Diskusi terkait generasi yang hilang (lost generation) dimulai ketika UNICEF menjelang peringatan Hari Anak Sedunia, pada 11 November 2020 menerbitkan sebuah laporan global yang diberi bingkai “Averting a Lost COVID Generation” (UNICEF, 2020). Laporan tersebut berisi usulan besar yang harus menjadi kerja kolektif untuk merespons, memulihkan, dan mengimaji ulang dunia bakda pandemi yang ramah bagi anak-anak. Secara umum, usulan mitigasi tersebut terkait dengan pendidikan, kesehatan, kesenjangan digital, dan kemiskinan. Laporan tersebut memantik diskusi lanjutan di banyak negara, termasuk di Indonesia.

Ini bukan masalah ketika masa pandemi saja, tetapi terkait masa depan sebuah bangsa. Jika kekhawatiran generasi yang hilang menjadi nyata, maka akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan. Pandemi bisa jadi hanya memperburuk keadaaan, karena di banyak belahan dunia, nasib anak-anak memang belum membaik. Sebabnya beragam, termasuk konflik yang tidak berkesudahan dan kemiskinan.

 

Lapangan permainan yang tidak rata

Data yang dikumpulkan oleh UNICEF (2020) menunjukkan bahwa bahwa dampak pandemi di negara dengan tingkat ekonomi secara umum lebih parah dibandingkan negara kaya. Disparitas ini yang menjadikan dunia menjadi lapangan permainan yang tidak rata (unlevelled playing field), untuk semua warganya.

Di Indonesia, kasusnya tidak berbeda jauh. Isu disparitas antarwilayah dan antarkelompok masyarakat sudah lama menghiasi diskusi terkait dengan strategi pembangunan. Bisa jadi pendekatan efek tetesan ke bawah (trickle down effect) yang gagal di masa lampau mempunyai andil munculnya disparitas tersebut.

Disparitas di berbagai bidang adalah fakta sosial yang masih aktual di Indonesia. Disparitas tersebut membesar saat ini, karena pendemi ini telah memberikan dampak yang lebih dahsyat kepada golongan rentan: tidak beruntung secara ekonomi dan keterbatasan akses ke banyak layanan (termasuk pendidikan dan kesehatan).

Pandemi telah mengubah cara hidup secara drastis. Dengan teknologi informasi (TI), misalnya, cara hidup tersebut menemukan bentuknya yang baru. Tetapi masalah muncul, selain TI tidak dapat mengantikan semua aktivitas luring, akses terhadap TI juga timpang.

Beragam inovasi dilakukan untuk memanfaatkan TI untuk mendukung beragam aktivitas semaksimal mungkin, Meski tidak sulit untuk bersepakat, masih banyak cacatan dan pertanyaan yang belum terjawab. Ketimpangan juga diupayakan untuk dikurangi. Namun untuk yang ini, kompleksitasnya jauh lebih tinggi dan tidak bisa dijalankan serta merta dalam waktu yang singkat.

Sebagian kelompok masyarakat dapat dengan mudah menanggung biasa perpindahan (switching cost), tetapi sebagian lainnya tidak demikian.

Anak-anak (baca: manusia yang belum mandiri) dari keluarga yang kurang beruntung inilah yang membutuhkan perhatian lebih. Perbedaan curam ini perlu masuk dalam radar ketika diskusi.

 

Strategi besar

Untuk merespons realitas di atas terkait risiko generasi yang hilang, paling tidak ada tiga strategi besar untuk konteks Indonesia, yang dapat memantik diskusi lebih mendalam.

Pertama, mengelola ekspektasi kolektif. Situasi pandemi berbeda dengan ketika normal. Kenyataan saat mungkin berbeda dengan beragam asumsi yang biasaya mendasari keputusan dan kebijakan sebelum pandemi menyerang. Karenanya kita perlu menyinkronkan perspektif dalam melihat realitas. Hal ini penting untuk menjalin kesejalanan langkah kolektif semua komponen bangsa.

Misalnya, di situasi seperti ini, apakah kita harus terburu-buru membuka sekolah atau perguruan tinggi, ataukah menunggu waktu yang tepat? Atau apakah pembatasan mobilitas fisik warga dijalankan dengan ketat dengan mengabaikan sepenuhnya aktivitas ekonomi? Menemukan takaran yang pas diperlukan dan perlu dikawal dengan konsisten. Sangat mungkin tidak memuaskan semua orang.

Menentukan prioritas menjadi sangat penting. Dalam konteks pendidikan anak-anak, misalnya, penyederhaan konten pembelajaran dan fokus pada yang pokok perlu dilakukan, termasuk strategi pembelajarannya. Memindah pembelajaran luring ke daring dengan durasi dan gaya yang sama, bisa jadi tidak menyelesaikan masalah. Selain ada variasi kesiapan, juga ada aspek psikologis yang perlu dipertimbangkan.

Ruang toleransi karenanya perlu disepakati. Pilihan saat ini tidak banyak. Di sini, sangat mungkin ada pengorbanan yang harus dilakukan, tetapi semuanya untuk kebaikan yang lebih besar. Di sinilah pentingnya mengelola ekspektasi kolektif. Tanpa ini, akan sangat sulit mengelola perbedaan kepentingan yang ada.

Kedua, menyesuaikan diri dengan tatatan baru. Di sini, Variasi konteks memerlukan keragaman adaptasi, sehingga tidak ada solusi “gebyah uyah” atau seragam untuk semua. Komunikasi yang baik pun dikembangkan.

Dalam konteks pendidikan, misalnya, inovasi penggunaan TI perlu terus diikhtiarkan. Tidak sulit untuk bersepakat bahwa pendidikan tidak hanya transfer ilmu atau ketrampilan, tetapi lebih penting, adalah transfer nilai atau pembentukan karakter. Pertanyaan ini menjadi penting dicarikan jawabnya: dalam situasi ketika pilihan tidak banyak. apakah transfer nilai bisa difasilitasi TI?

Jika poin di atas disepakati, investai TI perlu diupayakan. Tidak selalu mudah untuk semua lembaga atau warga. Inovasi lain bisa menggantikan atau melengkapi jika dibutuhkan, seperti teknologi radio dan teknologi ugahari lainnya.

Tidak kalang penting, dalam konteks ini adalah upaya kolektif mengembangkan budaya digital. Bisa jadi budaya baru ini menjadi permanen, hidup berdampingan dengan budaya lama. Dalam konteks pendidikan tinggi, penggunaan TI, ini bisa mempercepat demokratisasi pendidikan, meningkatkan angka partisipasi kasar (APK), dan memfasilitasi pembelajaran sepanjang hayat.

Ketiga, melandaikan lapangan permainan. Ketimpangan yang ada perlu dikurangi, jika tidak mungkin dihilangkan. Di sini, negara harus hadir. Negara perlu memastikan kesejalanan dengan aktor lain, jika kapasitasnya terbatas. Orkestrator yang ulung dan mumpuni diperlukan di sini.

Setiap kebijakan yang diambilpun perlu dipikirkan hati-hati dan dengan kejujuran tingkat tinggi, sehingga publik dapat ikut “memikirkan”. Jangan sampai ada kebijakan dengan motif tersembunyi yang menguntungkan sebagian kelompok kecil warga. Kebijakan harus ramah untuk sebanyak mungkin warga, jika ke semuanya tidak mungkin dilakukan. Kelompok yang terakhir ini perlu juga dipikirkan program intervensi khususnya.

Bisa jadi kebijakan yang  dikeluarkan tidak bersifat tunggal untuk seluruh warga, tapi ada ruang kontekstualisasi. Indonesia sangat luas dan beragam. Ruang inovasi sampai level tertentu harus dimungkinkan.

Misalnya, ketika pembatasan mobilitas dilakukan, warga dan termasuk UMKM yang rentan, perlu ditingkatkan kemampuan belinya atau dicukupi kebutuhannya. Di sektor pendidikan, sebagai contoh lain, bantuan lain kepada sekolah mungkin juga perlu dipikirkan untuk memitigasi kehilangan pembelajaran (learning loss).

Program intervensi tersebut tidak selalu mudah dan murah. Tetapi, ini penting untuk melendaikan lapangan permainan.

 

Referensi

UNICEF (2020). Averting a Lost COVID Generation. New York, NY: UNICEF.

 

Elaborasi ringan dari paparan di Zoominar bertema “Mengantisipasi Lost Generation Akibat Pandemi” yang diselenggarakan oleh SeICMI DIY, MW KAHMI DIY, KB PII Jogja Besar, dan LesPK pada 6 Februari 2021.