Menjadi pengusaha sukses haruslah memiliki pola pikir yang tidak biasa. Seperti dalam melihat sebuah kelemahan. Siapa sangka suatu kekurangan justru dapat disulap menjadi peluang. Sebagai contoh situasi yang tidak menguntungkan seperti pandemi menyimpan peluang bisnis bagi pengusaha yang kreatif dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sebagaimana disampaikan Ahmad Syukron, S.E. atau yang akrab dipanggil Roni dalam webinar bertajuk Entrepreneurship di Masa Pandemi yang diadakan di UII belum lama ini. 

“Kondisi ini harus kita lalui, bukan malah menjadi penghambat, karena kita juga tidak bisa terus menyalahkan pandemi. Kita perlu bangkit untuk memulihkan ekonomi. Cari peluang dan berinovasi lah. Saat ini lebih banyak mahasiswa yang hanya dapat melihat kekurangan yang mereka miliki, tetapi lupa bahwasannya mereka juga memiliki kekuatan yang belum mereka gali”, ungkap pria yang telah lama berkecimpung di bidang sablon dan konveksi ini.

Founder brand Mulkatra dan Atelier menyebut ada tiga hal yang perlu dimiliki pengusaha yaitu critical thinking, creative thinking, dan curiosity. “Critical thinking serta creative thinking sangat perlu diasah di zaman ini. Di zaman yang serba teknologi, yang mana semua hal bisa dilakukan oleh robot namun tidak dengan kedua hal tersebut. Selain itu kita juga perlu memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi. Hal ini diperlukan agar kita dapat mengembangkan usaha yang kita miliki”, imbuh alumni UII tersebut.

Ia juga selalu menanamkan motto “buat tidak nyaman diri sendiri”. Tujuannya tidak lain adalah membentuk pola pikir bertahan hidup. Sejalan dengan motto itu, ia bahkan rela tidur di sebuah karpet dibanding kasur empuk agar tidak terlalu nyaman menghabiskan waktu untuk bersantai. 

Senada, pembicara berikutnya, dr Gamal Albinsaid, M. Biomed juga menegaskan untuk segera bangkit dari keterpurukan pandemi. “Pandemi membawa dua perubahan besar yaitu meningkatkan keterlibatan teknologi digital dalam kehidupan dan perubahan psikologis konsumen. Banyak bisnis digital yang bertumbuh pesat di masa pandemi. Kita sudah seharusnya melihat ini sebagai sebuah peluang.” imbuh CEO Indonesia Medika Sociopreneur itu.

Gamal Albinsaid juga membagikan tiga tips merespon pandemi bagi sebuah usaha. “Pertama solving the now, menumbuhkan bisnis yang ada, memaksimalkan keuntungan, dan merespons tantangan langsung yang kita hadapi. Kedua, exploring the next, merespon tantangan dan peluang jangka menengah, sebagian besar dari terobosan di sektor Anda. Ketiga, imaging the beyond, merespons untuk transformasi, peluang, dan tantangan jangka panjang dari global, megatrend lintas sektor”, imbuhnya.

Di sisi lain, ia menekankan menjadi pengusaha bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan sebuah kesiapan mental. Seorang pengusaha musti siap untuk kehilangan kesenangan di masa sekarang untuk mendapatkan kesenangan di masa depan. 

“Setidaknya ada beberapa hal yang harus anda pertahankan jika memutuskan untuk berwirausaha, antara lain, meninggalkan gaji tetap, mengorbankan tabungan pribadi, menghadapi kerugian, menghadapi analisis bisnis yang salah, dan kehilangan tim. Banyak orang mendirikan sebuah usaha namun gagal karena mereka menciptakan sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh banyak konsumen. Untuk itulah kita perlu yang namanya berpikir kreatif dan inovatif dalam berwirausaha”, pungkasnya. (HIM/ESP)