SEAMEO BIOTROP bersama Universitas Islam Indonesia (UII) dan SEAMEO Regional Centre for QITEP in Mathematics (SEAQiM) menyelenggarakan National Training & Regional Seminar on Circular Economy bertema “Circular Economy for Sustainable Agriculture, Natural Resource Management, Nature-Based Tourism, and Education for Sustainable Development through STEM Integration” pada 30 Juni–3 Juli 2026 di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas pendidik, akademisi, peneliti, serta berbagai pemangku kepentingan dalam mengimplementasikan konsep ekonomi sirkular sebagai solusi menghadapi tantangan perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara. Seminar regional dan pelatihan nasional ini juga menjadi wadah untuk memperluas jejaring kolaborasi, berbagi praktik baik, serta mendorong lahirnya inovasi yang dapat diterapkan di dunia pendidikan dan masyarakat.

Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Dr. Edi Santosa, menegaskan bahwa sebagai Regional Centre SEAMEO di bawah pembinaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, SEAMEO BIOTROP terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan inovasi yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

Menurut Prof. Edi Santosa, dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, meningkatnya volume limbah, hingga semakin terbatasnya sumber daya alam. Kondisi tersebut menuntut pendekatan pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

“Ekonomi sirkular merupakan salah satu pendekatan yang semakin mendapat perhatian global karena mendorong efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, pemanfaatan kembali material, serta penciptaan nilai tambah dari sumber daya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Prof. Edi Santosa.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan biomassa pertanian, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, pengembangan nature-based tourism, serta penguatan pendidikan lingkungan.

Semangat kolaborasi tersebut juga tercermin dalam sambutan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Ilya Fajar Maharika yang mengajak seluruh peserta memahami bahwa komitmen UII terhadap pembangunan bangsa telah tumbuh sejak awal berdirinya institusi tersebut. Berawal dari Sekolah Tinggi Islam sebagai perguruan tinggi Islam pertama di Indonesia, UII hingga kini terus mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Mewakili Pemerintah Daerah, Tukiman dari Dinas Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan pelatihan yang melibatkan para guru SMA dari berbagai daerah. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan pendidik sekaligus mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan dan kebutuhan generasi masa depan.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Dewi Wulandari, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim dan Kebencanaan (PUSPIK) UII, menegaskan bahwa PUSPIK memiliki peran strategis dalam mendorong lahirnya riset, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin untuk menghadapi perubahan iklim dan kebencanaan. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai mitra merupakan kunci dalam menghasilkan solusi berkelanjutan, termasuk melalui implementasi ekonomi sirkular.

Sementara itu, Dr. Jatnika, Ph.D., Deputi Direktur Program SEAQiM, menekankan bahwa pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) memiliki keterkaitan erat dengan implementasi ekonomi sirkular. Pembelajaran berbasis STEM, menurutnya, tidak hanya membekali peserta didik dengan kompetensi sains dan teknologi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan inovasi yang diperlukan untuk merancang solusi berkelanjutan.

Koordinator kegiatan, Risa Rosita, S.Si., M.Si., yang juga menjabat sebagai Manager of Science Innovation and Technology Department SEAMEO BIOTROP, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar sekaligus forum kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, lembaga penelitian, komunitas, dan mitra internasional.

“Kami menghadirkan narasumber dari kementerian, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, serta mitra internasional agar peserta memperoleh perspektif yang komprehensif, mulai dari kebijakan, hasil riset, hingga implementasi di lapangan. Melalui pelatihan ini, kami berharap para guru tidak hanya memahami konsep ekonomi sirkular, tetapi juga mampu mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, inovatif, dan relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ujar Risa Rosita.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen SEAMEO BIOTROP untuk memperkuat kapasitas pendidik sekaligus membangun jejaring kolaborasi nasional dan regional. Sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat implementasi ekonomi sirkular yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Rangkaian kegiatan terdiri atas Regional Seminar yang dihadiri oleh peserta dari Indonesia, Filipina, dan Brunei Darussalam, serta menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi, dan pakar dari berbagai institusi untuk berbagi pengalaman, inovasi, dan praktik terbaik mengenai implementasi ekonomi sirkular di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan National Training selama tiga hari yang diikuti oleh para guru Sekolah Menengah Atas (SMA/SMAS) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui pelatihan ini, para peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis mengenai ekonomi sirkular, pemanfaatan biomassa, pengelolaan sumber daya alam, nature-based tourism, serta implementasi Education for Sustainable Development (ESD) melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), yang diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di sekolah..

Melalui penyelenggaraan seminar regional dan pelatihan nasional ini, SEAMEO BIOTROP berharap dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan Pendidikan Berkualitas (SDG 4), Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12), Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13), serta Ekosistem Daratan (SDG 15).

SEAMEO BIOTROP juga berharap kegiatan ini menghasilkan jejaring kolaborasi yang lebih kuat, mendorong lahirnya inovasi pembelajaran berbasis ekonomi sirkular, serta mempercepat implementasi praktik-praktik berkelanjutan yang dapat direplikasi di sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

SEAMEO BIOTROP menyampaikan apresiasi kepada Universitas Islam Indonesia, SEAQiM, seluruh narasumber, panitia, mitra, serta para peserta atas kontribusi dan kerja sama yang telah terjalin. Dukungan media massa juga diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ekonomi sirkular sebagai salah satu strategi menuju pembangunan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara. (IM/AHR/RS)

Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Islam Indonesia (UII) secara resmi menggelar upacara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Profesi Insinyur Perdana pada Ahad, (28/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Momen bersejarah ini menandai kelulusan pertama bagi 88 insinyur profesional sejak program studi ini memperoleh izin penyelenggaraan pada tahun 2025 lalu. Dari total lulusan tersebut, sebanyak 84 orang mengikuti prosesi pengambilan sumpah pada periode ini, dengan rincian 79 orang hadir secara langsung di lokasi acara dan 5 orang mengikuti prosesi secara daring.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU dalam sambutannya menyampaikan bahwa momentum pelantikan ini bukan sekadar seremoni akademik biasa. Sumpah profesi yang diikrarkan merupakan peneguhan amanah profesional yang membawa tanggung jawab besar kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Prof. Eko juga memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh lulusan, khususnya kepada tiga wisudawan yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00, di mana dua di antaranya mengikuti sumpah pada periode ini, yaitu Aziz Noor, S.T. dan  Miftahul Fauziah, S.T., M.T., Ph.D. yang juga merupakan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII Terpilih Periode 2026-2030.

“Sumpah profesi insinyur merupakan peneguhan amanah untuk mengabdikan kompetensi, integritas, dan tanggung jawab bagi kemaslahatan masyarakat. Profesi insinyur memiliki peran strategis dalam pembangunan karena hampir seluruh kemajuan di bidang infrastruktur, energi, industri, teknologi, kesehatan, dan lingkungan lahir dari kontribusi para insinyur. Melalui ilmu pengetahuan dan rekayasa teknologi, insinyur menghadirkan solusi, inovasi, dan karya yang memberi manfaat nyata bagi kehidupan,”ungkap Prof. Eko.

Lebih lanjut, Prof. Eko mengingatkan bahwa tantangan global ke depan menuntut para insinyur untuk selalu inovatif, adaptif, dan mampu berkolaborasi. Beliau berharap para lulusan PSPPI UII mampu menjadi penggerak inovasi dan pelopor pembangunan berkelanjutan yang menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.

Sementara itu, Plt. Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Dr. Ir. Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc., IPU., dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan PSPPI dalam mengantarkan para lulusan perdana ini dalam waktu yang relatif singkat sejak izin operasional diterima.

Agus juga menyoroti keunikan angkatan pertama ini yang memiliki sebaran asal daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Dalam pesannya, Agus menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater serta komitmen mutlak untuk menjauhi praktik korupsi di dunia kerja.

“Pesan kami, sampaikan yang baik-baik tentang UII dan jadilah insan yang betul-betul memahami dan menjalankan sumpah yang tadi disampaikan.. Harapannya, Anda semua menjadi marketing-marketing kebaikan untuk branding UII menjadi universitas yang betul-betul menjadi kebanggaan umat Islam di dunia,” ujar Agus.

Perwakilan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah DIY, Ir. Tri Budi Utama, M.T., PUSDA, IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., memberikan apresiasi yang luar biasa atas capaian PSPPI UII yang langsung meluluskan banyak insinyur di angkatan perdananya. PII mengingatkan para insinyur baru bahwa gelar yang disandang hari ini membawa tanggung jawab moral, keselamatan publik, dan kompetensi yang besar. Di tengah era perkembangan teknologi yang melesat cepat seperti kehadiran Artificial Intelligence (AI), nilai-nilai islami dan integritas harus menjadi kompas utama agar ilmu yang dimiliki tidak berbalik menjadi petaka bagi masyarakat.

“Setinggi apapun ilmu yang kita punyai, tanpa nilai-nilai islami tadi, tanpa takut kepada Allah, maka ilmu yang kita dapat justru membahayakan, akan menjadi petaka bagi kita semua. Kualitas sebuah karya engineer itu bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dua hal yang harus dipegang yaitu adaptif agar tetap relevan dalam dunia yang berubah cepat, dan tetaplah berintegritas agar terus berumat serta menyelamatkan kehidupan manusia di seluruh dunia,” pungkas perwakilan PII.

Dengan terlaksananya pengambilan sumpah ini, PSPPI UII membuktikan komitmen nyatanya dalam mencetak menjadi insinyur profesional yang berintegritas. Upacara yang berlangsung dengan penuh rasa syukur ini menjadi tonggak sejarah penting bagi UII dalam terus berkontribusi melahirkan inovasi dan solusi nyata demi kemaslahatan umat dan bangsa. (AHR/RS)

Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) telah selesai menggelar acara Temu Alumni Nasional bertajuk “Pulang ke FIAI: Merajut Kenangan, Membangun Sinergi, Menyambung Persaudaraan” pada Sabtu (27/6) secara hybrid di Auditorium Gedung KH. Wahid Hasyim Lantai 5 FIAI UII dan zoom meeting. Acara ini dirancang sebagai wadah bagi para alumni FIAI UII untuk kembali merajut memori, bertukar wawasan serta memperkokoh tali silaturahmi antar alumni. 

Kegiatan Temu Alumni Nasional FIAI ini dihadiri oleh pembicara yang hadir dan merupakan alumni FIAI UII yang kini telah berkiprah di berbagai macam bidang profesi. Para pembicara tersebut adalah Dr. Iman Syukri, S.H.I., M.Hum selaku Anggota DPR-RI), Prof. Dr. Fahrurozi, S.Ag., M.Ag selaku Dosen UIN Walisongo, Dr. Achmad Fausi, S.H.I., M.Hum selaku Ketua Pengadilan Agama Probolinggo, Dr. Komaruzzaman, S.Pd.I., M.Pd selaku Pengasuh Pesantren Al-Itqon Banten), Ridwan MY selaku Konsultan dan Soya Sobya, S.E.I., M.M, selaku dosen FIAI UII. 

Acara dimulai dengan Live Music dan penayangan kompilasi foto dan video. Sesi ini dirancang untuk memantik memori para alumni, sekaligus menghadirkan kembali atmosfer hangat masa-masa perkuliahan di lingkungan FIAI UII. Setelah acara dibuka secara resmi, Sabiqul Khair, S.HI.,M.Si sebagai Ketua Panitia Temu Alumni memberikan sambutan yang terasa begitu hangat. Ia menyapa para alumni secara interaktif dengan mengabsen kehadiran peserta berdasarkan tahun angkatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa acara temu alumni dirangkai menjadi tiga acara utama, yaitu sarasehan alumni, pelantikan Pengurus IKA FIAI UII, dan Camping Ground di Teras Merapi. Tiga kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antara alumni dan almamater. 

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FIAI UII, Dr. H. Nur Kholis, S.Ag., S.E.I., M.Sh.Ec. menyampaikan ahlan wa sahlan sebagai perwakilan dari keluarga FIAI UII kepada para alumni yang telah hadir. Dalam sambutannya, ia banyak bercerita mengenai sejarah fakultas yang dulunya memiliki nama Fakultas Syari’ah kini berubah menjadi Fakultas Ilmu Agama Islam. Dengan mencetak begitu banyak alumni yang berprestasi, FIAI UII kini telah membuka program Magister Hukum Islam dan Magister Pendidikan Agama Islam. 

Berikutnya, sesi sarasehan yang dimoderatori oleh Edi Safitri, S.Ag., M.S.I berlangsung hangat. Para pembicara membawakan topik yang berbeda-beda. Pertama, terkait pentingnya sinergi dan pemetaan data, para pembicara menekankan perlunya database alumni yang komprehensif agar jejaring lulusan dapat diberdayakan secara maksimal untuk membantu adik-adik mahasiswa, baik dalam hal magang, mentoring, maupun informasi karier. Selain itu, terdapat pula usulan agar fakultas melakukan terobosan dengan membentuk laboratorium praktik atau pusat karier yang dapat menjembatani dunia kampus dengan kebutuhan dunia kerja nyata, sekaligus menjaga identitas serta ruh keilmuan fakultas di tengah berbagai tantangan perubahan struktural.

Beberapa diantaranya menyampaikan saran dan masukan untuk IKA FIAI UII. Mereka mengusulkan agar ikatan alumni tidak hanya berhenti pada pembentukan struktur organisasi formal, tetapi harus memiliki program kerja nyata yang dapat dieksekusi dengan baik dan berkelanjutan. Para peserta juga menyampaikan hal yang sama, yakni harapan besar agar diskusi hari ini menjadi momentum nyata untuk memperkuat sinergi antara fakultas dan alumni.

Acara sarasehan alumni kemudian ditutup dengan pemberian cinderamata kepada enam pembicara dan moderator yang diberikan langsung oleh Dr. Nurjihad, S.H., M.H., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian, dan juga Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, M.A. Melalui jejaring yang semakin solid dan sinergi yang terjalin, FIAI UII diharapkan mampu terus mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki daya saing tinggi, relevan dengan kebutuhan zaman, serta tetap membawa marwah keislaman ke mana pun mereka berkiprah di tengah masyarakat. (NKA/AHR/RS)

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Islam Indonesia (UII), sebuah wadah resmi bagi para lulusan UII untuk menjalin jejaring dan mempererat persaudaraan, telah selesai menyelenggarakan acara Pelantikan Pengurus IKA Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII pada Sabtu (27/06) di Auditorium Gedung KH. Wahid Hasyim Lantai 5 FIAI UII. Prosesi pelantikan ini menandai babak baru bagi kepengurusan IKA FIAI UII dalam memperkuat peran alumni sebagai jembatan strategis antara almamater dan masyarakat.

Dalam pelantikan ini, sebanyak 39 (tiga puluh sembilan) pengurus dengan rincian 3 (tiga) Dewan Penasihat, 1 (satu) Ketua, 1 (satu) Ketua Harian, 1 (satu) Sekretaris, 2 (dua) Bendahara, 1 (satu) Bidang Kelembagaan & Alumni, 4 (empat) Bidang Humas, Komunikasi & Informasi, 1 (satu) Bidang Kajian & Riset, 3 (tiga) Bidang Dakwah, 1 (satu) Koordinator Bidang Ekonomi, 1 (satu) Koordinator Bidang Pendidikan Islam, 1 (satu) Koordinator Bidang Hukum Islam dan 19 (sembilan belas) Koordinator Wilayah IKA FIAI UII.

Melalui arahannya, Drs. Aden Wijdan Syarif Zaidan, M.Si., yang menjabat sebagai Wakil Ketua III DPP IKA UII, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terbangun. Ia menekankan bahwa pelantikan ini merupakan bukti konkret keseriusan alumni dalam mendukung pengembangan institusi.

​”Ini adalah bukti betapa penting dan seriusnya peran alumni dalam penguatan serta pengembangan universitas. Alumni adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam melaksanakan kawasan kehebatan dan kebersamaan di lingkungan UII,” ujarnya.

​Senada dengan hal tersebut, Dekan FIAI UII, Dekan FIAI UII Dr. Drs. Asmuni, M.A memberikan penekanan khusus mengenai posisi strategis IKA FIAI dalam ekosistem universitas. Ia mengibaratkan alumni sebagai hamzatul washli atau penghubung antara perguruan tinggi dan masyarakat luas. Menjelang satu abad usia UII, ia mengajak seluruh pengurus untuk mengubah paradigma dalam berkontribusi.

​”Saya mengharapkan pada saat UII mencapai satu abad, fakultas-fakultas tidak lagi berbaris dari depan ke belakang, melainkan membentuk barisan melingkar. Dengan begitu, semuanya setara dan maju bersama. IKA FIAI tidak harus fokus pada margin finansial, melainkan harus tampil di depan untuk memberikan margin keilmuan dalam kerangka membangun peradaban yang kokoh sesuai pesan para pendiri UII,” tegasnya dalam sambutannya.

Dr. Nurjihad, S.H., M.H.. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian dalam sambutan selanjutnya menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menekankan bahwa alumni adalah aset strategis yang keberadaannya tersebar di berbagai sektor krusial, mulai dari dakwah, pemerintahan, bisnis, hingga pemberdayaan masyarakat.

​”Alumni adalah aset strategis universitas. Mereka yang tersebar di berbagai bidang ini merupakan modal sosial yang kuat. Melalui kegiatan ini, kita berharap terjalin sinergi yang lebih erat, lahir gagasan-gagasan baru, serta terbuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara alumni, fakultas, dan universitas,” ujarnya.

​Acara pelantikan yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan prosesi sumpah jabatan yang dipandu oleh perwakilan DPP IKA UII. Para pengurus yang dilantik berkomitmen untuk memegang teguh syariat Islam dan nilai-nilai ke-UII-an dalam menjalankan amanah organisasi selama periode jabatan ke depan. Dengan resmi dilantiknya kepengurusan ini, IKA FIAI UII diharapkan mampu menjadi kanal komunikasi peradaban sekaligus jantung spiritualitas yang memberikan kontribusi berkelanjutan bagi umat dan bangsa. (NKA/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar wisuda jenjang Doktor, Sarjana, dan Diploma Periode V Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan pada Sabtu (27/06) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir. Pada periode kali ini, UII mewisuda 565 wisudawan yang terdiri atas 7 lulusan program doktor, 101 magister, 452 sarjana, 4 sarjana terapan, dan 1 diploma. Dengan wisuda kali ini, UII telah meluluskan 137.931 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng. mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal perjalanan untuk terus bertumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Wisuda bukanlah garis akhir dari proses pembelajaran, melainkan titik awal dari perjalanan yang lebih luas. Gelar yang Saudara peroleh hari ini bukanlah garis akhir, melainkan amanah untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi lingkungan di mana Saudara berada,” ujarnya.

Prof. Hari menambahkan bahwa lulusan UII akan menghadapi dunia yang terus berubah akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), transformasi ekonomi, dan dinamika sosial global. Karena itu, ia mengajak para alumni untuk terus mengembangkan growth mindset, menjaga integritas, serta menjadikan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keilmuan sebagai pedoman dalam berkarya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UII, Dr. Ari Yusuf Amir, S.H., M.H., mengingatkan bahwa wisuda merupakan awal perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar alumni UII. Menurutnya, para lulusan saat ini memasuki dunia yang penuh tantangan sehingga dibutuhkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga karakter.

“Pada titik itu, karakter kita akan dibentuk sekaligus diuji. Apakah kita akan memilih pesimis atau maju sebagai pelopor perubahan. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada generasi besar yang lahir dari masa-masa yang sepenuhnya nyaman. Justru dari situasi sulit itulah lahir para pemimpin, ilmuwan, ulama, pengusaha, dan tokoh-tokoh perubahan yang mengukir sejarah bangsanya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ari juga mengajak para alumni untuk terus membangun karakter, menjaga integritas, dan memperluas jejaring profesional melalui IKA UII yang kini telah hadir di 34 provinsi, 80 kabupaten/kota, 22 badan otonom, serta satu perwakilan di luar negeri. Menurutnya, jejaring alumni bukan sekadar organisasi, melainkan ekosistem kolaborasi yang dapat membuka peluang, saling menguatkan, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Melalui prosesi wisuda ini, UII berharap para lulusan mampu menjadi insan pembelajar sepanjang hayat yang adaptif terhadap perubahan, berintegritas, serta terus menghadirkan kontribusi nyata bagi bangsa, masyarakat, dan kemanusiaan. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan serah terima jabatan Kepala UII Press pada Kamis (25/6) di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung GBPH. Prabuningrat, Kampus Terpadu UII. Pada kesempatan tersebut, Ajeng Yulianti Dwi Lestari, S.T., M.T., menyerahkan amanah Kepala UII Press kepada Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si.

Ajeng Yulianti Dwi Lestari telah memimpin UII Press selama dua periode, yaitu 2018–2022 dan 2022–2026. Serah terima jabatan ini menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan untuk melanjutkan pengembangan dan penguatan peran UII Press dalam mendukung kegiatan akademik di lingkungan UII.

Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan UII, Prof. Rifqi Muhammad, S.E., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang telah diberikan selama masa kepemimpinan Ajeng Yulianti. Ia juga menekankan pentingnya inovasi layanan agar UII Press mampu menjawab kebutuhan sivitas akademika di tengah perkembangan teknologi dan dunia penerbitan yang terus berubah.

Sementara itu, Ajeng Yulianti Dwi Lestari memaparkan kondisi terkini UII Press serta berbagai perkembangan yang berhasil dicapai selama masa kepemimpinannya. Menanggapi hal tersebut, Kepala UII Press yang baru, Listya Endang Artiani, menyatakan komitmennya untuk melanjutkan dan menuntaskan berbagai program yang telah dirintis. Selain itu, ia juga berharap dapat menghadirkan sejumlah inovasi guna memperkuat layanan dan pengembangan UII Press pada masa mendatang.

Melalui pergantian kepemimpinan ini, UII berharap UII Press dapat terus meningkatkan kualitas layanan penerbitan dan memperkuat kontribusinya dalam mendukung diseminasi ilmu pengetahuan serta publikasi karya akademik di lingkungan universitas. (NA/AHR/RS)

Fakultas Hukum  (FH)Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan acara Pelepasan dan Pembekalan Alumni Periode V Tahun Akademik 2025/2026 pada Kamis (25/6) di Auditorium Lantai 4 FH UII. Kegiatan ini mengusung tema “Konsisten Mencetak Profil Lulusan yang Unggul, Berintegritas, dan Berdaya Saing Global.”

Acara tersebut diikuti oleh para alumni dari tiga jenjang pendidikan di lingkungan FH UII, yaitu Program Studi Hukum Program Sarjana (PSHPS), Program Studi Hukum Program Magister (PSHPM), dan Program Studi Hukum Program Doktor (PSHPD).

Dalam sesi pembekalan, hadir tiga narasumber yang merupakan akademisi dan praktisi di lingkungan Fakultas Hukum UII. Pembicara pertama, Muhammad Hanif, S.H., M.H., alumni FH UII sekaligus founder partner Firmly Law Firm menyampaikan materi yang menekankan pentingnya integritas dan profesionalisme bagi lulusan hukum. “Jangan hinakan gelar yang teman-teman peroleh dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum, bertentangan dengan etika, dan bertentangan dengan integritas,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa seorang sarjana hukum tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan tanggung jawab dalam menjalankan profesinya.

Selanjutnya, sebagai pembicara kedua, Ali Rido, S.H., M.H., alumni FH UII sekaligus dosen Universitas Trisakti memberikan pandangan mengenai tantangan dunia kerja dan perkembangan profesi hukum di tengah dinamika masyarakat serta perkembangan teknologi, salah satunya adalah Artificial Intelligence (AI). “Kalau kita tidak punya perbendaharaan ilmu dan kemampuan analisis yang cukup, maka AI hanya akan memberikan informasi biasa. Kualitas pertanyaan menunjukkan kualitas cara berpikir kita,” ungkapnya. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), ia menilai kemampuan berpikir kritis tetap menjadi modal utama yang tidak dapat digantikan teknologi.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Karier dan Alumni UII, Allan Fatchan Gani Wardhana, S.H., M.H., menyoroti masih rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia. Ia menyebut hanya sekitar 10,8 persen masyarakat Indonesia yang berhasil menempuh pendidikan tinggi sehingga para lulusan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang besar di tengah masyarakat. Ia juga mendorong para wisudawan untuk menjadi lulusan yang unggul dan profesional. Menurutnya, profesionalisme ditunjukkan melalui kemampuan bekerja melampaui ekspektasi. “Orang yang profesional adalah dia yang bisa bekerja melampaui ekspektasi orang lain,” ujarnya. Terakhir, Ia juga mengingatkan para lulusan agar mempersiapkan diri untuk bersaing di tingkat internasional dan menurutnya, negara-negara di kawasan Asia Tenggara, khususnya Singapura, dapat menjadi salah satu tujuan strategis untuk mengembangkan karier di tingkat global.

Kegiatan pelepasan dan pembekalan ini menjadi momentum penting bagi para lulusan sebelum memasuki dunia profesional maupun melanjutkan pengabdian di masyarakat. Acara ditutup dengan pesan kepada para alumni agar senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman yang menjadi ciri khas lulusan UII dalam menjalankan profesi hukum. Fakultas Hukum UII berharap para alumni mampu menjadi insan hukum yang adaptif, berintegritas, dan berdaya saing global serta membawa nama baik almamater di tengah masyarakat. (JP/AHR/RS)

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Selasar Kontemplasi: Membedah Makna dan Masa Depan Pendidikan dengan membahas novel Sekolah Terakhir karya Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen sekaligus Guru Besar Jurusan Informatika UII. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (25/06) di Laboratorium Program Studi PAI, Gedung K.H.A. Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII, tersebut menghadirkan Kurniawan Dwi Saputra, Lc., M.Hum., dosen Program Studi PAI UII, sebagai pembahas dan diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta sivitas akademika UII. Melalui forum ini, peserta diajak merefleksikan berbagai persoalan pendidikan sekaligus mendalami gagasan yang diangkat dalam novel tersebut.

Dalam paparannya, Prof. Fathul Wahid menjelaskan bahwa novel Sekolah Terakhir lahir dari kegelisahannya terhadap berbagai praktik pendidikan yang semakin berorientasi pada kompetisi dan capaian formal. Melalui novel tersebut, ia ingin menghadirkan alternatif cara pandang mengenai pendidikan yang lebih memanusiakan. “Kita mungkin tidak bisa mengubah semuanya, tetapi kita bisa melakukan perlawanan-perlawanan kecil dengan menyuntikkan nilai dan membingkai ulang praktik pendidikan. Saya percaya perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Fathul menambahkan bahwa berbagai tokoh dan peristiwa dalam novel banyak terinspirasi dari pengalaman, pengamatan, serta dialog dengan komunitas pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui interaksi sosial dan pengalaman hidup yang membentuk karakter seseorang.

Lebih lanjut, Kurniawan selaku pembahas menilai Sekolah Terakhir berhasil menghadirkan kritik terhadap pendidikan modern sekaligus memperluas makna belajar. “Novel ini merupakan kritik terhadap neoliberalisme pendidikan dan memperluas ruang pembelajaran, dari ruang kelas ke sawah, lapangan, hingga kehidupan sehari-hari. Novel ini mengingatkan kita bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam ruang-ruang formal yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya tempat memperoleh pengetahuan,” ungkapnya.

Selain mengapresiasi gagasan yang diangkat,  Kurniawan juga memberikan sejumlah masukan terkait pendalaman karakter dan eksplorasi konteks sosial budaya dalam cerita. Menurutnya, penguatan latar belakang tokoh serta kearifan lokal yang hidup di masyarakat dapat semakin memperkaya narasi dan memperluas perspektif pembaca mengenai pendidikan.

Melalui diskusi ini, peserta diajak melihat pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran sosial, karakter, dan kemanusiaan. Novel *Sekolah Terakhir* diharapkan dapat menjadi medium refleksi sekaligus membuka ruang dialog mengenai masa depan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. (AHR/RS)

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Digital Inovatif Universitas Islam Indonesia dalam acara PBI UII Connect 2026 menggelar talkshow interaktif berjudul “Beyond the Classroom: How Language, Literacy, and Communication Shape Careers and Social Impact”  bersama penulis dan aktivis nasional, Kalis Mardiasih, yang dipandu oleh Banatul Murtafi’ah, S.Pd., M.Pd. pada Rabu (24/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Dalam sesinya, Mbak Kalis, begitu panggilan akrab dari Kalis Mardiasih membedah pentingnya penguasaan bahasa, literasi, dan kemampuan berpikir kritis di era modern. Ia menegaskan bahwa keahlian lulusan PBI dalam mengembangkan kurikulum hingga merumuskan asesmen merupakan kompetensi bernilai tinggi yang selalu dibutuhkan oleh berbagai sektor industri berkelanjutan.

“Industri pendidikan itu salah satu industri yang enggak akan pernah mati sampai kapanpun karena dia adalah kebutuhan dasar kita sebagai manusia, kebutuhan dasar sebagai warga negara,” ujar Mbak Kalis dalam sesinya. Ia menekankan bahwa alumni PBI memiliki cakupan ilmu yang luas karena tidak hanya dibekali kemampuan bahasa, melainkan juga filosofi pendidikan hingga psikologi yang membuat peluang kariernya sangat terbuka lebar di berbagai sektor.

Suasana diskusi berjalan interaktif saat memasuki sesi tanya jawab bersama guru-guru dari sekolah mitra yang hadir. Beberapa poin krusial yang diangkat di antaranya adalah tantangan guru dalam memotivasi minat literasi siswa di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengikis kemampuan berpikir kritis, hingga cara memberikan pemahaman kepada orang tua siswa mengenai luasnya potensi karier di bidang pendidikan bahasa Inggris demi mematahkan stigma kaku yang selama ini beredar di masyarakat.

Sebagai bentuk nyata perluasan jejaring, PBI Digital Inovatif UII juga melaksanakan prosesi penandatanganan kerja sama resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB) UII, Prof. Dr.rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si bersama para mitra strategis. Beberapa pimpinan instansi yang hadir secara langsung untuk pengesahan di antaranya adalah Bapak Alvan Bastoni Nuradilla dari PT PeMad International Transearch, Bapak Rudi Haryanto dari MAN 3 Sleman, serta Bapak Dwi Handoko Arthanto, S.T., M.T. dari Dinas Pariwisata DIY.

Selain kerja sama tersebut, PBI Digital Inovatif UII ke depan juga berencana untuk memperluas kemitraan formal melalui MoU dengan instansi kedinasan lainnya, termasuk Dinas Pendidikan wilayah Sleman. Seluruh rangkaian PBI UII Connect 2026 ini kemudian ditutup dengan ramah tamah dan agenda Candi Tour di Gedung Mohammad Hatta, Perpustakaan dan Museum UII. (KS/AHR/RS)

Jurusan/Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Islam Indonesia (UII) resmi meluncurkan identitas baru sebagai Pendidikan Bahasa Inggris Digital Inovatif dalam acara PBI UII Connect 2026 yang digelar pada Rabu (24/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Penjenamaan ulang (rebranding) ini menjadi bagian dari upaya PBI UII untuk memperkuat relevansi pendidikan bahasa Inggris di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB) UII, Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. menyampaikan bahwa penjenamaan ulang tersebut merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan dan kematangan program studi. Menurutnya, terdapat tiga aspek utama yang harus terus dijaga oleh institusi pendidikan, yakni kualitas, integritas, dan relevansi. “Hari ini kami memulai sesuatu yang baru. PBI harus terus menjaga kualitas, integritas akademik, dan relevansi agar mampu menjawab kebutuhan dunia yang terus berubah,” ujarnya.

Prof. Masduki menambahkan bahwa PBI UII tidak hanya berfokus pada penguatan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga pembentukan karakter, etika, dan integritas sebagai bekal menghadapi masa depan.

Lebih lanjut, Ketua Jurusan/ Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UII, Puji Rahayu, S.Pd., MLST., Ph.D.menjelaskan bahwa identitas Digital Inovatif dipilih berdasarkan rekam jejak pengembangan akademik, penelitian, dan kiprah alumni yang banyak berkecimpung di bidang pendidikan serta teknologi digital.

Puji menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan di PBI UII berbasis capaian pembelajaran (outcome-based education) dan didukung berbagai program internasional, seperti praktik mengajar di negara-negara ASEAN, pertukaran mahasiswa, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. “Kami ingin mempersiapkan mahasiswa sebagai global educator yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat global,” jelas Puji.

Penjelasan PBI UII Digital Inovatif oleh Kaprodi PBI UII

Berbagai capaian juga telah diraih PBI UII selama lebih dari satu dekade perjalanan program studi. Saat ini PBI UII telah meraih akreditasi Unggul, didukung dosen dengan reputasi nasional dan internasional, serta menghasilkan puluhan publikasi ilmiah dan karya akademik. Mahasiswa dan alumninya juga memiliki pengalaman global melalui program internasional di berbagai negara, serta berhasil melanjutkan studi dan berkarier di institusi nasional maupun internasional.

Beragam kegiatan turut memeriahkan PBI Connect 2026, di antaranya talkshow bersama Kalis Mardiasih, penandatanganan MoA dengan mitra strategis, pertunjukan fragmen teater dan storytelling, pameran karya mahasiswa, serta demonstrasi AI untuk pembelajaran. Acara kemudian ditutup dengan Candi Tour ke sejumlah ikon Kampus Terpadu UII, seperti Gedung Mohammad Hatta, Perpustakaan, dan Museum UII.

Melalui identitas baru tersebut, PBI UII berharap dapat memperkuat posisinya sebagai program studi yang adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus tetap berakar pada kualitas akademik yang kuat. Dengan mengusung semangat digital dan inovasi, PBI UII berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan bahasa Inggris yang relevan, berdampak, dan mampu melahirkan lulusan yang siap berkontribusi di tingkat nasional maupun global. (AHR/RS)