• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Menyulap Kelemahan Menjadi Peluang
Berita Kegiatan, Covid19

Menyulap Kelemahan Menjadi Peluang

Menjadi pengusaha sukses haruslah memiliki pola pikir yang tidak biasa. Seperti dalam melihat sebuah kelemahan. Siapa sangka suatu kekurangan justru dapat disulap menjadi peluang. Sebagai contoh situasi yang tidak menguntungkan seperti pandemi menyimpan peluang bisnis bagi pengusaha yang kreatif dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sebagaimana disampaikan Ahmad Syukron, S.E. atau yang akrab dipanggil Roni dalam webinar bertajuk Entrepreneurship di Masa Pandemi yang diadakan di UII belum lama ini. 

“Kondisi ini harus kita lalui, bukan malah menjadi penghambat, karena kita juga tidak bisa terus menyalahkan pandemi. Kita perlu bangkit untuk memulihkan ekonomi. Cari peluang dan berinovasi lah. Saat ini lebih banyak mahasiswa yang hanya dapat melihat kekurangan yang mereka miliki, tetapi lupa bahwasannya mereka juga memiliki kekuatan yang belum mereka gali”, ungkap pria yang telah lama berkecimpung di bidang sablon dan konveksi ini.

Founder brand Mulkatra dan Atelier menyebut ada tiga hal yang perlu dimiliki pengusaha yaitu critical thinking, creative thinking, dan curiosity. “Critical thinking serta creative thinking sangat perlu diasah di zaman ini. Di zaman yang serba teknologi, yang mana semua hal bisa dilakukan oleh robot namun tidak dengan kedua hal tersebut. Selain itu kita juga perlu memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi. Hal ini diperlukan agar kita dapat mengembangkan usaha yang kita miliki”, imbuh alumni UII tersebut.

Ia juga selalu menanamkan motto “buat tidak nyaman diri sendiri”. Tujuannya tidak lain adalah membentuk pola pikir bertahan hidup. Sejalan dengan motto itu, ia bahkan rela tidur di sebuah karpet dibanding kasur empuk agar tidak terlalu nyaman menghabiskan waktu untuk bersantai. 

Senada, pembicara berikutnya, dr Gamal Albinsaid, M. Biomed juga menegaskan untuk segera bangkit dari keterpurukan pandemi. “Pandemi membawa dua perubahan besar yaitu meningkatkan keterlibatan teknologi digital dalam kehidupan dan perubahan psikologis konsumen. Banyak bisnis digital yang bertumbuh pesat di masa pandemi. Kita sudah seharusnya melihat ini sebagai sebuah peluang.” imbuh CEO Indonesia Medika Sociopreneur itu.

Gamal Albinsaid juga membagikan tiga tips merespon pandemi bagi sebuah usaha. “Pertama solving the now, menumbuhkan bisnis yang ada, memaksimalkan keuntungan, dan merespons tantangan langsung yang kita hadapi. Kedua, exploring the next, merespon tantangan dan peluang jangka menengah, sebagian besar dari terobosan di sektor Anda. Ketiga, imaging the beyond, merespons untuk transformasi, peluang, dan tantangan jangka panjang dari global, megatrend lintas sektor”, imbuhnya.

Di sisi lain, ia menekankan menjadi pengusaha bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan sebuah kesiapan mental. Seorang pengusaha musti siap untuk kehilangan kesenangan di masa sekarang untuk mendapatkan kesenangan di masa depan. 

“Setidaknya ada beberapa hal yang harus anda pertahankan jika memutuskan untuk berwirausaha, antara lain, meninggalkan gaji tetap, mengorbankan tabungan pribadi, menghadapi kerugian, menghadapi analisis bisnis yang salah, dan kehilangan tim. Banyak orang mendirikan sebuah usaha namun gagal karena mereka menciptakan sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh banyak konsumen. Untuk itulah kita perlu yang namanya berpikir kreatif dan inovatif dalam berwirausaha”, pungkasnya. (HIM/ESP)

22 Maret 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/07/market-behavior-uii.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-03-22 17:30:072021-03-22 17:37:24Menyulap Kelemahan Menjadi Peluang

Berita Terakhir

  • UII Buka PPDS Patologi Klinik, Perkuat Kemitraan dengan Pemkab Sragen
  • UII dan Badilag MA RI Gelar Seminar Nasional, Bahas Arah Baru Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Era Digital
  • UII Lepas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat SINERA 2026 ke Kabupaten Buton
  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • FIAI UII Gelar Diskusi Kajian Turats Bahas Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Ilmu Sosial

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Ilmu Marketing Dibutuhkan dalam Mengelola Perguruan Tinggi Link to: Ilmu Marketing Dibutuhkan dalam Mengelola Perguruan Tinggi Ilmu Marketing Dibutuhkan dalam Mengelola Perguruan Tinggi Link to: Membebaskan Diri dari Belenggu Diskriminasi Ras Link to: Membebaskan Diri dari Belenggu Diskriminasi Ras Membebaskan Diri dari Belenggu Diskriminasi Ras Scroll to top Scroll to top Scroll to top