Lembaga Eksekutif Mahasiwa Universitas Islam Indonesia (LEM UII) mengadakan kajian dengan topik bahasan paham feminism dari perspektif Barat dan Islam. Bertempat di Gedung K.H Mas Mansur UII, pada Jumat (20/4), kajian mendatangkan narasumber Karina Utami Dewi S.IP., M.A. dan Aridhayanti Arifin, S.T.,M.Cs. yang berbicara mengenai Feminism dari dua sudut yang diangkat yakni Barat dan Islam.

Latar belakan diadakannya kajian ini adalah untuk menanggapi isu-isu feminism yang sudah marak di masyarakat serta juga dalam rangka memperingati hari Kartini. “Kajian ini sebagai tanggapan mengenai aksi-aksi Feminism yang sedang beredar di masyarakat agar dapat didiskusikan bersama dan menemukan penjelasan yang benar,” ujar Muhajir Selaku perwakilan LEM UII.

Jalannya kajian diawali dengan pembahasan mengenai Feminism dari perspektif barat yang di paparkan oleh Karina Utami Dewi yang juga merupakan dosen Program Studi Hubungan Internasional UII. Pada pembahasan ini narasumber fokus pada sejarah dan pergerakan Feminism dari dunia barat dan internasional.

Disampaikan Karina Utami Dewi, Feminsm merupakan pergerakan atau ideologi dengan tujuan mencapai kesetaraan jenis kelamin dalam aspek politik, ekonomi , pendidikan, sosial, dan aspek personal. Ia menggaris bawahi opini yang beredar di masyarakat mengenai peran wanita dan laki-laki di dunia internasional, dimana wanita masih memiliki peran yang rendah dibanding laki-laki.

Menurut Karina Utami Dewi, penting memberikan pemahaman kepada mahasiswa pada era ini agar sebuah tindakan diskriminasi dapat dikurangi atau bahkan tidak ada lagi serta mencoba membuka wawasan mengenai bagaimana menghadapi pelecehan yang dialami oleh wanita bukan sepenuhnya kesalahan dari pihak wanita.

Karina Utami Dewi menambahkan, dunia internasional juga berpendapat bahwa paham Feminism adalah paham keadilan yang dapat dimiliki oleh siapa saja, bahkan itu seorang laki-laki, karena pada dasarnya semua orang harus membela sebuah keadilan. Dalam kesempatan ini Karina Utami Dewi juga menampilkan tokoh-tokoh Feminism di dunia Internasional dan salah satunya adalah Presiden Indonesia yakni Joko Widodo.

Pada sesi kedua Aridhayanti Arifin, memamaparkan materi mengenai Feminism dari Perspektif Islam. Ia menjelaskan sejarah paham Feminism yang sebenarnya sudah lebih dulu ada dalam Islam. Menurutnya Islam sama sekali tidak mengekang hak-hak wanita dalam kehidupan, namun yang diketahui masyarakat bahwa Islam seperti membatasi diri wanita.

“Pada hakikatnya Islam dijadikan sebagai aturan yang mengatur hak dan kewajiban dari pihak wanita maupun laki-laki untuk saling melengkapi. Pada dasarnya di setiap wilayah domestik maupun publik pasti membutuhkan keberadaan kedua jenis kelamin ini, yakni wanita dan laki-laki,” ujar Aridhayanti Arifin.

Aridhayanti Arifin juga menjelaskan pengertian tentang peran wanita menurut Islam dalam perpolitikan dan sosial. Menurutnya wanita juga dapat diberdayakan dalam dunia politik, pendidikan dan ekonomi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Aridhayanti Arifin mengajak mahasiswa untuk saling menjaga peran satu sama lain dalam kehidupan sosial.

“Laki-laki memiliki peran sebagai pelindung dan wanita juga memiliki hak untuk dilindungi, untuk itu Islam datang sebagai aturan dalam norma hidup manusia,” ujarnya. (GT/RS)