• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Daur Ulang Masker Medis Menjadi Geotekstil Ramah Lingkungan
Berita Kegiatan

Daur Ulang Masker Medis Menjadi Geotekstil Ramah Lingkungan

Penggunaan masker yang awalnya merupakan limbah medis kini berkembang menjadi limbah rumah tangga. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) pada 9 Februari menunjukkan kenaikan sekitar 30% dengan total 7.500 ton limbah medis. Isu inilah yang mendorong Program Studi Rekayasa Tekstil Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (Rekateks FTI UII) mengadakan webinar pengabdian masyarakat dengan tema pengelolaan daur ulang masker medis pada Sabtu (21/08).

Virus Covid-19 dapat menyebar melalui cairan droplet yang berasal dari batuk atau bersin membuat penggunaan masker menjadi sebuah kewajiban. 

“Limbah medis paling banyak saat pandemi adalah masker,” tangkas Dr. Eng. Rina Afiani Rebia S. Hut., M. Eng selaku Dosen FTI UII.

Rina menyampaikan provinsi penyumbang limbah medis terbanyak adalah Jakarta, disusul oleh Jawa Timur serta Jawa Tengah. Kuantitas limbah tidak diimbangi dengan penanganan sesuai standar. Banyak limbah medis dibuang ke tempat pembuangan biasa lalu bercampur dengan sampah lainnya.

“Dampak yang paling serius dari penanganan limbah medis sembarangan adalah penyebaran penyakit”, jelasnya. Akhirnya penularan Covid-19 tidak hanya melalui droplet saja namun bisa juga melalui limbah medis yang tidak dikelola dengan baik.

Menurutnya masker bedah diketahui dapat mempertahankan virus hingga tujuh hari. Lebih lama lagi masker N95 virus yang menempel dapat bertahan stabilitasnya hingga 21 hari.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini menawarkan teknologi terbaru untuk mendaur ulang limbah masker sekali pakai menjadi geotekstil. Geotekstil adalah lembaran sintetik yang berpori sehingga memiliki sifat tembus air dan fleksibel. Geotekstil sendiri terbagi dalam dua jenis yaitu geotextile woven dan geotextile non-woven.

“Fungsi dari geotekstil woven bisa menjadi bahan penguat tanah untuk mencegah terjadinya penurunan tanah dasar,” jelas Febrianti Nurul Hidayah, S.T., B.Sc., M.Sc Dosen FTI UII. Inovasi tersebut diharapkan dapat mengurangi timbunan sampah yang berbahaya bagi masyarakat dan dapat menghasilkan nilai jual yang dapat menguntungkan. 

Sementara itu, Ir. Drs. Faisal RM, MT., Ph. D selaku Dosen FTI UII lebih membahas faktor penting dalam masker yakni dari segi desain. Desain yang baik harus dibuat berdasarkan tujuan dan fungsi. Seperti halnya masker bukan hanya memperhatikan estetikanya saja, namun juga fungsi masker untuk melindungi manusia dari paparan virus Covid-19.

Faisal menambahkan jika masker medis yang baik minimal memiliki tiga lapisan. Lapisan paling dalam harus terbuat dari bahan penyerap air seperti kapas dan bahan yang lembut lantaran bersentuhan langsung dengan kulit. Kemudian lapisan tengah yang berfungsi sebagai filter terbuat dari bahan seperti polipropilena non anyaman.  Sedangkan lapisan luar harus terbuat dari bahan yang tahan air seperti poliester.

“Masker yang baik haruslah nyaman dipakai secara fisik dan juga memiliki risiko rendah untuk mengiritasi kulit,” jelasnya. (UAH/ESP)

22 Agustus 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/08/Daur-Ulang-Masker-Medis-Menjadi-Geotekstil-Ramah-Lingkungan.jpg 450 747 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-08-22 16:08:502021-08-23 16:51:57Daur Ulang Masker Medis Menjadi Geotekstil Ramah Lingkungan

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Kajian Kritis Revisi UU Otonomi Khusus Papua Link to: Kajian Kritis Revisi UU Otonomi Khusus Papua Kajian Kritis Revisi UU Otonomi Khusus Papua Link to: Menengok Bagaimana Penyebaran Islam di Nusantara Link to: Menengok Bagaimana Penyebaran Islam di Nusantara Menengok Bagaimana Penyebaran Islam di Nusantara Scroll to top Scroll to top Scroll to top