,

UII Gelar Bedah Buku Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Bedah Buku karya dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII berjudul Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Milad ke-83 UII yang dilaksanakan pada Senin (27/04) di Auditorium Gedung K.H.A Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII.

Kegiatan bedah buku ini menghadirkan narasumber, yaitu Fathul Wahid selaku Rektor UII, Prof. Dr. Amin Abdullah, M.A. selaku Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga, dan Prof. Dr. Yusdani, M.Ag selaku Guru Besar Hukum Perdata Islam UII. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai sivitas akademika, mulai dari dosen hingga mahasiswa.

Dalam sambutannya, Koordinator Bidang Kajian Ilmiah Akademis Milad ke-83 UII, Allan Fatchan Gani Wardhana, S.H., M.H menyatakan kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengenalkan dan menyebarluarkan karya-karya akademik dosen kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas.

“Karya-karya dosen perlu terus disebarluaskan agar gagasan dan kontribusi akademiknya dapat memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.

Allan berharap kegiatan bedah buku ini dapat berjalan lancar, memberikan ruang diskusi yang produktif, serta menjadi inspirasi bagi lahirnya karya-karya akademik lainnya di lingkungan UII.

Dalam pemaparannya, Prof. Amin Abdullah menekankan bahwa filsafat perlu mendapat ruang lebih besar di dunia akademik Indonesia. Menurutnya, filsafat menjadi instrumen penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan analitis, sekaligus mencegah kemiskinan gagasan dalam dunia pendidikan tinggi.

“Tidak mengenal filsafat adalah bunuh diri intelektual, karena filsafat melahirkan semangat berpikir kritis dan ide-ide baru yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Yusdani menjelaskan bahwa epistemologi studi Islam integratif-inklusif menekankan keterbukaan terhadap tradisi Islam, modernitas, dan pengetahuan lokal secara bersamaan. Pendekatan ini disebut sebagai epistemologi “Islam Tiga Kaki” yang bertumpu pada turas, modernitas, dan kearifan lokal.

“Kita harus tetap mengakar pada tradisi intelektual Islam, tetapi juga terbuka dan kritis terhadap modernitas serta pengetahuan lokal agar studi Islam tetap relevan dengan tantangan zaman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fathul Wahid menekankan pentingnya  untuk terus belajar dari turas atau khazanah keilmuan Islam klasik, sekaligus membuka diri terhadap pendekatan multidisiplin. Menurutnya, pengembangan keilmuan Islam tidak cukup hanya bertumpu pada satu disiplin, tetapi perlu dialog dengan berbagai bidang ilmu agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Ia menilai buku yang dibedah dalam kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata dari semangat tersebut.

“Kita harus tetap belajar dari turas, tetapi juga mampu berdialog dengan berbagai disiplin ilmu agar keilmuan Islam terus berkembang dan relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, UII berharap lahir ruang dialog akademik yang lebih luas dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Bedah buku ini juga menjadi bagian dari upaya kampus dalam membangun budaya intelektual yang kritis, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. (AHR/RS)