Ada berbagai macam cara mendukung kesuksesan sebuah tim kebanggaan bagi para penggemar. Kebanyakan masyarakat mengartikan mendukung sebuah tim dengan datang ke stadion saat tim kebanggaan bertanding. Namun saat ini melalui riset dan penelitian terutama di kalangan mahasiswa dapat menunjang kesuksesan bagi sebuah tim sepakbola itu sendiri.

Seperti tergambar lewat ungkapan Fajar Junaedi (Penulis buku “Merayakan Sepak Bola”) dalam diskusi sore hari di pelataran Gedung Unit 18 UII. Diskusi yang diselenggarakan oleh Dispensi UII bekerja sama dengan Redaksi Komunikasi UII mengangkat tema “Mencari Kemanusiaan dalam Fanatisme Sepakbola”. Turut mengundang sebagai narasumber R. Narayana Mahendra Prasetya (Dosen Ilmu Komunikasi UII).

Fajar Junaedi yang biasa disapa Fajarjun ini merasa resah akan tindak kekerasan yang terjadi di dalam sepakbola. Baik kerusuhan di antara para pemain maupun di kalangan suporter. Suporter datang ke stadion untuk bernyanyi bersama untuk mendukung tim atau sekedar menyaksikan pertandingan, namun melihat insiden yang terjadi justru membuat miris.

“Sepakbola itu kehidupan. Banyak orang yang terlibat dalam industri sepakbola saat ini. Sehingga ketika mendengar ada kematian dalam sepakbola itu sangat menyakitkan,” ungkap Fajarjun.
Fajarjun menjelaskan maraknya kasus kerusuhan ini bisa berawal dari banyak faktor. Saat ini media seperti media sosial juga memiliki andil besar pada kerusuhan. Maraknya ujaran kebencian yang dilakukan para suporter justru akan mematikan sepakbola Indonesia.

Senada dengan Fajarjun, Narayana Mahendra Prasetya juga menganggap media sosial bisa menjadi pemicu kerusuhan yang terjadi pada suporter sepakbola. Padahal dengan media para suporter saat ini juga sudah mulai memanfaatkan dengan baik seperti membuat koreografi yang menarik, komunikasi dengan tim kebanggaan dan bahkan membantu tim dalam pengawasan.

“Sangat disayangkan pada pengguna media sosial anonim sering kali memicu kerusuhan antar suporter dengan ujaran kebencian. Yang tentu saja ini sangat merugikan bagi tim yang bertanding. Namun tak jarang saya menemukan akun-akun suporter yang membantu tim dalam berbenah lewat penyampaian kritik saran di media sosial. Dan ini jauh lebih bermanfaat dari sekedar memprovokasi suporter tim lawan,” ujar Narayana.

Fajarjun dan Nara sepakat bahwasannya sebagai suporter yang terliterasi dengan baik (mahasiswa) lebih baik melakukan berbagai macam riset dan penelitian pada tim sepakbola di Indonesia. Hal ini selain akan menunjang bagaimana tindakan yang perlu dilakukan sebuah tim sepakbola atau bahkan pemerintah daerah, juga menjadi sebuah bentuk dukungan pada sepakbola Indonesia.

“Mari kita dukung sama-sama sepakbola Indonesia dengan membanjirinya riset dan penelitian tentang sepakbola yang akan digunakan menjadi dasar pertimbangan dalam menyelesaikan segala pokok permasalahan di sepakbola Indonesia,” pungkas Fajar Junaedi. (ENI/ESP)