• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • DAFTAR SEKARANG
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Innovation2 / 2025
Humas
Berita Kegiatan, Kampus Berdampak, Nilai Kebangsaan dan Kemanusiaan

Seruan Taubat Ekologis untuk Merespons Bencana Sistemik di Sumatera

Pusat Studi Hukum Islam (PSHI), Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas rangkaian bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera. Bencana ini tidak hanya merenggut korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi, tetapi juga menghancurkan rumah, lahan pertanian, dan sumber penghidupan masyarakat hingga trauma psikologis. Read more

30 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Seruan-Taubat-Ekologis-untuk-Merespons-Bencana-Sistemik-di-Sumatera.webp 569 894 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-30 15:27:332026-07-07 10:32:00Seruan Taubat Ekologis untuk Merespons Bencana Sistemik di Sumatera
Humas
Berita Kegiatan, Kampus Berdampak, Pendidikan

Microcredential BIM Dorong Inovasi dan Adopsi Teknologi Digital di Profesi Arsitek

Pusat Studi Pusat Inovasi Konstruksi Digital (PIKD) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) UII dan Institut BIM Indonesia (IBIMI) menyelenggarakan kegiatan Yudisium Microcredential Building Information Modeling (BIM) pada Senin (29/12) di Auditorium Gedung Moh. Natsir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Kampus Terpadu UII. Read more

30 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/Yudisium-BIM-PPAr-2025-scaled.jpg 1707 2560 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-30 06:23:572026-07-07 10:02:39Microcredential BIM Dorong Inovasi dan Adopsi Teknologi Digital di Profesi Arsitek
985230102
Pojok Rektor

Melambat di Zaman Serba Cepat

Di momen berbahagia ini, izinkan saya mengajak Saudara memaknai wisuda bukan sebagai garis akhir perjalanan, melainkan gerbang awal petualangan kehidupan yang lebih luas terbentang.

Dunia yang terus berlari

Dunia di luar sana bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. Teknologi berubah dalam hitungan bulan, pekerjaan yang hari ini ada, lima tahun mendatang bisa saja tinggal cerita.

Karena itu, keberhasilan sejati kini bukan semata tentang keahlian tunggal, melainkan tentang keluwesan beradaptasi di tengah perubahan yang dinamis. Adapasi adalah keberanian menjelajah wilayah baru tanpa gentar, dan keterbukaan untuk terus belajar, menyerap makna, memperbarui diri, seraya melangkah dengan rendah hati dan sekaligus percaya diri.

Kita hidup di zaman yang sangat bising, bukan hanya oleh suara, tetapi oleh banjir informasi, opini, dan tuntutan untuk selalu bereaksi cepat. Setiap hari kita digoda untuk segera merespons, menyimpulkan, dan mengambil posisi, seolah kecepatan adalah tanda kecerdasan. Padahal, seperti diingatkan Daniel Kahneman, manusia kerap keliru justru ketika merasa paling yakin. Kebijaksanaan tidak lahir dari reaksi spontan, melainkan dari kejernihan berpikir dan keberanian untuk melambat.

 

Jebakan berpikir cepat

Kahneman (2011), peraih Nobel Ekonomi, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa pikiran manusia bekerja melalui dua sistem. Sistem pertama bekerja cepat, otomatis, dan emosional; ia membantu kita bereaksi instan, tetapi juga rawan bias dan kesalahan. Sistem kedua bekerja lebih lambat, penuh usaha, dan analitis; ia memang melelahkan, tetapi di sanalah penilaian yang lebih jernih terbentuk. Masalahnya, dunia hari ini hampir selalu memaksa kita hidup dalam sistem pertama—cepat membaca judul, cepat menyimpulkan isi, cepat membagikan tanpa sempat memeriksa.

Bayangkan seseorang yang melihat tali di lantai dan seketika meloncat karena mengira itu ular. Reaksi cepat itu wajar dan bahkan berguna. Namun, bayangkan jika semua keputusan hidup diambil dengan logika yang sama: memilih pekerjaan hanya karena terlihat bergengsi, mengikuti arus opini karena takut tertinggal, atau mengambil keputusan besar hanya karena semua orang melakukannya. Di sinilah berpikir cepat menjadi jebakan.

Menjaga akal sehat berarti memberi ruang bagi sistem kedua untuk bekerja. Artinya, berani berhenti sejenak sebelum bereaksi, berani bertanya sebelum percaya, dan berani menimbang sebelum memutuskan. Kahneman menyebut salah satu jebakan terbesar manusia sebagai overconfidence—bias, atau kesalahan sistematis, karena rasa percaya diri berlebihan pada penilaian sendiri. Di sini ada ilusi pemahaman. Banyak kesalahan besar dalam hidup bukan lahir dari kurangnya informasi, tetapi dari keyakinan yang terlalu cepat dan tidak diuji.

Sebagai ilustrasi, kita bisa melihat bagaimana pilihan publik dalam demokrasi sering kali ditentukan oleh apa yang disebut sebagai demokrasi perasaan (democracy of feelings) (Davies, 2018). Dalam situasi ini, keputusan tidak lahir dari penimbangan yang jernih atas gagasan, rekam jejak, dan dampak jangka panjang, melainkan dari emosi sesaat: rasa takut, marah, bangga, atau harapan yang dibangkitkan lewat slogan dan simbol.

Ketika emosi diberi panggung utama, sistem berpikir cepat mengambil alih—kita merasa yakin telah “memahami”, padahal yang bekerja sering kali hanyalah ilusi pemahaman. Pilihan pun dijatuhkan dengan penuh percaya diri, meski tanpa pengujian yang memadai. Di sinilah kita belajar bahwa hak memilih saja tidak cukup; yang lebih penting adalah kualitas cara memilih. Tanpa keberanian untuk berhenti sejenak, bertanya, dan menimbang secara rasional, demokrasi—baik dalam politik maupun dalam kehidupan sehari-hari—mudah tergelincir menjadi sekadar ekspresi perasaan, bukan keputusan yang benar-benar disadari.

Ilustrasi lain yang lebih sederhana: ketika kita menyetir di jalan yang macet, klakson bisa membuat kita merasa bergerak lebih cepat, padahal kenyataannya tidak. Atau, bisa jadi kita  menggunakan bahu jalan sebagai jalur baru ketika kemacetan sedang terjadi. Kita merasa akan menyelesaikan masalah, tetapi tak jarang, keputusan cepat justru memperburuk kemacetan.

Demikian pula dalam hidup—bereaksi cepat sering memberi rasa puas sesaat, tetapi tidak selalu membawa kita lebih jauh. Justru mereka yang mampu menahan diri, menjaga kejernihan pikiran, dan memilih dengan sadar, biasanya melangkah lebih tepat.

 

Keberanian untuk melambat

Ilmu yang Saudara peroleh di bangku kuliah telah melatih logika dan nalar. Namun, kehidupan akan menguji sesuatu yang lebih dalam: kemampuan untuk tetap jernih ketika dunia menjadi gaduh, tetap tenang ketika tekanan datang bertubi-tubi, dan tetap berpegang pada nilai ketika pilihan terasa mudah tetapi menyesatkan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan semakin gaduh, kejernihan akal menjadi kompas yang menuntun langkah. Ilmu pengetahuan melatih nalar, tetapi kebijaksanaan tumbuh dari kemampuan memilah, menimbang, dan menentukan arah dengan tenang. Masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat bereaksi, melainkan milik mereka yang mampu berpikir jernih, bertindak bijak, dan tetap waras di tengah hiruk-pikuk zaman.

Pilihan-pilihan yang mempunyai implikasi penting dan jangka panjang, sudah seharusnya didasarkan pada sistem kedua: berpikir lambat.

 

Referensi

Davies, W. (2018). Nervous states: How feeling took over the world. Random House.

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Sambutan pada acara wisuda Universitas Islam Indonesia, 27 dan 28 Desember 2025.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

26 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/Cepat-dan-lambat.jpg 1667 2500 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022025-12-26 12:57:072025-12-26 12:57:59Melambat di Zaman Serba Cepat
Humas
Berita Kegiatan, Kampus Berdampak, Nilai Kebangsaan dan Kemanusiaan, Pilihan

Mitigasi Multidisiplin Tim Medis UII Peduli dalam Pemulihan Pascabencana Tapanuli Tengah

Barus bukanlah daerah biasa, wilayah pesisir Tapanuli Tengah ini mendapat julukan “Kota Para Aulia” karena sejarahnya. Barus adalah pusat perdagangan internasional sejak abad ke-7 yang memperkenalkan kapur barus dan rempah ke dunia, sekaligus menjadi gerbang fajar Islam di Nusantara. Namun, di penghujung tahun 2025, narasi kejayaan itu tertutup lumpur pekat. Read more

25 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/Mitigasi-Multidisiplin-Tim-Medis-UII-Peduli-dalam-Pemulihan-Pascabencana-Tapanuli-Tengah-2.jpeg 1280 960 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-25 14:35:032026-07-06 17:29:18Mitigasi Multidisiplin Tim Medis UII Peduli dalam Pemulihan Pascabencana Tapanuli Tengah
Humas
Berita Kegiatan

UII Terima Bantuan Lima Pohon Kelengkeng dari Telaga Nursery

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima bantuan lima pohon kelengkeng dari Telaga Nursery yang kemudian ditanam di lingkungan kampus UII pada Rabu (24/12). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus penguatan kolaborasi antara UII dan Telaga Nursery yang selama ini telah terjalin dalam kegiatan pembekalan purna tugas pegawai.

Pohon kelengkeng yang ditanam merupakan jenis kelengkeng Itoh Super, varietas unggulan kelengkeng dataran rendah yang dikenal memiliki kualitas buah premium. Kelengkeng Itoh Super memiliki daging buah tebal, biji relatif kecil, serta rasa manis legit dengan aroma khas. Varietas ini juga dikenal adaptif dan produktif, sehingga banyak dikembangkan di berbagai perkebunan kelengkeng di Indonesia sebagai tanaman bernilai edukatif, ekonomis, dan berkelanjutan.

Perkebunan kelengkeng Itoh Super yang dikelola Telaga Nursery memiliki rekam jejak sebagai lokasi pembelajaran dan pembekalan, termasuk dimanfaatkan oleh Universitas Islam Indonesia dalam kegiatan pembekalan purna tugas. Melalui pemanfaatan tersebut, peserta pembekalan tidak hanya memperoleh wawasan praktis, tetapi juga nilai reflektif tentang keberlanjutan, produktivitas, dan keseimbangan pasca purna tugas.

Dalam kegiatan ini, pihak UII diwakili oleh staf Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan, sedangkan dari Telaga Nursery hadir Isto Suwarno selaku Owner Telaga Nursery dan Faizal Wahyu selaku Pengelola Umum Telaga Nursery. Bantuan pohon kelengkeng ini diberikan sebagai ungkapan terima kasih sekaligus bentuk apresiasi atas kerja sama dan hubungan baik yang telah terjalin.

Penanaman pohon dilakukan di area kampus UII, tepatnya di sisi utara sebelah barat Rusun Putri UII. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis dan dilanjutkan dengan penanaman bersama sebagai wujud komitmen kebersamaan, silaturahmi, dan kolaborasi yang berkelanjutan antara kedua belah pihak.

Melalui kegiatan ini, Universitas Islam Indonesia menyambut baik inisiatif Telaga Nursery dan berharap pohon kelengkeng yang ditanam dapat tumbuh subur serta memberikan manfaat jangka panjang, baik sebagai bagian dari ruang hijau kampus maupun sebagai simbol sinergi dan kolaborasi yang terus terjaga. Inisiatif ini juga selaras dengan tema Milad ke-82 UII, “UII Mengerti Bumi”, sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan komitmen universitas dalam mendukung keberlanjutan. (NSS/AHR/RS)

25 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/UII-Terima-Bantuan-Lima-Pohon-Kelengkeng.jpg 588 786 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-25 13:03:482026-01-06 13:06:43UII Terima Bantuan Lima Pohon Kelengkeng dari Telaga Nursery
985230102
Kewirausahaan dan Hilirisasi, Pojok Rektor

Dampak Riset Tidak Hanya Hilirisasi

Kehadiran para doktor baru ini akan memperkuat posisi UII dalam ekosistem pendidikan tinggi—baik di tingkat nasional maupun global—melalui kontribusi akademik yang lebih bermakna, relevan, dan berguna bagi masyarakat luas.

Hingga akhir tahun 2025, UII tercatat memiliki 254 dosen bergelar doktor, atau 32,60% dari total 779 dosen yang mengabdi di universitas ini. Angka ini bukan hanya sebuah statistik, tetapi bukti konsistensi UII dalam membangun fondasi akademik yang kuat.

Selain itu, saat ini terdapat 202 dosen UII yang sedang menempuh studi doktoral di berbagai perguruan tinggi bergengsi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Berdasarkan proyeksi yang realistis, jumlah dosen berpendidikan doktor di UII ke depan berpotensi mencapai 456 orang, atau sekitar 58,54% dari total dosen.

Pertumbuhan ini menunjukkan dua hal penting: pertama, komitmen institusi untuk terus berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia akademik; dan kedua, kesungguhan para dosen untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai ilmuwan dan pendidik.

Dengan bertambahnya jumlah doktor, UII semakin memiliki modal intelektual yang kuat untuk mendorong riset bermutu, memperluas jejaring akademik, dan menghasilkan inovasi yang relevan bagi masyarakat.

 

Keragaman tradisi

UII dengan penuh rasa syukur menyambut 33 doktor baru yang telah berhasil menuntaskan studi S3 di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain dari beragam perguruan tinggi di Indonesia, sebagian doktor lulusan tahun 2025 ini juga menempuh pendidikan di beragam kawasan dunia—mulai dari Australia, Brunei Darussalam, Estonia, Jepang, Korea, Malaysia, Swedia, Turki, hingga Inggris—yang semuanya memberikan pengayaan perspektif dan pengalaman akademik yang sangat berharga.

Dari 33 doktor baru tersebut, 16 dosen menyelesaikan studi di universitas dalam negeri, sementara 17 lainnya meraih gelar doktor dari perguruan tinggi luar negeri.

Keberagaman lintasan akademik para doktor baru ini sungguh mencerminkan keluasan orientasi intelektual UII serta keterbukaan kita terhadap kolaborasi dan pertumbuhan nasional dan global. Para doktor baru kembali dengan pengalaman belajar yang beragam, dengan perspektif yang dibentuk oleh dialog lintas negara, lintas budaya, dan lintas tradisi keilmuan.

Dalam banyak hal, keberagaman ini dapat kita ibaratkan seperti hutan multikultur—sebuah ekosistem yang terdiri atas pepohonan dari berbagai jenis, yang tumbuh berdampingan, saling menguatkan, dan menciptakan ketahanan yang jauh lebih kokoh dibandingkan hutan monokultur.

Hutan multikultur mampu menahan badai lebih baik, memulihkan diri lebih cepat, memberikan manfaat ekologis yang lebih luas, dan menjadi sumber kehidupan bagi lebih banyak makhluk.

Demikian pula UII: keberagaman keilmuan, latar pendidikan, dan pengalaman nasional dan internasional para doktor baru menjadikan universitas ini lebih resilien, lebih subur secara intelektual, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.

Saya meyakini bahwa ragam latar belakang pendidikan tersebut tidak hanya memperkaya pandangan keilmuan di lingkungan UII, tetapi juga membuka jalan bagi jejaring kolaborasi yang semakin luas dan strategis.

Perjalanan untuk mencapai gelar doktor tidak hanya menuntut ketekunan, tetapi juga kedewasaan intelektual. Gelar ini menandai kesiapan para doktor baru untuk menjadi penjaga nalar publik dan penggerak transformasi di lingkungan akademik maupun masyarakat luas.

 

Dampak riset

Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat kuatnya dorongan nasional untuk menilai dampak riset terutama melalui hilirisasi—komersialisasi, penciptaan produk, atau kontribusi ekonomi. Hilirisasi tentu penting, namun jangan sampai kita justru menyempitkan makna riset.

Terdapat empat alasan mendasar mengapa pendekatan tersebut tidak memadai.

Pertama, riset menghasilkan dampak yang jauh lebih luas daripada komersialisasi. Ada dampak ilmiah yang memperkuat teori dan pengetahuan; dampak sosial yang mengubah praktik dan perilaku; dampak kebijakan yang memperbaiki regulasi; hingga dampak budaya dan lingkungan yang menjaga keberlanjutan kehidupan. Jika hanya dilihat dari hilirisasinya, kita mengabaikan kontribusi riset lain yang tidak kalah penting bagi masyarakat.

Kedua, pendekatan hilirisasi tidak adil bagi banyak disiplin ilmu. Humaniora, ilmu sosial, hukum, pendidikan, dan studi keagamaan tidak selalu berujung pada produk industri, tetapi memberikan kontribusi besar melalui pemikiran kritis, transformasi sosial, dan penguatan moral masyarakat. Jika kita memaksakan hilirisasi sebagai satu-satunya indikator, kita justru meminggirkan banyak disiplin.

Ketiga, hilirisasi lebih menekankan output jangka pendek—prototipe, paten, atau produk. Padahal banyak dampak riset yang bersifat outcome jangka panjang: perubahan sistem, peningkatan kualitas institusi, penguatan kapasitas masyarakat, dan perbaikan tata kelola. Dampak semacam ini tidak dapat direkam oleh indikator hilirisasi  tetapi tetap menjadi kontribusi penting.

Keempat, perguruan tinggi bukanlah pabrik inovasi komersial. Universitas adalah rumah pencarian kebenaran, ruang dialog intelektual, dan tempat menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Jika dampak riset direduksi hanya pada hilirisasi, universitas dapat kehilangan orientasi dasar sebagai institusi pengetahuan yang melayani kepentingan publik. Kita harus memastikan bahwa inovasi tidak menggeser integritas, dan bahwa perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai perenial, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Empat argumen tersebut bukan hanya kerangka pikir, tetapi penanda tanggung jawab. Para doktor baru telah memasuki fase baru pengabdian ilmiah. Saya berharap para doktor baru menjadi ilmuwan yang mampu melihat dampak riset secara utuh—yang tidak hanya mengejar produk, tetapi juga mengejar perubahan sosial, memperkuat nilai, dan membangun masa depan bangsa.

Keragaman perspektif ini, menurut saya, diperlukan untuk tetap menjaga akal sehat lembaga pendidikan tinggi. Tentu, perspektif yang baru saja saya sampaikan tidak lantas mengerdilkan arti penting hilirisasi.

Saya berharap, para doktor baru akan memajukan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan orientasi kemaslahatan; yang menghadirkan inovasi tanpa melupakan integritas; dan yang memadukan keunggulan akademik dengan kepedulian terhadap sesama.

UII berharap kehadiran para doktor baru akan memperkuat ekosistem riset yang inklusif, berakar pada nilai, dan berdampak luas bagi masyarakat. Selamat pulang kampus di Universitas Islam Indonesia.

Semoga Allah Swt. meridai setiap langkah kita dalam memajukan ilmu dan memuliakan kehidupan.

Sambutan pada acara penyambutan doktor baru Universitas Islam Indonesia, 11 Desember 2025

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

22 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/Doktor-baru.jpeg 1018 1274 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022025-12-22 08:03:552026-06-24 19:07:42Dampak Riset Tidak Hanya Hilirisasi
Humas
Berita Kegiatan, Kampus Berdampak, Nilai Kebangsaan dan Kemanusiaan

Perkuat Kesadaran Demokratis Mahasiswa, PSAD UII Gelar School of Democracy and Diversity #3

Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia (UII) rmenyelenggarakan School of Democracy and Diversity (SDD) edisi ketiga pada Jumat-Sabtu (19-20/12) di Sokkyo Homestay, sebagai upaya memperkuat kesadaran demokratis di tengah keragaman bangsa. Kegiatan yang diikuti oleh 25 aktivis mahasiswa lintas agama dan suku ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional serta akademisi terkemuka untuk mendiskusikan peran agama dalam harmoni sosial serta tantangan politik identitas di era modern. Melalui pelatihan intensif selama dua hari, para peserta diharapkan mampu menjadi pionir dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih inklusif, toleran, dan damai. Read more

21 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/Perkuat-Kesadaran-Demokratis-Mahasiswa-PSAD-UII-Gelar-School-of-Democracy-and-Diversity-3-.jpeg 1067 1600 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-21 11:44:452026-07-06 17:31:33Perkuat Kesadaran Demokratis Mahasiswa, PSAD UII Gelar School of Democracy and Diversity #3
Humas
Berita Kegiatan, Kampus Berdampak, Pendidikan, Pilihan, Riset dan Inovasi

UII Kukuhkan Tiga Guru Besar

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengukuhkan tiga guru besar terdiri atas dua dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yaitu Prof. Dr. apt. Vitarani Dwi Ananda Ningrum, S.Si., M.Si dalam bidang Farmasi Klinis dan Farmakoterapi dan Prof. apt. Suci Hanifah, S.F., M.Si., Ph.D dalam bidang Farmasi Klinis serta satu dari Fakultas Teknologi Industri yaitu Prof. Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T dalam bidang Sistem Pendukung Keputusan Klinis. Ketiganya menyampaikan pidato pengukuhan pada Kamis (18/12) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.


Pengobatan Presisi: Translasi Bench to Bedside  untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien
Dalam pidato pengukuhannya bertajuk “Pengobatan Presisi: Translasi Bench to Bedside  untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien”, Prof. Vitarani menyinggung tentang pengobatan presisi yang merupakan upaya pengobatan yang lebih menekankan pada keselamatan pasien jika dibandingkan dengan pengobatan yang konvensional atau pendekatan “satu ukuran untuk semua” (one-size-fits-all).

“Pendekatan one-size-fits-all yang terjadi akibat keterbatasan pengetahuan dan teknologi telah ditinggalkan menuju ke pengobatan presisi. Istilah pengobatan presisi (precision medicine) sendiri mulai dikenalkan melalui Human Genome Project (HGP) yang resmi diluncurkan pada tahun 1990 yang menekankan keutamaan pertimbangan variabilitas individu dalam gen, lingkungan, dan gaya hidup dalam keputusan pengobatan,” jelasnya.

Dari hal ini, Prof. Vitarani menekankan pengobatan presisi ini penting untuk didukung pemerintah melalui program nasional  dengan melibatkan semua fasilitas kesehatan yang lengkap dan kapasitas SDM yang handal. Menurutnya, pengobatan presisi ini perlu diberlakukan untuk semua warga negara Indonesia dengan tetap menjunjung tinggi prinsip etik, berkeadilan serta berorientasi pada kemaslahatan.

“Melalui integrasi pengobatan presisi dengan akal imitasi (AI) di Indonesia melalui Healthcare AI Hackathon 2025 diharapkan dapat menyediakan algorime prediksi keamanan dan efektivitas penggunaan obat berbasis maha data pasien yang memerlukan komitmen bersama dalam mewujudkannya,” harap Prof. Vitarani.

Apoteker dan Keamanan Terapi Parenteral pada Perawatan Kritis
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Suci Hanifah memberikan pidato pengukuhannya bertajuk “Apoteker dan Keamanan Terapi Parenteral pada Perawatan Kritis” menekankan pentingnya peran apoteker dalam menjamin keamanan dan efektivitas terapi parenteral, khususnya pada pasien dengan kondisi kritis.

Prof. Suci menjelaskan bahwa terapi parenteral merupakan fondasi utama perawatan pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU) dimana hampir seluruh intervensi farmakologis pada pasien dengan kondisi mengancam nyawa diberikan melalui jalur ini karena cepat, invasif, dan tanpa toleransi terhadap kesalahan, Namun memiliki risiko  tinggi jika tidak dikelola dengan tepat. “Terapi parenteral bukan semata persoalan teknis pemberian obat, tetapi persoalan etik dan sistemik yang menuntut perhatian serius karena berdampak langsung pada keselamatan pasien,” ujarnya.

Menurut Prof. Suci, kompleksitas terapi pada pasien kritis diperparah oleh perubahan fisiologis yang ekstrem serta penggunaan banyak obat intravena secara bersamaan, sehingga meningkatkan potensi kesalahan farmakoterapi dan inkompatibilitas obat.

Oleh karena itu, Ia menegaskan pentingnya keterlibatan apoteker secara aktif dalam tim perawatan kritis. “Apoteker harus hadir sebagai penjaga rasionalitas terapi dan keamanan sistem, bukan hanya sebagai penyedia obat,” tegasnya.

Mewujudkan Layanan Kesehatan Primer Cerdas dan Inklusif Melalui Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Data

Dalam pidato pengukuhannya bertajuk «Mewujudkan Layanan Kesehatan Primer Cerdas dan Inklusif Melalui Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Data», Prof. Sri Kusumadewi, menekankan pentingnya pemanfaatan Sistem Pendukung Keputusan Klinis (SPKK) berbasis data dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya pada layanan kesehatan primer yang inklusif dan berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa SPKK dirancang untuk membantu tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan medis, mulai dari diagnosis, pemilihan terapi, hingga pemantauan pasien. “Sistem pendukung keputusan klinis dapat memberikan rekomendasi yang informatif dan tepat untuk mendukung keputusan medis yang bersifat kritis,” jelasnya.

Menurut Prof. Cici, begitu sapaan akrab dari Prof. Sri Kusumadewi, pengembangan SPKK di Indonesia sejalan dengan transformasi layanan kesehatan melalui Program Integrasi Layanan Primer (ILP) dan platform SatuSehat yang memungkinkan interoperabilitas data kesehatan lintas fasilitas. Dengan integrasi tersebut, deteksi dini penyakit dan pemantauan kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia dapat dilakukan secara lebih sistematis dan berbasis data.

Lebih lanjut, Prof. Sri menegaskan bahwa penerapan SPKK juga mendukung pendekatan promotif dan preventif melalui deteksi dini berbagai kondisi kesehatan, serta membantu tenaga kesehatan menyesuaikan intervensi secara lebih adaptif dan berbasis data. “Pemanfaatan sistem pendukung keputusan klinis memungkinkan layanan kesehatan menjadi lebih responsif, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujarnya. menambahkan bahwa pengembangan dan implementasi SPKK oleh UII telah dimanfaatkan dalam layanan kesehatan berbasis masyarakat di Tirtorahayu, Galur, Kulon Progo serta pada kegiatan Posbindu sivitas akademika FTI UII. (AHR/RS)

19 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/UII-Kukuhkan-Tiga-Guru-Besar-scaled.jpeg 1706 2560 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-19 11:56:202026-07-08 16:37:21UII Kukuhkan Tiga Guru Besar
Humas
Berita Kegiatan

SP UII Selenggarakan Pelatihan Penanganan Perkara di Lingkungan Kampus

Sekretariat Pimpinan (SP) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Pelatihan Penanganan Perkara di Lingkungan UII dalam rangka penguatan kompetensi dan peningkatan etos layanan, pada Rabu (17/12) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, yakni Kepala Badan Etika dan Hukum UII Anang Zubaidy, S.H., M.H.; dosen Jurusan Psikologi UII Dr. Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si., Psikolog dan Rr. Indahria Sulistya Rini, S.Psi., M.A., Psikolog; serta dosen Fakultas Hukum (FH) UII sekaligus Ketua DPC PERADI Kota Yogyakarta Dr. Ariyanto, S.H., C.N., M.H.

Sekretaris Eksekutif UII, Hangga Fathana, S.IP., B.Int.St., M.A., menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi momentum penting karena perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai penghasil pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai-nilai etika. “Setiap proses di lingkungan perguruan tinggi perlu dijaga agar tetap stabil, andal, dan bermanfaat bagi banyak pihak,” ungkapnya.

Ia berharap pelatihan ini dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya prosedur penanganan perkara yang tepat di lingkungan universitas. “Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teknis, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan dalam menjalankan layanan yang profesional dan berintegritas,” harap Hangga.

Menjaga Kerahasiaan, Netralitas, dan Praduga Tidak Bersalah
Materi pertama dibawakan oleh Dr. Ariyanto, S.H., C.N., M.H. yang menegaskan pentingnya prinsip kerahasiaan, inparsialitas, dan praduga tidak bersalah dalam setiap proses penanganan perkara. Prinsip-prinsip ini dinilai sebagai fondasi etika dan hukum agar proses berjalan adil bagi semua pihak.

Ariyanto menyampaikan bahwa kerahasiaan bertujuan melindungi martabat dan keamanan korban. “Identitas korban harus dijaga untuk mencegah trauma berulang dan stigma sosial,” sebagaimana ditekankan dalam prinsip penanganan perkara berbasis korban dan hak asasi manusia.

Selain itu, aparat penegak disiplin kampus dituntut bersikap objektif dan tidak memihak. Inparsialitas diperlukan agar setiap keputusan benar-benar didasarkan pada fakta dan aturan yang berlaku, bukan tekanan internal maupun eksternal.

Terkait praduga tidak bersalah, pemateri menegaskan bahwa setiap terlapor tetap memiliki hak hukum. “Setiap orang dianggap tidak bersalah sampai ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. Prinsip ini adalah benteng terakhir perlindungan hak individu,” tegasnya.

Pendekatan Berbasis Korban sebagai Paradigma Penanganan Perkara
Selain aspek regulasi, pelatihan juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis korban (victim-centered approach) dalam penanganan perkara di lingkungan kampus. Pendekatan ini menempatkan korban sebagai subjek utama yang kebutuhannya harus diprioritaskan sejak tahap pelaporan hingga pemulihan.

Dr. Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si., Psikolog menjelaskan bahwa pendekatan berbasis korban bertujuan mencegah reviktimisasi. “Korban tidak hanya membutuhkan keadilan hukum, tetapi juga rasa aman, pengakuan, dan pemulihan psikologis,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Ia menekankan bahwa kasus perundungan, pelanggaran etika akademik, dan kekerasan seksual dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental korban. Dampak tersebut meliputi kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma yang berpengaruh langsung pada keberlanjutan pendidikan korban.

“Pendekatan ini mengajak korban berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya,” kata Retno. Menurutnya, layanan penanganan harus bersifat holistik, mencakup aspek psikologis, sosial, dan hukum secara terintegrasi.

Pendalaman Regulasi Penanganan Kekerasan di Lingkungan Kampus
Lebih lanjut, Anang Zubaidy sebagai narasumber ketiga menekankan pentingnya pemahaman regulasi nasional dan internal kampus dalam menangani berbagai bentuk kekerasan. Salah satu regulasi utama yang dibahas adalah Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi.

Anang menjelaskan bahwa peningkatan kesadaran hukum di kampus berbanding lurus dengan meningkatnya pelanggaran disiplin. Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut memiliki sistem penanganan yang jelas, adil, dan berorientasi pada perlindungan seluruh warga kampus.

Dalam regulasi tersebut, kekerasan didefinisikan secara luas, mulai dari kekerasan fisik, psikis, perundungan, kekerasan seksual, hingga kebijakan yang mengandung unsur kekerasan. “Penanganan kasus tidak boleh parsial, tetapi harus berpijak pada prinsip kepastian hukum dan keadilan substantif,” tegas Anang dalam paparannya.

Ia juga menambahkan bahwa regulasi internal UII telah diselaraskan dengan kebijakan nasional. “UII memiliki aturan disiplin pegawai dan mahasiswa yang secara tegas mengatur mekanisme penanganan, sanksi, dan perlindungan korban,” ujarnya.

Pelatihan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang dipimpin oleh Rr. Indahria Sulistya Rini, S.Psi., M.A., Psikolog. Dalam sesi ini, setiap kelompok diberikan studi kasus untuk dianalisis menggunakan sejumlah indikator pemecahan masalah, mulai dari identifikasi permasalahan hingga penentuan tindak lanjut yang tepat.

Melalui pelatihan ini, dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Sekretariat Pimpinan UII diharapkan menjadi lebih peka, responsif, dan profesional dalam menangani berbagai persoalan di lingkungan kerja, khususnya yang berkaitan dengan etika, disiplin, dan penanganan perkara secara adil serta berintegritas. (AHR/RS)

18 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/SP-UII-Selenggarakan-Pelatihan-Penanganan-Perkara-di-Lingkungan-Kampus-scaled.jpg 1707 2560 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-18 14:48:092025-12-22 15:04:26SP UII Selenggarakan Pelatihan Penanganan Perkara di Lingkungan Kampus
Humas
Berita Kegiatan, Kampus Berdampak, Pendidikan, Pilihan, Riset dan Inovasi

UII Resmi Kukuhkan Dua Guru Besar Baru

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengukuhkan dua guru besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSP) yaitu Prof. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU dalam bidang rekayasa pengolahan air dan limbah serta dari Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag dalam bidang hukum perdata Islam. Dua guru besar ini menyampaikan pidato pengukuhan pada Selasa (16/12) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.

Inovasi Pengolahan Air dan Limbah Berkelanjutan Menggunakan Adsorben Ramah Lingkungan
Dalam pidato pengukuhannya yang bertajuk “Inovasi Pengolahan Air dan Limbah Berkelanjutan Menggunakan Adsorben Ramah Lingkungan”, Prof. Eko Siswoyo menyoroti Pertumbuhan populasi penduduk yang cepat dan industrialisasi yang tak terbendung saat ini menjadikan kualitas sumber daya air kita terancam secara signifikan. Di berbagai lokasi di dunia, termasuk Indonesia, sungai dan sumber air lainnya telah mengalami pencemaran yang parah akibat limbah rumah tangga dan limbah industri yang tidak dikelola dengan baik

“Pencemaran sungai dan sumber air oleh limbah domestik maupun industri, terutama yang mengandung logam berat seperti kadmium, timbal, dan kromium, dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Kontak dengan logam berat ini dapat mengakibatkan kerusakan ginjal, gangguan sistem saraf, hingga berbagai jenis kanker,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pengembangan teknologi pengolahan air yang efektif, efisien, dan mudah diterapkan. Salah satu solusi yang disoroti adalah teknologi adsorpsi menggunakan adsorben ramah lingkungan berbasis biomassa dan limbah. Prof. Eko menyebut metode ini memiliki keunggulan dari sisi biaya, kemudahan operasional, serta kemampuan tinggi dalam menyerap polutan berbahaya, terutama logam berat.

Lebih lanjut, Prof. Eko memperkenalkan inovasi adsorben berbentuk serat (fiber) yang dikembangkannya. Berbeda dengan adsorben serbuk, adsorben fiber lebih mudah dipisahkan dari air setelah proses pengolahan dan berpotensi untuk digunakan kembali, sehingga lebih praktis dan berkelanjutan.

“Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi pengolahan air yang murah, mudah, dan memiliki efisiensi tinggi, khususnya untuk menjawab keterbatasan teknologi dan biaya di masyarakat,” tutup Prof. Eko.

Realitas Baru dan Masa Depan Indonesia Berbasis Islam Peradaban
Pada kesempatan yang sama,  Dalam pidatonya yang bertajuk “Realitas Baru dan Masa Depan Indonesia Berbasis Islam Peradaban” Prof. Yusdani menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap hasil reformasi konstitusi UUD NRI Tahun 1945, baik dari sisi substansi maupun implementasinya dalam praktik penyelenggaraan negara.

Menurut Prof. Yusdani, perubahan konstitusi merupakan hal yang lumrah dalam negara demokratis. Ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia perlu terus bergerak maju melalui mekanisme perubahan UUD yang konstitusional, bukan kembali ke format lama. “Perubahan Undang-Undang Dasar adalah bagian dari dinamika negara konstitusional dan telah diatur secara resmi dalam UUD 1945,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Yusdani menyoroti adanya sebagian kelompok masyarakat, termasuk umat Islam yang masih memandang konstitusi sebagai produk sekuler sehingga melahirkan mentalitas “luar pagar”. Ia menegaskan bahwa konstitusi sejatinya merupakan kesepakatan bersama yang memuat nilai-nilai luhur dan bersifat inklusif. “Demokrasi sejati harus berjalan sesuai konstitusi, karena itulah yang disebut demokrasi konstitusional,” katanya.

Dalam konteks keislaman, Prof. Yusdani menekankan perlunya dialog antara nilai-nilai Islam dan nilai dasar konstitusi. Ia menegaskan bahwa nilai keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan yang terkandung dalam UUD 1945 sejatinya selaras dengan ajaran Islam. “Tantangan umat Islam hari ini bukan formalisasi simbolik, tetapi bagaimana menghidupkan nilai konstitusi secara adil dan jujur,” tegasnya.

Menutup pidatonya, Prof. Yusdani mengajak umat Islam untuk berperan aktif dalam memperkuat etika, integritas, dan kejujuran dalam penyelenggaraan negara. Ia menegaskan bahwa kesetiaan terhadap konstitusi merupakan bagian dari komitmen moral dan kebangsaan, sehingga Islam dan konstitusi dapat berjalan saling melengkapi dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945. (AHR/RS)

16 Desember 2025
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/UII-Resmi-Kukuhkan-Dua-Guru-Besar--scaled.jpeg 1706 2560 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-12-16 11:59:002026-07-08 16:43:41UII Resmi Kukuhkan Dua Guru Besar Baru
Page 1 of 31123›»

Berita Terakhir

  • UII Gelar Pelatihan Pengelolaan Konten Berbasis SEO dan AI
  • UII, MUTU International, dan CSU Taiwan Resmi Perluas Kolaborasi Jagad Lestari Center
  • UII Resmi Buka PMB Tahun Ajaran 2027/2028, Gandeng MGBK DIY dan Jawa Tengah
  • UII Sambut Mahasiswa Internasional melalui Program Orientasi Kampus Tahun Akademik 2026/2027
  • Mahasiswa Temasek Polytechnic Ikuti Program Cultural Immersion di UII

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Scroll to top Scroll to top Scroll to top