• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Dampak Riset Perlu Diukur Lebih Komprehensif
Berita Kegiatan, Pilihan

Dampak Riset Perlu Diukur Lebih Komprehensif

Sebagai salah satu pilar penting perguruan tinggi, riset diharapkan untuk tidak hanya terbatas pada keluaran publikasi internasional. Persaingan global yang semakin kompetitif mendorong agar riset juga dapat memberi dampak yang lebih komprehensif di bidang akademik, maupun di bidang non-akademik.

Demikian disampaikan Profesor Alistair Hunt dari The University of Bath, Inggris dalam Training on Assessment of Research Impact, di Bangkok, Thailand, Jumat (31/8). Pelatihan ini diselenggarakan dalam kerangka kemitraan konsorsium Assessing and Improving the Research Performance at South East Asian Universities (Repesea) dengan dukungan dari Uni Eropa. Pelatihan ini dihadiri oleh delegasi 11 universitas dari 7 negara, termasuk Universitas Islam Indonesia.

DitambahkanAlistair Hunt, dampak riset dinilai sangat penting untuk diukur sesuai dengan penerima manfaat dari riset tersebut: akademisi, universitas, dan pemerintah. “Bagi akademisi, riset dapat berimplikasi terhadap peningkatan karier akademik. Riset juga dapat berdampak terhadap peningkatan reputasi universitas. Demikian halnya bagi pemerintah, dampak riset juga perlu diukur karena sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara,” ungkapAlistair Hunt.

Lebih lanjut,Alistair Hunt menyebutkan beberapa contoh dampak akademik dari riset yang dapat dijadikan indikator. “Cacah dan kualitas publikasi, peningkatan karier akademik, indeksasi publikasi, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dapat menjadi pintu masuk untuk mengukur dampak riset,” tambahnya.

Sementara itu, pada bidang non-akademik, dampak riset dapat dilihat dari keterlibatan akademisi sebagai pemberi masukan terhadap proses pembuatan kebijakan di pemerintah, eksposur media, kemitraan dengan lembaga swadaya masyarakat, serta kolaborasi dengan industri, adalah hal-hal yang dapat digunakan dalam pengukuran.

“Selain itu, ada tidaknya pembentukan spin-out business, seberapa besar perubahan kebijakan pemerintah, serta bagaimana peningkatan kualitas kehidupan masyarakat juga penting untuk diukur sebagai dampak non-akademik,” ungkapnya.

Dalam pelatihan yang juga dihadiri oleh ratusan mahasiswa Burapha University dan National Institute of Development Administration, Thailand tersebut, Alistair Hunt menekankan pentingnya pengukuran dampak non-akademik untuk dilakukan secara lebih menyeluruh.

“Di Inggris, pengukuran dampak riset dilakukan secara integratif untuk semua perguruan tinggi dalam alat ukur Research Excellence Framework,” tambahnya. Meskipun demikian, Alistair Hunt menegaskan bahwa pengukuran dampak riset memerlukan pendekatan yang berbeda di setiap negara.

Melihat perlunya upaya pengukuran dampak riset yang lebih menyeluruh tersebut, UII menegaskan dukungan serta komitmen kuat melalui partisipasi aktif dalam konsorsium Repesea sejak akhir tahun 2016. Konsorsium ini telah melaksanakan berbagai aktivitas di berbagai tempat untuk meningkatkan kualitas riset di Asia Tenggara.

Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. menyampaikan bahwa keluaran dari konsorsium Repesea di antaranya adalah enam modul yang berisi materi untuk meningkatkan kapasitas riset. “Modul ini akan dijadikan rujukan dalam pelatihan yang ditargetkan untuk diikuti oleh para peneliti junior,” ungkapnya. (HF/WR)

31 Agustus 2018
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2018/08/Dampak-riset-perlu-diukur-lebih-komprehensif.jpg 325 487 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2018-08-31 15:06:502018-09-01 08:29:53Dampak Riset Perlu Diukur Lebih Komprehensif

Berita Terakhir

  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • BP Inauguration 2026: Momen Selebrasi dan Transformasi Mahasiswa Bridging Program UII
  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Mobil Listrik UII Siap Berlaga di Jepang Link to: Mobil Listrik UII Siap Berlaga di Jepang Mobil Listrik UII Siap Berlaga di Jepang Link to: Kunjungi UII, Sekjend MK RI Bahas Kerjasama Simposium dan Short Course Link to: Kunjungi UII, Sekjend MK RI Bahas Kerjasama Simposium dan Short Course Kunjungi UII, Sekjend MK RI Bahas Kerjasama Simposium dan Short Course Scroll to top Scroll to top Scroll to top