UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Studium Generale Series #1 bertajuk “Tren Perilaku Menyimpang dalam Perspektif Neurosains: Memahami Anomali Publik dan Dampaknya terhadap Kehidupan Bermasyarakat”. Acara yang berlangsung pada Selasa (11/8) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII ini diselenggarakan sebagai respon akademik atas maraknya aksi kekerasan, perundungan siber (cyberbullying), hingga penyalahgunaan wewenang di tengah masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya, yaitu Dekan Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta, Dr. dr. Taufiq Frederik Pasiak, M.Kes., M.Pd.I., S.H., M.H., CIPA, CloB, serta Dosen Jurusan Psikologi UII, Dr. Raden Ajeng Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si. Kedua pemateri mengupas fenomena anomali publik secara mendalam, baik dari sudut pandang mekanisme kerja otak maupun dinamika psikologis individu.
Dalam pemaparannya, Dr. Taufiq menjelaskan bahwa perilaku manusia merupakan hasil kombinasi antara faktor internal dan eksternal. “Konfigurasi tertentu antara individu, keadaan otak, pengalaman, reward,lingkungan, dan pengulangan dapat meningkatkan atau menurunkan probabilitas munculnya suatu perilaku,” ujarnya. Taufiq menambahkan bahwa integritas pada dasarnya adalah kapasitas neurobehavioral, kemampuan otak untuk tetap memilih hal yang benar di tengah tekanan, sehingga pembentukan karakter memerlukan pembiasaan pola positif dan perbaikan sistem reward-punishment secara konsisten.
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. Retno memaparkan bahwa penyimpangan sosial dipengaruhi oleh interaksi neurobiologis, gangguan psikologis, serta kondisi lingkungan patologis. Kerusakan sirkuit saraf neuromoral pada korteks prefrontal dan amigdala, ketidakseimbangan neurokimia otak, hingga riwayat gangguan kepribadian sejak dini menjadi pendorong utama tindakan antisosial. Faktor ini kian diperparah oleh lingkungan yang tidak mendukung, seperti konflik rumah tangga dan pengaruh negatif lingkaran pertemanan.
Selain aspek biologis dan psikologis, kurangnya kontrol sosial masyarakat turut memperbesar peluang berulangnya tindakan melanggar norma. “Beberapa pelaku deviance tidak merasa bersalah dan menganggap perilakunya normal, sehingga tanpa kecaman publik, pelaku akan terus melanjutkan tindakan tersebut ke jalur yang tidak etis” tegasnya.
Oleh karena itu, penanganan penyimpangan sosial memerlukan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan intervensi medis, psikologis, dan sosiologis secara berkelanjutan. (AHR/RS).





