Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) melalui divisi Sarjana Terapan Market Analyst & Research Team menyelenggarakan Capital Market Insight 2026 dengan tema “Peluang Karir di Pasar Modal” pada Kamis (1/10). Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium Gedung Sarjana Terapan FBE UII tersebut diikuti sekitar 200 peserta.
Kegiatan diawali dengan sambutan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FBE UII, Priyonggo Suseno, S.E., M.Sc., Ph.D. Dalam sambutannya, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak sepenuhnya mengandalkan kecerdasan buatan dalam mengambil keputusan investasi di pasar modal. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan investasi dalam jangka panjang, memahami portofolio yang dipilih, serta belajar dari orang dan sumber yang tepat.
Memasuki sesi utama, kegiatan menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang di industri pasar modal, yaitu Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yogyakarta, Agnes Sindhunita Kusumastuti; Support Representative Kiwoom Sekuritas Yogyakarta, Aji Sukron Makmuri; serta Direktur Ajarika Creative Edupro (ACEPRO), Sri Munawarah.
Agnes Sindhunita Kusumastuti mengawali pemaparan dengan membahas perkembangan dan lanskap pasar modal Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pasar modal domestik sepanjang 2026 menghadapi berbagai dinamika, mulai dari volatilitas global, penyesuaian bobot indeks, hingga arus modal keluar. Di tengah kondisi tersebut, partisipasi investor domestik terus mengalami pertumbuhan hingga mencapai lebih dari 31 juta Single Investor Identification (SID).
Agnes juga menyoroti sejumlah tantangan dalam pendalaman pasar modal, khususnya terkait pemerataan investor dan literasi keuangan. Pertumbuhan jumlah investor perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar masyarakat tidak mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti tren atau Fear of Missing Out (FOMO). Menurutnya, investor perlu memahami profil risiko diri sendiri sekaligus karakteristik produk investasi sebelum menempatkan modal.
Selain perkembangan investor, Agnes turut memperkenalkan dinamika instrumen dan mekanisme baru di pasar modal, termasuk perdagangan karbon serta pemberlakuan kembali mekanisme short selling. Pembahasan tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan ekosistem pasar modal yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan dinamika industri.
Sesi berikutnya diisi oleh Aji Sukron Makmuri yang membagikan perspektif mengenai pengalaman bekerja di industri pasar modal. Berdasarkan pengalamannya di perusahaan sekuritas, Aji memperkenalkan sejumlah posisi yang terdapat dalam industri pasar modal, termasuk customer service, sales, serta berbagai fungsi lain yang berkaitan dengan pelayanan dan aktivitas transaksi nasabah.
Melalui pemaparannya, Aji memberikan gambaran mengenai pekerjaan dan tanggung jawab pada masing-masing posisi di perusahaan sekuritas. Pembahasan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenal lebih dekat kondisi dunia kerja di industri pasar modal sekaligus memahami beragam pilihan karier yang dapat ditekuni setelah menyelesaikan pendidikan.
Sementara itu, Sri Munawarah membahas peluang karier sekaligus sertifikasi yang dapat dipersiapkan mahasiswa untuk memasuki industri keuangan. Ia menjelaskan bahwa perkembangan industri keuangan menghadirkan beragam kebutuhan tenaga profesional dengan kompetensi yang berbeda. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengenali bidang yang ingin ditekuni serta mempersiapkan kompetensi yang relevan, termasuk melalui sertifikasi profesi.
Lebih lanjut, peluang karier di pasar modal tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan saham. Industri tersebut juga membutuhkan berbagai peran, mulai dari research analyst, fund manager, investment banker, dealer, sales, hingga bidang pemasaran, edukasi, dan perencanaan keuangan. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan memiliki ruang untuk mengembangkan karier di industri pasar modal sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
Setelah seluruh pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para narasumber mengenai perkembangan pasar modal, pengalaman bekerja di perusahaan sekuritas, peluang karier, hingga sertifikasi yang dapat dipersiapkan untuk memasuki industri keuangan.
Salah satu peserta, Adinda Masli, menyampaikan bahwa Capital Market Insight 2026 memberikan wawasan baru mengenai perkembangan pasar modal sekaligus peluang karier yang tersedia di dalamnya. Ia juga menilai pembahasan mengenai tantangan literasi keuangan dan perilaku FOMO menjadi hal yang relevan bagi generasi muda.
“Talkshow ini sangat membuka wawasan dan inspiratif. Luar biasa melihat pasar modal kita melompat hingga 31 juta investor domestik yang kini didominasi generasi muda. Saya sangat terkesan pada pemaparan narasumber mengenai tantangan nyata di lapangan, seperti pentingnya sosialisasi ke daerah pedalaman dan perlunya meredam perilaku FOMO lewat pemahaman produk. Pembahasan mengenai career landscape juga membuktikan bahwa industri keuangan saat ini sangat dinamis dan memberikan banyak peluang untuk generasi kita berkarier di dalamnya,” ungkap Adin.
Ia berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan, khususnya sebagai wadah untuk memperkuat literasi keuangan generasi muda. Menurutnya, pembahasan yang dilengkapi dengan lebih banyak studi kasus dan panduan praktis dapat membantu mahasiswa memahami peran yang dapat diambil sebagai bagian dari upaya edukasi pasar modal.