul, serta fiksasi warna menggunakan air tawas agar hasilnya tahan lama.

Sebanyak sepuluh peserta berkesempatan mempraktikkan teknik transfer warna daun dan bunga pada totebag yang telah disiapkan panitia. Proses dilakukan dengan menempelkan daun atau bunga di atas kain, lalu memukulnya dengan alat khusus hingga motif alami berpindah.

Sebagai penutup, panitia memberikan doorprize kepada lima peserta dengan hasil motif terbaik. Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat memahami pentingnya produk halal serta semakin mencintai bumi dengan memanfaatkan bahan-bahan alami secara kreatif dan berkelanjutan. (GRR/AHR/RS)

Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Ulil Albab International Conference on Islam, Environment, and Technologies pada Rabu–Kamis (22-23/10) bertempat di  Auditorium Gedung K.H. Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII. Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini diawali dengan pembukaan dan diskusi panel pada hari pertama, serta dilanjutkan dengan presentasi makalah dari para peserta pada hari kedua.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor UII, Fathul Wahid, dan turut dihadiri oleh Dekan FIAI, Dr. Drs. Asmuni, M.Ag, School of Humanities, Universiti Sains Malaysia (USM), Dr. Mohd. Nor Adli bin Osman, serta sivitas akademika UII yang terdaftar sebagai peserta konferensi.

Dalam sambutannya, Fathul Wahid menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya konferensi internasional ini yang mengangkat isu penting mengenai pandangan Islam terhadap perkembangan teknologi modern.

“Harapannya, kegiatan ini dapat menginspirasi kita semua serta melahirkan prinsip dan komitmen baru dalam menjadikan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, sebagai sarana menjaga keseimbangan ekologis dan keadilan sosial,” ujarnya.

Sesi diskusi panel pertama dimoderatori oleh Dosen PAI UII, Drs. Supriyanto Abdi. Narasumber pertama, Prof. Ibrahim Ozdemir, Wakil Presiden Bidang Akademik di American Islamic College, menyampaikan materi secara daring melalui Zoom Meeting.

Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa manusia membutuhkan teknologi dan alat bantu dalam kehidupan. Menurutnya, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 44, tidak ada satu makhluk pun yang tidak bertasbih memuji Allah. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan, tidak hanya manusia, turut berpartisipasi dalam ibadah dan memiliki makna spiritual.

“Dunia ini tidaklah bisu, melainkan senantiasa mengingat Tuhan, Al-Qur’an berbicara kepada umat manusia, dan realitas dunia modern menuntut kita membaca kembali kerangka klasik Islam dengan semangat baru bukan untuk meninggalkannya, melainkan untuk menghidupkannya dalam konteks alam semesta yang terus berkembang” jelasnya

Narasumber kedua Dr. Mohd. Nor Adli bin Osman dari Universiti Sains Malaysia menyampaikan bahwa teknologi kini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap keluarga memiliki smartphone, namun tanpa disadari, kehadiran teknologi tersebut kerap membuat hubungan antaranggota keluarga menjadi renggang.

“Islam tidak pernah melarang perkembangan teknologi, tetapi menekankan pada tujuan penggunaannya, apakah untuk kebaikan atau justru sebaliknya. Isu inilah yang kemudian dikaitkan dengan konsep maqāṣid al-syarī‘ah dalam ilmu fiqh” terangnya

Pada panel sesi kedua, materi disampaikan oleh Joseph Lumbard, Professor Madya Bidang Studi Al-Qur’an, Hamad Bin Khalifa University (HBKU), Qatar, melalui Zoom Meeting, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, M.Ag.

Sebanyak 40-an peserta konferensi mempresentasikan makalah mereka pada hari kedua yang dibagi ke dalam beberapa ruangan yang berbeda. Setelah seluruh sesi presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan klinik publikasi dengan para editor jurnal di Auditorium gedung Wahid Hasyim. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pengumuman peserta dengan presentasi dan makalah terbaik selama konferensi berlangsung. (GRR/AHR/RS)

Tim PPK Ormawa Sinera Universitas Islam Indonesia (UII) terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat melalui inovasi di sektor olahan susu. Melalui program bertajuk “Purwobinangun Dairypreneur Village: Sentra Olahan Susu Terstandar Berbasis Factory Sharing untuk Penguatan Desa Wirausaha”, tim mahasiswa ini menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pembuatan Bolu Susu, CPPOB, dan SOP Produksi di Desa Purwobinangun pada Minggu (12/10).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program PPK Ormawa 2025 yang berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Melalui pelatihan tersebut, masyarakat mendapatkan pendampingan dalam meningkatkan keterampilan pembuatan produk olahan susu yang higienis, berkualitas, dan memiliki nilai jual tinggi.

Ketua pelaksana kegiatan, Muiz dari Program Studi Farmasi 2022, menjelaskan bahwa pelatihan CPPOB (Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik) bertujuan untuk memastikan setiap tahapan produksi pangan dilakukan sesuai standar keamanan. “CPPOB ini penting untuk menjaga kualitas dan ketahanan produk. Mulai dari pekerja yang wajib memakai masker dan sarung tangan, hingga pengelolaan ruang produksi yang bersih. Kalau higienitasnya terjaga, masa simpan produk jadi lebih lama dan layak dipasarkan lebih luas,” jelas Muiz.

Selain pelatihan CPPOB, tim juga memperkenalkan pelatihan pembuatan bolu susu sebagai bentuk inovasi produk baru. Ide ini muncul dari diskusi bersama masyarakat yang antusias untuk mengembangkan variasi olahan susu. “Sebelumnya masyarakat sudah membuat stik susu dan susu pasteurisasi. Nah, karena mereka semangat menambah produk, kami adakan pelatihan bolu susu biar ada inovasi baru yang bisa dikembangkan bersama,” tambah Muiz.

Salah satu peserta pelatihan, Ibu Yani, mengaku sangat senang dengan kehadiran mahasiswa UII melalui program ini. Ia merasa mendapatkan banyak keterampilan baru sekaligus pendampingan yang bermanfaat bagi pengembangan usaha. “Saya baru tahu kalau susu bisa dijadikan bolu. Banyak keterampilan baru yang kami pelajari, seperti membuat puding susu, permen susu, stik susu, dan yoghurt. Kami juga diajarkan cara mengelola keuangan dan pemasaran produk. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut supaya kami makin maju dan semangat,” ungkapnya.

Masyarakat peserta kegiatan merupakan bagian dari kelompok Juragan Perempuan Tani, dengan merek lokal Mirimilk, yang selama ini aktif mengembangkan usaha pengolahan susu. Melalui pendampingan tim mahasiswa, kelompok ini kini mulai menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar produk mereka lebih terjamin mutunya. Pelatihan ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Antusiasme peserta menjadi bukti keberhasilan kolaborasi antara mahasiswa dan warga desa dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal.

Program PPK Ormawa Sinera UII tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga pada pembangunan semangat kewirausahaan masyarakat desa. Melalui pendekatan berbasis kolaborasi dan inovasi, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan yang membantu masyarakat mewujudkan kemandirian ekonomi. “Kami berharap pelatihan ini bisa menjadi langkah awal untuk memperkuat daya saing produk lokal dan mewujudkan Purwobinangun sebagai desa wirausaha berbasis olahan susu,” tutup Muiz.

Dengan pelaksanaan kegiatan ini, Universitas Islam Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga berkontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat melalui karya dan pengabdian mahasiswa. (DA/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan orientasi bagi mahasiswa penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan The Indonesian Aids Scholarship (TIAS) yang dikoordinasi oleh Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Republik Indonesia pada Rabu (22/10) di Gedung GBPH. Prabuningrat Rektorat Kampus Terpadu UII.  KNB merupakan beasiswa Pemerintah Indonesia bagi mahasiswa dari negara-negara berkembang mitra strategis Indonesia, sedangkan TIAS merupakan program prestisius Pemerintah Republik Indonesia di bawah Grant Provision Program yang dikelola oleh Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) Kementerian Keuangan, Republik Indonesia.

Dua mahasiswa yang mengikuti orientasi hari ini terdiri dari satu mahasiswa KNB asal Nigeria dan satu mahasiswa TIAS asal Kepulauan Solomon yang diterima pada tahun 2025. Secara keseluruhan, pada tahun ini UII menerima total 7 mahasiswa KNB, di mana 5 mahasiswa telah mengikuti orientasi sebelumnya pada bulan September, sementara dua mahasiswa lainnya menyusul kedatangannya dan mengikuti orientasi hari ini.

Kegiatan orientasi bertujuan membantu mahasiswa internasional dalam proses adaptasi awal sebelum memasuki kegiatan akademik dan non-akademik di UII. Agenda meliputi pengenalan budaya Indonesia, pemaparan fasilitas dan sistem akademik kampus, sesi bersama Ketua Program Studi, serta pertemuan dengan mahasiswa senior internasional.

Dalam sambutannya, Nihlah Ilhami, Kepala Divisi Mobilitas Internasional UII, menyampaikan bahwa mahasiswa internasional akan segera mengikuti serangkaian agenda kegiatan di UII seperti International Student Gathering: Monitoring & Evaluation bersama Kantor Imigrasi, serta program penguatan literasi akademik. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan fasilitas kampus secara proaktif, termasuk peluang mobilitas internasional yang disediakan UII untuk memperluas pengalaman akademik dan jejaring global.

Sementara itu, Dian Sari Utami, selaku Direktur Kemitraan/Kantor Urusan Internasional UII, menyampaikan bahwa keikutsertaan UII sebagai perguruan tinggi penerima beasiswa KNB dan TIAS merupakan bagian dari kontribusi UII terhadap diplomasi pendidikan Indonesia. “UII berkomitmen menyediakan ekosistem pembelajaran yang inklusif dan berdaya saing global. Kehadiran penerima KNB dan TIAS di UII bukan hanya memperkaya atmosfer akademik, tetapi juga memperkuat jejaring internasional yang dibangun melalui pendidikan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, UII menegaskan komitmennya dalam mendukung keberhasilan studi mahasiswa internasional serta memperkuat kontribusi UII dalam diplomasi pendidikan dan pengembangan kerja sama global. (NI/AHR/RS)