Rendahnya minat baca di Indonesia sering menjadi sorotan. Namun ternyata, permasalahan lainnya adalah masih belum meratanya akses, fasilitas, dan infrastruktur menuju bacaan yang berkualitas. Beberapa buku yang tersedia di iPusnas mengalami antrian yang panjang. Inilah yang disampaikan Fitri Eka Aliyanti, SHI., MA dalam acara “Hidup Lebih Bermutu dengan Membaca Buku” pada Sabtu (19/9) lalu.

“Hal ini memperlihatkan bahwa minat baca di Indonesia itu tidak serendah yang dibayangkan. Bahkan indeks minat baca Yogyakarta merupakan yang tertinggi versi kemendikbud”, ujar dosen Ekonomi Islam UII tersebut menyampaikan.

Ia menambahkan mahalnya biaya penerbitan turut memberikan dampak pada harga-harga buku di pasaran yang cenderung tinggi. Faktor itu menjadi salah satu penyebab rendahnya akses bacaan yang berkualitas. “Tapi sekarang sudah banyak perpustakaan yang bagus, khususnya di Jogja. Perpustakaannya nyaman, terbukti parkiran motor sering penuh saking banyaknya pengunjung”, jelasnya.

Manfaatkan Perpustakaan Digital Hingga Buku Sekon

Di tengah pandemi, fasilitas perpustakaan digital seperti iPusnas tentu sangat membantu. iPusnas menawarkan berbagai macam buku berkualitas dari mulai fiksi hingga bacaan akademis. Pengunjung hanya perlu menginstal aplikasi iPusnas dan membuat akun tanpa pungutan biaya.

Selain itu, bacaan yang berkualitas namun mahal bisa disiasati dengan membeli buku bekas ke orang-orang yang telah selesai membacanya. “Yang penting kan isinya, jadi kalau belum ada anggaran bisa beli buku bekas, atau pinjam saja ke teman yang punya. Lebih baik daripada beli buku bajakan, tetap dukung buku-buku original ya”, pesannya.

Solusi lain yang lebih interaktif adalah Audio book. “Ya jadi mirip seperti didongengin ya. Ini biasanya juga jadi solusi bagi orang-orang semi disleksia”. Audio book biasanya tersedia di platform-platform audio seperti spotify atau bahkan Youtube.

Menurutnya, minat membaca dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal dapat berupa tekanan dari luar seperti mahasiswa yang mau tidak mau harus membaca demi memperoleh referensi untuk pendidikannya.

“Sedangkan faktor internal bisa dibangun dengan mencari minat kita, misalkan minatnya itu otomotif, yaudah cari aja segala edukasi tentang otomotif, bisa dari internet. Tapi lama-lama pasti akan haus informasi, merasa tidak cukup dengan sumber internet, maka akan timbul minat untuk mencari lebih lanjut dengan membaca buku”, pungkasnya. (VTR/ESP)