Menulis menjadi salah kemampuan penting untuk dimiliki, termasuk bagi mahasiswa program studi arsitektur. Untuk mencapai kemampuan tersebut, mahasiswa program studi Arsitektur dibekali dengan mata kuliah wajib bahasa Indonesia. Mata kulaih ini dimaksud untuk memahami bagaimana mengartikulasikan bahasa Indonesia dalam cerita yang memiliki objek arsitektur sebagai unsur utamanya. Hal ini disampaikan Dosen Jurursan Arsitektur UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. dalam kuliah umum program studi Arsitektur dengan tema Menggali Kritik Terhadap Objek Arsitektur beberapa waktu yang lalu.

Dalam pemaparannya, pria yang akrab disapa Pak Wing ini menyampaikan bahwa terdapat 4 tahap dalam menulis kritik arsitektur yang diawali dengan obeservasi dengan mengamati objek arsitektur yang terdiri dari objek interior maupun eksterior. “Memahami objek akan membuat kita lebih nyaman menyampaikan cerita. Anda bebas memilih objek yang hendak di observasi,” Ujar Wiryono.

Tahap selanjutnya adalah analisis kritis yang tidak terbatas pada single building namun bisa menggunakan objek di sekitar. Contohnya dengan menjadikan objek atau perilaku orang yang dijumpai ketika sedang berjalan di atas trotoar.

Langkah ketiga yang harus dilakukan dalam menyusun kritik arsitektur adalah menyusun narasi yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, mudah dimengerti dan berisi kalimat singkat.” Ada berbagai macam kritik seperti eufokatif. Misalkan isu Covid-19 yang tidak bisa ditampung, Arsitektur bisa menanggapi situasi tersebut misalkan melalui analisa WFH yang bisa menjadi sebuah tempat kerja yang nyaman tanpa terus menerus kerja dari luar rumah,” terang Wiryono.

Tahap terakhir menurut Wiryono adalah sintesis dengan cara membahas dan menyusun kritik yang hendak disampaikan terhadap arsitektur.

Kritik arsitektur harus memperhatikan level of comprehensiveness dalam kritik dan narasi tergantung pada jumlah informasi yang diperoleh. Informasi yang banyak akan menentukan flexibilitas dalam tulisan. Penulis juga harus menyusun konsep tulisan yang dimiliki agar tulisan tersebut mampu terserap oleh pikiran orang lain dan dipahami dengan mudah.

Pemaknaan kata dalam proses menulis juga harus diperhatikan agar tidak ada kata dari bahasa asing yang diterjemahkan dengan makna yang berbeda. “Cetak miring untuk huruf berbahasa asing dan perhatikan efektifitas penulisan kalimat yang dimiliki,” tambah Wiryono.

Menulis kritik arsitektur dapat dimulai dengan memilih kasus yang memiliki data lengkap terutama dalam hal visual. Selanjutnya, data tersebut dibingkai dalam sebuah tulisan dengan menggunakan pertanyaan seperti dimana lokasi dan bagaimana karakter yang ada dalam kasus, siapa yang menjadi arsitek dan klien, bagaimana spesifikasi yang dimiliki bangunan serta bagaimana konsep perancangan. Selain itu, penulis juga harus memahami jenis kritik dalam tulisan yang bertujuan untuk mempermudah kritik yang hendak disampaikan.

“Jangan memilih permasalahan yang terlalu kompleks, tapi cari hal yang mudah untuk dieksplor. Silahkan buka wawasan anda untuk mengeksplor dunia arsitektur secara lebih luas,” tutup Wiryono. (AP/RS)