Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan workshop penguatan tata kelola dan evaluasi pengelolaan jurnal ilmiah di lingkungan UII pada Selasa (21/07) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengelola jurnal dan tim Rumah Jurnal UII sebagai ajang dialog demi kemajuan publikasi ilmiah di lingkungan kampus.
Sebagai pengantar, Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D. menyampaikan, total ada 38 jurnal yang terdata di UII. Dua diantaranya meraih prestasi yang membanggakan yaitu Jurnal Prophetic Law Review dari Fakultas Hukum dan Millah dari Fakultas Ilmu Agama Islam yang sukses terakreditasi Scopus Q1.
Prof. Riyanto mendorong perlu nya jurnal-jurnal lain untuk segera meningkatkan akreditasinya, terutama dengan adanya Peraturan Pemerintah terbaru. Melalui PP No. 9 Tahun 2026, jurnal yang terakreditasi nantinya hanya sinta 1 sampai sinta 4 saja, dan penilaiannya menjadi lebih ketat. Oleh karena itu, diperlukan rencana tindak lanjut dan pembinaan yang serius menghadapi perubahan regulasi ini.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ketua Tim Rumah Jurnal UII Yuli andriansyah, S.E., M.Si., ia memaparkan beberapa kendala yang membuat sebuah jurnal sulit untuk naik akreditasinya, salah satunya adalah minimnya keterlibatan penulis asing. Menurutnya, kehadiran penulis dan reviewer internasional adalah syarat mutlak, sehingga pengelola jurnal perlu proaktif mengundang dan menjalin kolaborasi dengan mitra luar negeri.
Selain itu dengan perkembangan zaman yang ada saat ini, penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan jurnal sulit untuk dihindari. Terutama untuk menuju jurnal yang terakreditasi internasional, Yuli menjelaskan daripada menerjemahkan sendiri dan hasilnya tidak maksimal lebih baik memanfaatkan teknologi AI Selain agar hasilnya lebih maksimal juga untuk mengefisienkan waktu.
Penggunaan AI dalam jurnal ini diperbolehkan selama penggunaan yang wajar seperti dalam pemberitahuan Scopus contohnya “Untuk negara yang bukan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya, Scopus malah men ‘encourage’ pakai AI untuk ‘translation’, daripada menerjemahkan sendiri tapi bahasa inggrisnya tidak karuan, begitupun penggunaan AI dalam hal yang lain. Yang penting ada unsur transparasinya” ungkap Yuli.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara para pengelola jurnal dan narasumber mengenai dinamika yang terjadi dalam mengelola jurnal selama ini. Melalui forum strategis ini, diharapkan dapat tercipta ruang kolaborasi yang solid untuk meningkatkan budaya riset ilmiah institusi dan memajukan kontribusi penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat luas. (AAK/AHR/RS)





