Perwakilan English Debate Society Universitas Islam Indonesia (EDS UII) yang terdiri dari Andi Putrado (Pendidikan Bahasa Inggris 2016), Fariz Rachman Hadi (Teknik Mesin 2016), dan Muh. Gifari Akbar (Teknik Sipil 2016) berhasil menyabet juara 2 dalam lomba debat yang diadakan oleh Society of Petroleum Engineers Universitas Gadjah Mada Student Chapter (SPE UGMSC). Ajang yang merupakan rangkaian dari acara Annual Petroleum Competition and Exhibition (APECX) ini berlangsung selama dua hari yakni pada 15-16 November 2019.

Andi Putrado mengatakan lomba kali ini berfokus pada Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 7, yakni energi bersih dan terjangkau. Bertemakan Ecalating Cognition to Build Up The Future Petroleum Industry, menurut Andi isu yang hangat dibicarakan mengenai energi adalah sejauh mana renewable energy seperti pembangkit listrik tenaga air, kincir angin, ataupun panel surya bisa dikembangankan untuk menggantikan non-renewable energy.

“Targetnya di tahun 2030 adalah semua negara mendapat akses dan harga energi yang terjangkau dan aman untuk lingkungan,” jelas Andi yang pada bulan Maret yang lalu juga berhasil meraih juara 3 lomba debat yang diadakan di Universitas Muria Kudus (UMK).

Lebih lanjut di jelaskan Andi, tidak hanya menyuarakan efek samping dalam proses pembuatan energi seperti penebangan yang berlebihan, isu kebijakan dan dampaknya dalam sektor yang lain juga diangkat.

“Bayangkan kita memiliki satu wadah organisasi global yang menangani urusan energi, terkait penjaminan distribusi dan keterjangkauan negara-negara di dunia, akan ada keseimbangan yang dapat dicapai. Di sisi lain, tantangannya adalah keadilan bagi negara yang paling banyak memasok energi tersebut,” paparnya.

Sebelum berlaga di babak final, Andi, Fariz, dan Gifari telah melalui 3 babak penyisihan. Disampaikan Andi, sistem penilaiannya berkualitas, melihat dari juri yang memiliki latarbelakang ahli yang berbeda-beda. Kebanyakan peserta adalah mahasiswa yang relevan dengan tema debatnya, seperti jurusan kimia, walaupun tidak semuanya tergabung dalam klub debat.

“Tim kami justru yang paling tidak relevan jika dilihat dari latarbelakang jurusannya. Selain itu persiapan yang dilakukan hanya satu Minggu dengan tiga kali latihan. Selebihnya memperbanyak referensi dengan membaca,” ungkapnya.

Tidak hanya turun ke jalan, menurut Andi dengan berani mengikuti lomba ataupun kegiatan mobilitas lain, mahasiswa juga dapat mengasah kemampuan di bidang masing-masing sembari mengharumkan nama almamater. (IG/RS)