Menyalakan Lentera Iman, Menyambut Cahaya Ramadan
Grand Opening SAFIR 1447 H dengan tema Menyalakan Lentera Iman, Menyambut Cahaya Ramadan diselenggarakan oleh SAFIR Universitas Islam Indonesia (UII) pada Jumat, (14/02) bertempat di Masjid Ulil Albab, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dr. Drs.Rohidin, S.H., M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni, serta menghadirkan Ustadz Salim A. Fillah sebagai pembicara utama. Acara ini bertujuan mempersiapkan sivitas akademika UII dalam menyambut bulan suci Ramadan secara spiritual, reflektif, dan berkesadaran.
Rangkaian acara berlangsung khidmat dengan simbolisasi “lentera iman” sebagai metafora kekuatan spiritual individu. Lentera dimaknai sebagai iman yang harus dipersiapkan dan dijaga agar mampu menyambut cahaya Ramadan yakni keberkahan dan nilai-nilai ketakwaan tanpa redup di tengah perjalanan ibadah. Narasi ini menjadi benang merah kegiatan, mulai dari pembukaan hingga sesi tausiyah.
Dalam sambutannya, Rohidin menekankan bahwa Ramadan seharusnya dipahami sebagai proses transformasi diri yang berkelanjutan. Ia menegaskan pentingnya kesiapan mental-spiritual agar ibadah tidak berhenti pada rutinitas, melainkan menghasilkan perubahan sikap dan perilaku yang nyata di lingkungan kampus dan masyarakat.
“Ramadan bukan sekadar momentum tahunan, tetapi proses pendidikan ruhani. Kita perlu memastikan bahwa setiap Ramadan benar-benar mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik lebih berintegritas, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab,” ujar Rohidin.
Memasuki sesi utama, Ustadz Salim A. Fillah mengajak peserta melakukan inspeksi diri menjelang bulan mulia. Ia mengemukakan pertanyaan reflektif tentang sejauh mana Ramadan-Ramadan sebelumnya telah membentuk kualitas kepribadian dan ketakwaan seseorang. Refleksi ini, menurutnya, penting agar Ramadan tidak berlalu tanpa makna transformasional.
Ustadz Salim kemudian memaparkan tiga langkah utama dalam memasuki Ramadan, yakni Terpanggil, Bahagia, dan Yakin. Terpanggil dimaknai sebagai kesadaran batin bahwa Ramadan adalah undangan ilahi yang perlu disambut dengan kesiapan. Bahagia menunjukkan sikap positif dan kerinduan spiritual terhadap ibadah. Adapun Yakin adalah keyakinan penuh bahwa setiap amal di Ramadan membawa dampak nyata bagi pembentukan diri.
“Kita perlu bertanya dengan jujur: setelah sekian banyak Ramadan berlalu, apakah kita benar-benar menjadi manusia yang lebih baik? Ramadan seharusnya menghantar, bukan sekadar melintas,” tutur Ustadz Salim.
Lebih lanjut, ia menautkan konsep input–proses–output dalam ibadah Ramadan. Input berupa niat dan kesiapan iman, proses berupa konsistensi amal dan muhasabah, serta output berupa perubahan akhlak dan komitmen sosial. Ketiganya, menurut Ustadz Salim, harus berjalan utuh agar “lentera iman” tetap menyala hingga pasca-Ramadan.
Dengan integrasi gagasan dari pimpinan universitas dan refleksi spiritual pembicara utama, Grand Opening SAFIR 1447 H menegaskan posisi Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter. Lentera iman yang dinyalakan sejak awal diharapkan mampu menuntun sivitas akademika UII menjalani Ramadan secara sadar, konsisten, dan berdampak nyata. (IMK/AHR/RS)





