• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Insting Jurnalistik dalam Riset Sejarah
Berita Kegiatan, Pilihan

Insting Jurnalistik dalam Riset Sejarah

Perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan terjadinya pertemuan lebih dari satu disiplin ilmu. Menerapkan satu metode untuk diterapkan ke satu studi yang lain juga merupakan hal yang bukan pertama kali, walaupun dalam praktiknya akan berbeda. Topik inilah yang dibahas dalam Serial Bincang Sejarah Komunikasi: Sejarah sebagai Metode Riset Komunikasi yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) pada Minggu, (28/6) secara daring.

“Membangun sebuah narasi, menceritakan sesuatu,” ungkap Luthfi Adam, Ph.D. menjelaskan tugas utama seorang sejarawan. “Tapi tidak hanya bercerita, juga mengikutsertakan teori, ilmu sosial, dan literatur di dalamnya,” tuturnya.

Pemenang disertasi terbaik tahun 2019-2020 di departemen sejarah Northwestern University ini mengaku bahwa sejarawan dibebaskan untuk menentukan atau memilih topik yang ingin diteliti sesuai selera sejarawan tersebut, walaupun kebanyakan memang menyasar dokumen atau arsip resmi,” tuturnya. Luthfi sendiri tertarik untuk mengumpulkan arsip dari media cetak, seperti penelitian yang dipublikasikan Kebun Raya Bogor.

Luthfi menjelaskan bahwa dalam mencari sumber, yang diterapkan sejarwan mirip dengan prinsip jurnalistik. “Jika jurnalistik melakukan investigasi untuk mencari sumber berita, teknik dasar sejarawan adalah mencari sumber primer, yaitu melalui arsip atau surat-surat,” jelas Luthfi.

Luthfi juga menyampaikan bahwa metode yang ia lakukan dalam menarasikan sejarah sangat mungkin diterapkan ke dalam riset komunikasi. Namun ia mengaku mencari arsip selama proses risetnya membutuhkan waktu yang lama. Diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk mendapatkan arsip yang dibutuhkan.

“Saya bahkan sempat harus membaca berbundel-bundel arsip untuk menemukannya. Oleh karena itu Saya mengapresiasi mereka yang berupaya untuk mengkatalogkan dan mendigitalkan arsip-arsip lama,” ungkapnya.

Walaupun metode riset sejarah dinilai sederhana, Luthfi mengaku sejarawan memiliki tantangan tertentu. “Mencari, mengambil, dan mengorganisir arsip sejarah sangat menantang. Tidak hanya jumlahnya banyak, kadang arsip yang dicari justru belum dikatalogkan, bahkan ada yang sampai satu gudang,” ungkapnya.
Tantangan utama lain yang dihadapi sejarawan ialah penguasaan bahasa. “Semisal arsipnya berbahasa Belanda, kita sejarawan tidak hanya harus tahu artinya, tapi juga paham konteksnya,” tutur Luthfi.

Tipe-tipe sejarawan

Luthfi menyebtukan ada tiga tipe sejarawan berdasarkan apa yang diteliti. “History of whom, history of where, history of what,” tuturnya. History of whom sendiri dibagi lagi menjadi dua lanskap yakni history of great man dan history from below. History of great man fokus meneliti tentang aktor sejarah dan apa perannya dalam sebuah negara. Sedangkan history from below fokus pada orang-orang biasa yang dilupakan sejarah.

“Sejarah nasional biasanya mewakili negara. Biasanya berlatar di jawa,” tutur Luthfi. Ia lalu menyarankan agar menulis sejarah nasional juga diambil dari kacamata daerah lain agar Indonesia tidak selalu dinilai jawa-sentris. Sejarah lokal lebih fokus kepada suatu wilayah, sedangkan gagasan dari sejarah transnasional adalah bahwa sebuah perubahan di suatu daerah memiliki hubungan dengan suatu hal di daerah lain. “Contohnya penelitian Kebun Raya Bogor memiliki koneksi di Delhi, ada orang jerman di dalamnya yang memiliki koneksi dengan amerika dan lain sebagainya,” jelas Luthfi.

Berbeda dengan tipe sebelumnya, history of what berfokus pada perkembangan sebuah topik seiring berjalannya waktu. Ada tiga bagian history of what, yakni environmental history, history of science and technology, dan history of knowledge. “Ide utamanya adalaha bagaimana lingkungan, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan memberikan dampak bagi kehidupan. Contohnya peran radio dalam menyampaikan gagasan selama masa kemerdekaan,” pungkasnya. (IG/RS)

30 Juni 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Kampus-UII-5.jpg 412 598 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-06-30 07:33:042020-06-30 07:35:04Insting Jurnalistik dalam Riset Sejarah

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Mahasiswa di Prancis Menghadapi New Normal Link to: Mahasiswa di Prancis Menghadapi New Normal Mahasiswa di Prancis Menghadapi New NormalSukses Berkarir Sesuai Syariat Islam Link to: Mengapa Butuh Waktu Lama Tangani Kasus Novel? Link to: Mengapa Butuh Waktu Lama Tangani Kasus Novel? Peran PemudaMengapa Butuh Waktu Lama Tangani Kasus Novel? Scroll to top Scroll to top Scroll to top