Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan acara Sekolah Kepemimpinan guna menanamkan nilai-nilai organisasi dan budaya kepemimpinan yang digagas para pendiri UII. Sekolah kepemimpinan ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan UII yang telah ditetapkan sebagai dosen tetap maupun tenaga kependidikan tetap universitas. Acara berlangsung pada Selasa (19/11) di Lt. 2 Ruang Audio Visual Perpustakaan Pusat UII.

Sekolah kepemimpinan ini pada awalnya bernama Prajabatan Dosen dan Ketenagakerjaan yang kemudian terjadi pergantian paradigma dan orientasinya. Orientasi sekolah kepemimpinan menyentuh aspek personal dan institusional dengan jangka waktu acara yang lebih panjang daripada paradigma sebelumnya.

Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D menjelaskan bahwa materi untuk sekolah kepemimpinan ini sudah melalui penyesuaian agar selaras dengan perkembangan terbaru. “Secara umum sekolah kepemimpinan terbagi menjadi 4 materi, yang pertama terkait dengan keorganisasian dan kepegawaian. Kedua terkait dengan akademik terutama untuk dosen. Mulai dari pembelajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga yakni pendalaman agama yang dibagi menjadi dua yaitu Al-Qur’an dan hadits, ditutup dengan materi dakwah Islamiyah.” ucapnya.

Fathul juga menyebutkan tiga hal yang membuat UII maju sampai sekarang ini. Hal pertama yakni keikhlasan para pendiri karena mereka bekerja tanpa pamrih, kedua yakni doa dan dorongan dari alumni. Hubungan UII dan para alumninya memang terjalin kuat. Sedangkan yang terakhir yakni adanya ikhtiar kecil yang kontinyu dari para sivitas akademika UII.

Materi pertama yang diisi oleh Fathul Wahid berjudul Sekolah Kepemimpinan Islam: Apa dan Bagaimana. Dalam materinya Fathul menitipkan harapan terhadap warga UII untuk mahir dalam teknologi, kuat dalam etika dan juga merupakan warga global (kualitas dan mobilitas).

Kemudian dari segi penggunaan teknologi, diharapkan perkembangan teknologi informasi di UII dapat menjadi alat bantu strategis baik dalam konten pembelajaran, proses pembelajaran, proses bisnis, dan juga pengambilan keputusan. Yang terakhir yakni dalam segi pembelajaran yang humanis. Konten pembelajaran yang lebih aksesibel dan fleksibel serta responsif terhadap perubahan sangat diperlukan untuk mengakselerasi perkembangan karakter mahasiswa. (DRD/ESP)