Dokter adalah profesi mulia. Tidak jarang, di tangannya nyawa anak manusia dititipkan. Dedikasi dan kecermatan dalam bertindak tidak dapat ditawar. Indikator yang saya akses di situsweb World Health Organization (WHO) pada 11 Juli 2018, mengindikasikan potret umum kualitas kesehatan bangsa ini yang masih perlu dikembangkan. Kematian neonatal, misalnya, masih di angka 70 per 1.000 bayi. Kematian ibu masih mencapai 126 orang per 100.000 kelahiran hidup. Peran dokter sangat menentukan di sini.

Konsep dokter bintang lima yang dicanangkan oleh WHO dan diadopsi untuk Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia dalam mendefinisikan profil lulusan, harus betul-betul diamalkan. Pertama, seorang dokter harus siap memerankan peran sebagai penyedia layanan kesehatan (care provider). Dokter harus siap memberikan pelayanan kuratif (curative), preventif (preventive), dan rehabilitatif (rehabilitative).

Kedua, seorang dokter juga dituntut siap menjadi pengambil keputusan (decision-maker). Ini bukan peran mudah, apalagi jika dihadapkan pada keterbatasan sumber daya pendukung di banyak pojok Indonesia, terutama di daerah pinggiran atau pedalaman. Dengan sensitivitas yang dimiliki, seorang dokter harus dapat mengambil keputusan yang didukung oleh justifikasi yang memadai.

Ketiga, seorang dokter harus dapat memainkan peran sebagai komunikator (communicator) ulung. Kemampuan persuasi kepada individu, keluarga, dan komunitas yang menjadi tanggung jawabnya mutlak diperlukan. Peningkatkan kualitas kesehatan tidak mungkin mewujud tanpa peran serta aktif semua aktor tersebut. Mengajak orang lain bergerak dengan senang, tentu membutuhkan seorang penyampai pesan yang handal.

Keempat, seorang dokter juga dituntut menjadi pemimpin komunitas (community leader). Kualitas kesehatan tidak bisa lepas dari lingkungan fisiik dan sosial tempat pasien berasal. Karenanya, dokter perlu melihat masalah kesehatan pasien individu dalam perspektif yang lebih luas. Tidak hanya melihat pohon, tapi hutan. Aktivitas kesehatan bersama yang dilakukan oleh komunitas menjadi penting diperhatikan, karena berimbas kepada banyak orang.

Kelima, seorang dokter juga harus siap menjadi manajer (manager). Kemampuan manajerial dokter perlu terus diasah. Tidak jarang keputusan harus diambil dengan tim lintas disiplin yang mengharuskan kerja sama yang harmonis. Kemampuan manajerial diperlukan untuk mengorkestrasi beragam aktor dan sumber daya yang tersedia.

Di atas itu semua, sebagai alumni Universitas Islam Indonesia, kami mengharapkan nilai-nilai Islam yang abadi, dapat terus dipegang dan mewarnai semua peran dimainkan di tengah-tengah masyarakat. Sebagai contoh, dalam mengambil keputusan, kaidah fikih, bahwa meninggalkan mudhlarat lebih diutamakan dibandingkan mendapatkan maslahat dapat digunakan. Sebagai komunikator, ajaran Nabi dalam Hadis untuk menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh lawan bicara perlu dipikirkan. Informasi yang disampaikan kepada komunitas yang akalnya tidak mampu menjangkaunya, dapat memunculkan fitnah. Masih banyak ajaran Islam yang dapat dijadikan pegangan dalam menjalankan peran sebagai dokter bintang lima plus.

Teruslah mengasah diri, karena teknologi dalam dunia kedokteran berkembang dengan sangat pesat. Hanya mereka yang dapat mengimbangi perkembanganlah yang dapat terus menjaga relevansinya di tengah-tengah zaman dan masyarakatnya.

——–

Disarikan dari sambutan Rektor pada Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode XLII, 18 Juli 2018.