• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Menengok Bagaimana Penyebaran Islam di Nusantara
Berita Kegiatan

Menengok Bagaimana Penyebaran Islam di Nusantara

Islam diperkirakan masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 30 hijriyah / 651 Masehi. Ketika itu, Khalifah Usman bin Affan mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk memperkenalkan negara Islam yang baru saja berdiri. Dalam kesempatan tersebut, utusan Islam beberapa kali mampir ke daratan Nusantara hingga mampu membangun relasi perdagangan di pantai Sumatra bagian barat pada tahun 674 Masehi. 

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Nur Kholis, S. Ag., S.E.I., M.Sh.Ec dalam webinar Culture Session : Understanding Indonesia Islam and Its Culture in Indonesia sebagai bagian dari pengenalan Indonesia kepada mahasiswa asing UII tahun akademik 2021/2022 pada Sabtu (21/8).

Nur Kholis menuturkan Aceh menjadi daerah pertama kunjungan tersebut. Hal ini kemudian dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di daerah tersebut bernama Samudra Pasai. Catatan penjelajah Marco Polo juga menyatakan bahwa terdapat banyak orang Arab menyebarkan agama Islam di Pasai pada tahun 692 Hijriyah/1292 Masehi. 

Sementara itu, Ibnu Battutah, seorang penjelajah dari Maroko, dalam laporannya juga mencatat bahwa terdapat sekolah Syafi’I di Aceh pada tahun 746 Hijriyah / 1345 Masehi. Makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang bertuliskan tahun 475 Hijriyah / 1082 Masehi juga menjadi bukti kehadiran orang Arab dan Islam di Pulau Jawa pada masa tersebut. Masuknya Islam ke tanah Jawa tidak lepas dari peran besar Wali Songo yang mampu menyebarkan Islam dengan menggunakan pendekatan budaya sehingga bisa diterima dengan mudah oleh penduduk lokal.

“Islamisasi massal terjadi di Indonesia pada abad ke 9 Hijriyah yang didukung oleh kemunculan kekuatan politik Islam dengan berdirinya kesultanan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon dan Ternate.” Ungkap Nur Kholis. Ia menambahkan bahwa proses Islamisasi bersamaan dengan memudarnya pengaruh kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara seperti keruntuhan Majapahit, Sriwijaya, dan Sunda. 

“Islam datang dengan cara yang berbeda dengan Portugis dan Spanyol yang datang ke Indonesia sebagai penakluk, sedangkan Islam hadir dengan cara yang damai dan menyebarkan semangat rahmatan lil ‘alamin.” Tukas Nur Kholis.

Ia juga membandingkan kehadiran Islam di Indonesia sebagai Islam Wasathiyah melalui organisasi Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Berbeda dengan metode penyebaran Islam di kawasan Asia Selatan yang kental dengan konflik. Banyak sekte keagamaan dan tidak adanya keseimbangan yang mampu menghadirkan wasatiyyah Islam. Hal yang hampir sama juga hadir di kalangan Muslim Barat melalui Islamophobia, konflik antar Muslim yang memiliki latar belakang negara dan mazhab yang berbeda hingga konflik yang berlandaskan tendensi intelektual.

Meskipun menjadi negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia menganut sistem demokrasi alih-alih teokrasi Islam. Selain itu, Nur Kholis juga menegaskan bahwa level toleransi di Indonesia cukup tinggi yang salah satunya ditunjukkan melalui hubungan Islam dan Pancasila. Pancasila sendiri  merupakan sebuah ideologi Indonesia yang cukup mengakomodasi berbagai aspek keagamaan. Tokoh-tokoh Muslim menerima Pancasila yang dijadikan sebagai bagian dari kalimah al-sawa dan penengah antara pemikiran sekuler dan negara Islam. (AP/ESP)

23 Agustus 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2018/03/Kegiatan-di-Masjid.jpg 600 400 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-08-23 10:06:412021-08-27 10:13:43Menengok Bagaimana Penyebaran Islam di Nusantara

Berita Terakhir

  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis
  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • BP Inauguration 2026: Momen Selebrasi dan Transformasi Mahasiswa Bridging Program UII

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Daur Ulang Masker Medis Menjadi Geotekstil Ramah Lingkungan Link to: Daur Ulang Masker Medis Menjadi Geotekstil Ramah Lingkungan Daur Ulang Masker Medis Menjadi Geotekstil Ramah Lingkungan Link to: Kajian Hukum Tata Negara Perlu Bersifat Meluas Link to: Kajian Hukum Tata Negara Perlu Bersifat Meluas Kajian Hukum Tata Negara Perlu Bersifat Meluas Scroll to top Scroll to top Scroll to top