,

UII Lantik 6 Dokter Baru, Dorong Empati dan Nilai Kemanusiaan

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melantik 6 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode 71 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.674 dokter yang menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.

Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di pulau Jawa dari DKI Jakarta hingga Jawa Timur. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan pentingnya empati dan sensitivitas dalam prosesi pengambilan sumpah dokter. Ia menyebut sumpah dokter bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa etis yang membawa tanggung jawab besar terhadap kepercayaan pasien dan masyarakat.

Ia menekankan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya mengandalkan ilmu medis semata. “Ilmu saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kepekaan. Dokter perlu memahami bukan hanya penyakitnya, tetapi juga perasaan, kondisi sosial, dan situasi yang dihadapi pasien,” ujarnya.

Tak lupa, Ia juga mengingatkan bahwa empati harus terus dirawat di tengah tekanan kerja yang tinggi. “Empati bukan sesuatu yang otomatis, tetapi harus terus diasah. Tantangan di lapangan bisa membuat kita kehilangan kepekaan, sehingga penting untuk terus melakukan refleksi diri,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Rektor UII berharap para dokter dapat menjadi tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati. Dengan demikian, pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga memuliakan kehidupan pasien.

Senada, Dekan FK UII, Dr. dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes menegaskan bahwa prosesi Sumpah Dokter ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen reflektif yang menandai awal tanggung jawab besar sebagai tenaga medis. Ia menyampaikan bahwa meski jumlah dokter baru hanya enam orang, suasana yang tercipta justru lebih mendalam dan sarat makna.

Isnatin mengingatkan bahwa profesi dokter tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga kepercayaan dan nilai kemanusiaan. Para dokter, menurutnya, akan dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keputusan tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga bijak secara manusiawi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga empati di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas sistem kesehatan. “Yang akan membedakan Anda bukanlah siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu tetap hadir sebagai manusia,” ujarnya.

Selain itu, ia menitipkan tiga pesan utama bagi para dokter baru. “Pertama, jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu. Kedua, jaga empati Anda seperti menjaga kompetensi. Dan ketiga, ingatlah bahwa kita bukan penyembuh sejati, melainkan perantara,” tegasnya. Ia berharap para lulusan mampu menjadi dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan berintegritas. (AHR/RS)