Masa transisi menuju normal baru yang tidak hanya diterapkan di Indonesia, juga membawa dampak bagi mahasiswa Indonesia yang sedang studi di sejumlah negara lain, seperti halnya di negara Prancis. Isu ini memantik Warung Prancis Universitas Islam Indonesia (WP UII) menggelar diskusi secara daring dengan judul Sore Bersama Camarades: New Normal di Prancis, Seperti Apa? pada Minggu (28/6).

Selama masa transisi menuju new normal, Karina Ghozali, mahasiswa S2 Managemen HEC Paris, Prancis melihat toko, restoran, dan transportasi umum mulai beroprasi, namun tempat wisata seperti Menara Eifel dan museum masih belum buka. “Walaupun sudah dibuka, kapasistas di dalam ruangan diatur agar ada jarak antar kursi dan tidak mepet,” tutur Karina.

Selain diwajibkan untuk mengenakan masker, Karina menyebutkan bahwa botol-botol hand sanitizer sudah mulai ‘menjamur’ di berbagai pojok kota Paris, tidak terkecuali di transportasi atau di restoran.

Di awal merebaknya wabah Covid-19, Prancis merupakanh salah stau negara dengan korban positif Covid-19 terbanyak. Karina berpendapat bahwa landainya kurva di Prancis disebabkan oleh sikap pemerintah yang dinilai tegas dan responsif dalam menangani kasus Covid-19. “Tidak hanya pemerintah, tapi masyarakatnya juga disiplin dalam menaati perarturan lockdown sehingga efektif,” tutur Karina.

Berbeda dengan masa new normal, pada masa lockdown, diperlukan surat hanya untuk keluar rumah. “Isi suratnya harus jelas, kemana dan ada keperluan apa. Bahkan untuk pergi ke minimarket pun harus punya surat. Bagi mereka yang tidak taat peraturan akan dikenakan denda,” kenang Karina.

Lebih jauh, ia mengaku bahwa kampus mengimbau mahasiswa internasional untuk dipulangkan ke negara asal, sementara itu dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Prancis mengimbau untuk tinggal di rumah sambil menunggu situasi lebih stabil.

Memang ada beberapa perubahan di masa lockdown, terutama di kampus. Selain perpustakaan tutup dan pembelajaran beralih ke daring, untuk administrasi di kampus, Karina merasa interaksi tatap muka semakin minimal, dan pelayanan beralih melalui surel (surat elektronik). “Jika memang diharuskan untuk bertemu, tentu ada prosedur tertentu yang harus ditaati, seperti harus membuat janji terlebih dahulu,” tuturnya.

“Di kalangan mahasiswa juga sempat tersebar rumor kalau ada salah satu mahasiswa yang positif Covid-19, namun ternyata setelah ditelusuri, ia tertular bukan saat berada di kampus namun pada saat perjalanan pulang menuju negara asalnya,” jelasnya.

Sementara mengenai bantuan khusus mahasiswa, Karina menilai kampus cukup fleksibel dalam menangani hal ini. Pihak kampus menyalurkan bahan pokok bagi mahasiswa yang tinggal di asrama. “Ada mahasiswa yang dulunya memiliki pekerjaan sampingan, lalu karena lockdown mereka kehilangan pekerjaan mereka. Dari kampus juga memberikan bantuan sebesar 200 Euro dimana mahasiswa bisa langsung mengajukannya dengan prosedur yang mudah,” jelas Karina.

Karina melihat bahwa sejumlah riset sudah dilakukan oleh perusahaan medis setempat. “Mereka mulai membuka pendaftaran sukarela untuk uji vaksin Covid-19 ataupun perkembangan produk lain,” tutur Karina. (IG)