• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Antisipasi Bangunan Runtuh Akibat Gempa
Berita Kegiatan

Antisipasi Bangunan Runtuh Akibat Gempa

Seperti halnya pada bulan-bulan sebelumnya, Program Studi Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar webinar secara daring, Jumat (4/9). Webinar seri #2 bulan ini membahas mengenai Rumah Tahan Gempa dengan narasumber Kepala Program Studi Arsitektur UII, Assoc. Prof. Noor Cholis Idham, Ph.D., IAI.

Menurut Noor Cholis bangunan menjadi isu utama yang harus terus dibahas secara berulang-ulang, terutama dalam aspek keselamatan bangunan dan penghuninya. Kerusakan bangunan dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari usia bangunan, kualitas bahan, hingga akibat bencana. “Bangunan mungkin bisa rusak namun penghuninya harus selamat. Kalau kita menghentikan bencana seperti gempa bumi tidak akan mungkin karena itu sudah kehendak yang Kuasa,” katanya.

Upaya penghentian bencana tidak akan bisa dilakukan, sebagai manusia hanya bisa mempersiapkan yang terbaik dalam menghadapinya. Kata Noor Cholis banyak profesi yang dapat terlibat dalam menghadapi bencana, di antaranya arsitektur. Menurutnya arsitek memiliki peran penting dalam perencanaan, desain, pelaksanaan, hingga setelah bangunan dimanfaatkan.

Di sisi lain, ia menyinggung bahwa gempa dapat terjadi akibat struktur bumi yang menjadikan suatu daerah sebagai wilayah rawan gempa. “Maka cukup logis kalau pemerintah memilih ibukota di Kalimantan, sebab Kalimantan pulau mayor yang tidak berada di daerah rawan gempa. Secara teoritik itu aman,” ungkap Noor Cholis.

Lebih jauh, Noor Cholis menjelaskan bahwa gempa dapat menghancurkan bumi karena lima hal, yakni magnitude, hypocenter dan epicenter, kodisi geologi, durasi, dan struktur bangunan. Ia menyampaikan bahwa magnitude merupakan besarnya kekuatan gempa, hypocenter yakni posisi kedalaman, epicenter adalah jarak mendatar lokasi bangunan, sedangkan geologi yakni kondisi tanah apakah keras atau lembek.

“Makin keras tanah makin baik, maki lembek maka akan kemungkinan terjadi goncangan. Durasi gempa ada yang sebentar ada yang lama. Lalu struktur bangunan yang dibuat arsitek juga mempengaruhi gempa,” tambahnya.

Noor Cholis menuturkan bahwa rules seorang arsitek dalam menghadapi gempa terdiri atas perencanaan, pemrograman, desain, konstruksi, hunian, dan penggunaan kembali adaptif. Perencanaan dimulai dari pemilihan area atau tanah, pemrograman dilakukan untuk memastikan apakah semua yang telah direncanakan dapat berfungsi, sedangkan desain berupa pemilihan model atau struktu bangunan.

“Arsitek juga wajib memastikan kualitas kontruksi selama di lapangan. Dalam hal hunian dapat memilih furniture yang sesuai. Lalu penggunaan adaptif seperti memanfaatkan bangunan lama yang direnovasi menjadi bangunan baru,” tambahnya.

Ia menyebut gempa yang sering membuat bangunan roboh adalah gempa dangkal dengan frekuensi tinggi. Sedangkan gempa dalam berfrekuensi rendah maka energi akan hilang atau berkurang ketika sampai ke permukaan bumi. Sehingga menurutnya secara teoritis bangunan pencakar langit lebih aman daripada bangunan rendah. “Justru kita harus lebih fokus kepada bangunan rendah,” tegasnya.

Tidak lupa Noor Cholis menampilkan beberapa contoh bangunan yang rawan runtuh. Di antaranya bangunan struktur kayu dan bangunan batubata tanpa penguat atau tiang. “Bangunan rendah dengan material masif atau kaku jika terkena gempa dangkal frekuensi tinggi meskipun tidak besar maka ia akan runtuh. Perumpamaan ini juga terjadi dengan bangunan skala tinggi seperti bangunan satu dua lantai secara teoritis lebih tidak aman daripada bangunan pencakar langit,” ungkap Noor Cholis.

Di akhir sesi, Noor Cholis menyatakan bahwa bangunan penunjang gempa adalah bangunan yang kokoh dan kuat. Dalam hal keselamatan desain gempa maka dimensi dan separasi yang menjadi kunci utamanya. Selain itu ia berpesan bahwa arsitek menjadi profesi yang bertanggung jawab dari awal hingga akhir pembangunan. “Jadi arsitek harus menyadari sifat gempa yang harus dihadapi dan bencana dapat dihilangkan dalam setiap langkah siklus bangunan,” tutup Noor Cholis. (SF/RS)

6 September 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/FTSP-UII.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-09-06 14:35:332021-08-12 13:35:50Antisipasi Bangunan Runtuh Akibat Gempa

Berita Terakhir

  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Potensi Ekosistem Laut Indonesia Link to: Potensi Ekosistem Laut Indonesia Potensi Ekosistem Laut IndonesiaPernyataan Sikap UII Link to: Yuk Intip Keseruan Menjadi Mahasiswa IP Komunikasi UII Link to: Yuk Intip Keseruan Menjadi Mahasiswa IP Komunikasi UII Yuk Intip Keseruan Menjadi Mahasiswa IP Komunikasi UII Scroll to top Scroll to top Scroll to top