PAI UII Bedah Novel Sekolah Terakhir, Refleksikan Makna dan Masa Depan Pendidikan
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Selasar Kontemplasi: Membedah Makna dan Masa Depan Pendidikan dengan membahas novel Sekolah Terakhir karya Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen sekaligus Guru Besar Jurusan Informatika UII. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (25/06) di Laboratorium Program Studi PAI, Gedung K.H.A. Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII, tersebut menghadirkan Kurniawan Dwi Saputra, Lc., M.Hum., dosen Program Studi PAI UII, sebagai pembahas dan diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta sivitas akademika UII. Melalui forum ini, peserta diajak merefleksikan berbagai persoalan pendidikan sekaligus mendalami gagasan yang diangkat dalam novel tersebut.
Dalam paparannya, Prof. Fathul Wahid menjelaskan bahwa novel Sekolah Terakhir lahir dari kegelisahannya terhadap berbagai praktik pendidikan yang semakin berorientasi pada kompetisi dan capaian formal. Melalui novel tersebut, ia ingin menghadirkan alternatif cara pandang mengenai pendidikan yang lebih memanusiakan. “Kita mungkin tidak bisa mengubah semuanya, tetapi kita bisa melakukan perlawanan-perlawanan kecil dengan menyuntikkan nilai dan membingkai ulang praktik pendidikan. Saya percaya perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Fathul menambahkan bahwa berbagai tokoh dan peristiwa dalam novel banyak terinspirasi dari pengalaman, pengamatan, serta dialog dengan komunitas pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui interaksi sosial dan pengalaman hidup yang membentuk karakter seseorang.
Lebih lanjut, Kurniawan selaku pembahas menilai Sekolah Terakhir berhasil menghadirkan kritik terhadap pendidikan modern sekaligus memperluas makna belajar. “Novel ini merupakan kritik terhadap neoliberalisme pendidikan dan memperluas ruang pembelajaran, dari ruang kelas ke sawah, lapangan, hingga kehidupan sehari-hari. Novel ini mengingatkan kita bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam ruang-ruang formal yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya tempat memperoleh pengetahuan,” ungkapnya.
Selain mengapresiasi gagasan yang diangkat, Kurniawan juga memberikan sejumlah masukan terkait pendalaman karakter dan eksplorasi konteks sosial budaya dalam cerita. Menurutnya, penguatan latar belakang tokoh serta kearifan lokal yang hidup di masyarakat dapat semakin memperkaya narasi dan memperluas perspektif pembaca mengenai pendidikan.
Melalui diskusi ini, peserta diajak melihat pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran sosial, karakter, dan kemanusiaan. Novel *Sekolah Terakhir* diharapkan dapat menjadi medium refleksi sekaligus membuka ruang dialog mengenai masa depan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. (AHR/RS)





