Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Islam Indonesia (UII) telah selesai selenggarakan kuliah umum yang menghadirkan dua pakar terkemuka di bidang farmasi. Acara ini menampilkan Prof. Dr. Andria Agusta dari Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., selaku Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI). Acara ini digelar pada Selasa (23/06) di Ruang Teatrikal Lt. 2 Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito UII dan dihadiri oleh 100 mahasiswa Farmasi UII.
Dalam sesi pertama, Prof. Andria menjelaskan mengenai potensi besar mikroba endofit sebagai sumber inovasi bahan baku obat masa depan. Mikroba endofit, yakni mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tumbuhan tanpa menimbulkan efek negatif pada inangnya, kini menjadi fokus utama riset penemuan obat. Dalam pemaparannya, Prof. Andria menjelaskan bahwa mikroba ini memproduksi metabolit sekunder sebagai senjata pertahanan diri untuk melawan patogen, yang berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan.
Mengenai fenomena tersebut, Prof. Andria menyatakan, “Ketika di daerah yang berlawanan dengan mikroba lain dia memproduksi sesuatu, ini adalah indikasi bahwa dia juga memproduksi chemical weapon yang berwarna yang mudah kita amati dengan mata biasa,” ungkapnya.

Penelitian tersebut telah membuahkan hasil nyata, di mana senyawa seperti episitoskirin dan bislunatin terbukti memiliki aktivitas antibakteri, antimalaria, hingga antikanker yang kuat. Melalui teknik biokonversi, Prof. Andria menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperbaiki profil farmakologi senyawa tersebut agar lebih efektif dan dapat dimanfaatkan untuk kemandirian bahan baku obat nasional.
Selaras dengan paparan tersebut, Prof. Dr. Apt. Yandi Syukri, M.Si., menyoroti pentingnya transformasi pendidikan tinggi farmasi dalam menghadapi tantangan zaman, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan tingginya ketergantungan impor bahan baku obat. Prof. Yandi menekankan bahwa kampus tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat belajar, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat inovasi dan penyedia solusi bagi ekosistem kesehatan nasional. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan lembaga riset seperti BRIN sangat penting untuk memastikan riset yang dihasilkan dapat dihilirisasi menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Prof. Yandi memberikan pesan inspiratif bagi para mahasiswa agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga peneliti muda, inovator, dan agen perubahan yang siap berkontribusi bagi bangsa. (NKA/AHR/RS)













