Benteng Moral Bangsa: Menjaga Integritas Bangsa di Tengah Arus Perubahan Zaman
Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Diskusi Intelektual Muslim #1 bertajuk “Benteng Moral Bangsa: Menjaga Integritas Bangsa di Tengah Arus Perubahan Zaman” dengan menghadirkan Anies Baswedan sebagai narasumber utama pada Jumat (20/02), di Masjid Ulil Albab Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini menjadi ruang dialog reflektif bagi kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk membahas tantangan moral serta integritas bangsa di era perubahan sosial, politik, dan teknologi yang berlangsung begitu cepat.
Acara ini diselenggarakan sebagai upaya menghadirkan forum intelektual yang tidak hanya membahas isu-isu keislaman, tetapi juga persoalan kebangsaan yang relevan dengan kondisi kontemporer. Diskusi ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta yang memenuhi area masjid.
Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum intelektual seperti ini merupakan momentum penting untuk memperkuat arah nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman. Ia menyampaikan bahwa sivitas akademika memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ini adalah kesempatan mengasah kompas moral menjadi lebih positif,” ujarnya menekankan pentingnya peran kampus sebagai pusat pengembangan karakter dan etika publik.
Dalam pemaparannya, Anies Baswedan menekankan bahwa integritas bukan sekadar persoalan kejujuran, melainkan kesatuan utuh antara pikiran, perbuatan, dan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Ia menjelaskan bahwa seseorang baru dapat disebut berintegritas ketika apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan berjalan selaras. Menurutnya, integritas menjadi pondasi utama dalam membangun kepercayaan publik sekaligus menjaga arah moral bangsa di tengah derasnya arus perubahan zaman. “Jujur saja tidak cukup tanpa integritas,” tegasnya di hadapan peserta diskusi.
Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang mengangkat berbagai isu aktual, mulai dari tantangan etika di ruang digital, krisis keteladanan publik, hingga pentingnya kepemimpinan berintegritas dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Para peserta juga diajak merefleksikan kontribusi individu dalam membangun budaya integritas, baik di lingkungan akademik, profesional, maupun kehidupan bermasyarakat.
Melalui penyelenggaraan Diskusi Intelektual Muslim #1 ini, harapannya nilai-nilai moral dan integritas dapat terus diperkuat sebagai benteng bangsa dalam menghadapi perubahan zaman. Forum ini diharapkan menjadi ruang berkelanjutan yang mendorong lahirnya generasi intelektual Muslim yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam integritas. (ELKN/AHR/RS)




