Universitas Islam Indonesia (UII) mewisuda 1.115 lulusan pada jenjang Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma, di Auditorium Prof. KH. Abdulkahar Mudzakkir, Sabtu (31/8). Pada wisuda Periode VI Tahun Akademik 2018/2019 ini, terdiri dari 1 doktor, 85 magister, 974 sarjana, dan 55 ahli madya. Sampai kelulusan ini, UII telah meluluskan 98.836 alumni, dan telah berkarya di beragam sektor, baik di dalam maupun luar negeri.

Torehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi pada jenjang magister diraih Arif Rahman dari Program Studi (Prodi) Magister Teknik Sipil, lulus dengan IPK 3,93. Sementara pada jenjang sarjana berhasil diraih Aditya Toh Prabowo, dari Prodi Hukum dengan IPK 3,99. Sedangkan pada jenjang diploma, IPK tertinggi 3,97, diraih Adela Syarifina dari Prodi Diploma Tiga Analisis Kimia. Atas prestasi ini, ketiga wisudawan mendapat pin emas, yang disematkan oleh wakil alumni UII, Anugrah Pakerti, S.Kom., M.B.A..

Mengawali sambutannya, Rektor UII Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. mengucapkan selamat atas pencapaian wisudawan. Menyelesaikan studi sendiri bukanlah tanpa rintangan. Tetapi dengan keteguhan dan kerja keras, semuanya dapat dilalui dengan tuntas. “Ucapan selamat juga saya sampaikan kepada keluarga para wisudawan. Dukungan dan doa yang terkirim tiap hari telah menerangi dan melapangkan jalan, serta menghalau aral dan rintangan dalam studi,” paparnya.

Di hadapan wisudawan Fathul Wahid berpesan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, justru merupakan sebuah awal. Oleh karenanya penting membuat desain masa depan selain juga menjadi pribadi yang pandai berterimakasih. ” Saudara adalah pemilik masa depan. Mulai saat ini, jika Saudara belum melakukan, desainlah masa depan yang Saudara bayangkan,” tandasnya.

Menurut Fathul Wahid, masa depan yang dekat serupa dengan melihat gajah hitam di dalam kamar yang gelap. “Saudara hanya mempunyai dua pilihan untuk ini: mengakui bahwa kita belum mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan serta mempelajarinya, atau berpura-pura tidak mengetahui dengan segala konsekuensinya,” paparnya.

Selain itu, Teknologi informasi tetap berkembang, tetapi sulit membayangkan akan seperti apa. Banyak profesi yang mungkin akan sirna, tetapi yang mana, tidak selalu dapat dikira dengan pasti. “Bisa jadi universitas juga sudah berubah model bisnisnya. Sangat mungkin apa yang kita pelajari saat ini, sudah tidak lagi relevan,” imbuh Fathul Wahid.

Oleh karenanya satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah tetap memasang antena sensitivitas dan selalu mengembangkan diri. Masa depan akan penuh dengan kejutan-kejutan yang berdampak hebat. “Kita harus siap menjadi pembelajar cepat untuk merespons perubahan yang ada di masa depan. Masa depan ini serupa dengan angsa hitam, yang tidak dinyana, karena kita secara lumrah mengharap bertemu dengan angsa putih,” tandasnya.

Sementara wakil alumni UII, Anugrah Pakerti yang saat ini juga sebagai President Commissioner of PT Huddleston Energy International, Coal Mining and Energy Company, mengajak wisudwan UII untuk dapat melihat dunia, melihat betapa cepatnya dunia berubah. “Sadarilah bahwa bukan yang besar mengalahkan yang kecil, namun yang cepat-lah yang akan mengalahkan yang lambat,” ujarnya.

Untuk itu wisudawan perlu melandasi kecepatan dengan iman, ilmu, dan integritas. Selalu menjunjung nilai-nilai UII dimanapun berada. Melandasi segala sikap berdasarkan apa yang telah diajarkan oleh agama, dan bersama-sama membuat Indonesia bangga dengan selalu berlandaskan Pancasila.

“Selamat mengarungi tahapan kehidupan yang baru, jangan pernah lelah untuk bermimpi, belajar dan berkarya. Percayalah, alam semesta akan berkonspirasi untuk membantu mewujudkan apa yang kalian inginkan,” pungkas Anugrah Pakerti.