• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Menumbuhkan Nilai Kebangsaan dan Kebhinekaan
Berita Kegiatan

Menumbuhkan Nilai Kebangsaan dan Kebhinekaan

Pernyataan Sikap UII

Memahami nilai-nilai kebangsaan merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan persatuan Indonesia. Nilai-nilai ini tercermin dalam sikap dan prilaku bangsa Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII) menyelenggarakan Studium General pada Sabtu (26/9) secara daring. Kegiatan ini mengangkat tema ‘Menggali Nilai Kebangsaan dan Kebhinekaan dalam Perspektif Tafsir Tarbawi’ dengan menghadirkan narasumber Guru Besar Bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan dan Alumni UII, Dr. Drs. Rohidin, M.Ag. dalam sambutannya menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berada dalam pusaran ideologi, dan proses perubahan demografi. Sejak terbukanya pintu reformasi berbagai ideologi mulai bermunculan, menyikapi hal ini diperlukan kuatnya keyakinan dan pemahaman terhadap Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. “Pancasila sebagai darul ‘ahdi wa syahadah atau mu’ahadah wathaniyah yang bermakna bahwa setiap kelompok, harus berakselerasi meraih kemajuan dan keunggulan berdasarkan etika dan sportifitas,” imbuhnya.

Pancasila menurut sebagian kalangan dianggap sebagai asas negara konsesnsus dan kesaksian atau sebagai kesepakatan kebangsaan. Artinya negara Indonesia adalah negara yang sepakat dengan kemaslahatan. Rohidin dalam kesempatannya berpesan sebagai warga negara Indonesia haruslah berperan aktif dalam pemahaman, penghayatan, dan laku hidup sehari-hari. Adanya Pancasila memiliki tujuan untuk memberikan pedoman bagi masyarakat mengenai arti penting pertahanan ideologi, serta sebagai alat harmonisasi dan manifestasi intelektual.

Lebih lanjut Rohidin menyebut pentingnya menyikapi berbagai perbedaan dengan sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang), yang artinya tidak ekstrem dan tidak pula liberal. ”Jika nilai ini benar-benar di implementasikan maka obsesi kebangsaan dan kebhinekatunggalikaan dapat diwujudkan,” tuturnya.

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. mengatakan perlu adanya kiblat baru dalam perkembangan peradaban Islam. Negara Indonesia dengan jumlah pemeluk Islamnya yang besar, wilayah geografisnya yang luas, dan paling homogen karena suni yang mendominasi sebagai madzab modal historis yang sangat penting, mampu untuk mengampu peradaban Islam di masa depan.

“Jadi biarkanlah Makkah menjadi kiblat muslim dalam beribadah, dan kita obsesikan Indonesia menjadi kiblat muslimin dalam peradaban. Mari kita mengukuhkan Indonesia, dan tetaplah kiblat ibadah kita di Makkah,” tuturnya.

Nasaruddin Umar menegaskan bahwa dunia tidak bisa menganggap Islam itu bertentangan dengan konsep hak asasi manusia dan politik modern demokrasi. Ia mengingatkan bahwa Indonesia hadir untuk menjadi negara contoh untuk sebuah demokrasi. Keutuhan negara Indonesia yang menyatukan banyak perbedaan di dalamnya dikarenakan wujud kolaborasi antara Islam dengan kearifan lokal. Selama keutuhan umat Islam terjaga di Indonesia, kekokohan Indonesia tidak akan goyah.

“Apa yang membuat Indonesia utuh sampai saat ini? Itu adalah adanya semacam kolaborasi asimilasi antara Islam dengan kearifan lokal. Selama kearifan lokal berpadu dengan ajaran Islam maka Indonesia tidak akan goyah,” ucapnya.

Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa saat ini keutuhan umat Islam dijadiakn sasaran strategi pemisah keutuhan bangsa. Sebagaimana saat ini terlihat banyaknya konflik yang terjadi di dalam kepemimpinan, seperti menghadap-hadapkan antara ulama’ dan umara (pemimpin), kebudayaan dan kearifan lokal karena hal-hal tersebut akan berdampak pada perpecahan umat antar bangsa. Dengan adanya konsep ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ diharapkan mampu menjadi lapangan luas yang bisa menampung semua perbedaan itu.

“Sudah saatnya kita berfikir jernih disini. Jangan kita mempertahankan sebuah konsep yang tidak jelas, dari orang yang tidak jelas juga. Sekalipun kita berbeda-beda, tetapi kita juga tetap satu visi dan misi. Tidak perlu kita bertengkar hanya karenan mempersoalkan atribut-atribut yang firqoh, yang bercabang-cabang,” jelasnya.

Terakhir, Nasaruddin Umar berpesan untuk tidak menghadap-hadapkan antara kebangsaan dan keislaman. Sebab, ideologi kebangsaan yang telah dicanangkan terutama dalam Pancasila dan UUD 1945, tidak ada satupun yang bertentangan dengan Islam. “Mari kita beragama Islam yang sejati, menebarkan cinta dan kasih sayang. Kalau ada orang mengatasnamakan Islam dan menebarkan kebencian maka itu tidak disemangati oleh bismillahirrahmanirrahim,” pungkasnya. (HA/RS)

28 September 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/Kampus-UII-1.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-09-28 14:17:092020-09-28 14:17:09Menumbuhkan Nilai Kebangsaan dan Kebhinekaan

Berita Terakhir

  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis
  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Peluang dan Tantangan Halalpreneur Link to: Peluang dan Tantangan Halalpreneur Peluang dan Tantangan Halalpreneur Link to: Agar Bisnis Siap Menghadapi Krisis Link to: Agar Bisnis Siap Menghadapi Krisis Agar Bisnis Siap Menghadapi Krisis Scroll to top Scroll to top Scroll to top